.Mengenal Pendekatan
Kontekstual
(Contextual
Teaching and Learning/ CTL)
Oleh :
Anne A. Permatasari
Begitu
akrabnya istilah CTL di telinga kita , bahkan jauh sebelum gaung
standar-standar sekolah (SSN,SBI) digemakan di dunia pendidikan ini. Pertanyaannya sejauh mana sih CTL ini dikenal dan dipahami? Bagian kali ini,
mencoba untuk mengenal, mengkaji, dan memahami ; apa, bagaimana, aplikasi serta
evaluasi yang telah dilaksanakan selama ini.
Manusia belajar, mendapatkan pengetahuan berdasarkan pengalaman. Pengalaman tidak serta merta berubah wujud menjadi sebuah pengetahuan tetapi
bertahap. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta atau konsep yang siap diterima/ dihapal, tetapi
merupakan sesuatu yang harus didapatkan dan dibangun oleh siswa. Pengalaman
bisa menjadi ilmu pengetahuan yang menetap dan berterima oleh masyarakat pada umumnya jika tidak hanya merupakan kajian yang susah untuk
dimengerti tapi dapat dimaknai melalui pengalaman nyata. Pernyataan itulah yang
konon mendasari Pendekatan Konstektual.
CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru untuk
mengaitkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata/ kehidupan sehari-hari
siswa, sehingga mampu mendorong siswa membuat pengetahuannya bisa diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Proses
pembelajarannya, bukan dengan cara mentransfer ilmu dari guru pada siswa tetapi
merupakan proses kegiatan siswa bekerja
dan mengalami. Dalam konteks itu,
siswa digiring untuk mengerti, mengapa mereka harus mempelajari materi itu?Apa
manfaatnya untuk mereka? Dan bagaimana cara mencapainya? Tugas guru bukan
sebagai pemberi informasi tapi sebagai fasilitator yang mengolah kegiatan siswa
untuk bekerja sama menemukan sesuatu
yang baru berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Berdasarkan itulah maka proses yang selama ini
berpusat kepada guru (Teacher oriented)berubah pada pemusatan bagaimana cara siswa
belajar. Pada tahap ini yang terpenting
adalah bagaimana strategi dan proses belajar berlangsung dan hasil pembelajaran
tidak merupakan tujuan utama.
Ada tujuh komponen yang terlibat dalam pembelajaran
ini, yaitu :Konstruktivisme,
dalam tahap inidikembangkan pemikiran
bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan,
dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Questioning, guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada
kegiatan siswa menemukan sesuatu, apapun materi pembelajarannya. Inquiry, kegiatan ini berakar pada
pengembangan aspek bertanya karena
pengetahuan akan selalu bermula dari pertanyaan/ keingintahuan. Hal ini diupayakan terjadi
antara guru- siswa, siswa-siswa, atau siswa dengan narasumberlainnya. Learning community, tahap ini
merupakan bagian yang sangat penting dalam CTL, karena dengan cara
berkelompoklah siswa akan mendiskusikan sesuatu, saling berbagi, saling bantu,
hingga akhirnya mampu membentuk pengetahuan baru.Modeling ,dalam sebuah pembelajaran keterampilan, diperlukan model
untuk ditiru, karena bagaimanapun belajar dengan cara meniru merupakan cara yang paling mudah untuk
diikuti. Yang perlu diperhatikan adalah cara supaya siswa bisa mengadaptasi,
mengembangkan modelnya menjadi sesuatu yang baru dan tidak menjadi plagiator
belaka. Model dalam pembelajaran, tidak hanya guru tapi juga bisa siswa atau
narasumber lainnya. Authentic
Assessment, pada dasarnya, assessment
adalah proses pengumpulan data yang menggambarkan perkembangan belajar siswa.
Dengan cara itu, guru akan mudah memberikan bantuan pada saat siswa mengalami
kesulitan belajar, dan data yang
didapat dari kegiatan nyata itulah yang disebut data autentik. Penilaian hasil
belajar tidak bergantung pada tes akhir sebuah materi pembelajaran.
Praktik pembelajaran yang konstektual, memerlukan lima
elemen penting yaitu :
1. Pengaktifkan pengetahuan yang sudah ada,
2. Pemerolehan pengetahuan yang baru dengan
mempelajari keseluruhan kemudian menganalisis detilnya.
3. Pemahaman pengetahuan, dengan cara menyusun
hipotesis, sharing untuk mendapat
validasi/ tanggapan, revisi dan pengembangan konsep.
4. Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman
tersebut,
5. Melakukan refleksi terhadap strategi
pengembangan pengetahuan tersebut. ( Zahorik,1995).
Jika kita menelaah prinsif-prinsif dasar CTL tadi, sepertinya kita
tidak perlu berkecil hati dan menganggap betapa CTL ini merupakan hal baru yang
sulit dipraktikan.Setelah bertahun-tahun kita “berlaga” di lapangan, kita tinggal mengkaji, apakah
selama ini pendekatan pembelajaran kita betul-betul sudah sesuai dengan CTL
tersebut?Atau baru sebagian yang kita laksanakan?Atau malah benar-benar
bertolak belakang?
Sebenarnya beberapa tahap sudah kita laksanakan secara
alami sebelum kita mengenal CTL. Untuk mengembangkan tahap pertama, kita sebagai
guru yang lahir dari proses pembelajaran
yang berorientasi pada materi sehingga guru merupakan satu-satunya narasumber
yang benar, serba tahu, dan pemilik kegiatan belajar, perlu berproses untuk
mendidik diri sendiri dan menyadari, bahwa kita hanyalah fasiltitator. Fungsi ini sebenarnya lebih meringankan kita.
Kita tidak usah merasa bahwa kita tidak boleh kalah dengan siswa. Kita
akan merasa malu jika tidak dapat menjawab pertanyaan siswa, Kita bukanlah
superior lagi. Kita, adalah manusia yang sama-sama sedang belajar.Tahap kedua, kita selalu terbentur pada
fasilitas yang ada sehingga sulit kita menciptakan sebuah proses pembelajaran
yang bisa menciptakan suasana “penemuan”
bagi siswa. Ini merupakan tantangan bagi kita untuk mengubah paradigma lama dan
membuat fasilitas apapun bisa menjadi sumber belajar yang tepat. Yang agak sulit adalah tahap ketiga yaitu
merangsang siswa untuk bertanya, budaya takut salah membuat siswa
memendam rasa ingin tahu mereka dan menunggu “durian jatuh” untuk mendapatkan
pengetahuan baru melalui pengalaman temannya, sehingga kepuasan belajar hanya
didapatkan oleh siswa yang berani dan aktif. Tahap keempat dan kelima yaitu
belajar berkelompok dan pemodelan, kedua hal ini sepertinya bukan hal baru
bagi kita dan siswa, yang perlu kita kembangkan adalah bagaimana membuat
kelompok lebih bermakna, semua anggota mendapatkan manfaat, porsi, kesempatan,
dan kedudukan yang sama, atau mengkondisikan siswa yang memiliki standar
kemampuan yang sama dalam satu kelompok. Tahap
keenam merupakan penilaian perkembangaan belajar siswa atau disebut juga
dengan penilaian proses. Yang
menjadi pokok permasalahan biasanya terjadi pada kelas “gemuk”. Kita sering
kewalahan untuk melakukan penilaian proses belajar individu dengan jumlah siswa
yang banyak dan waktu yang terbatas,
apalagi dengan banyak aspek yang dinilai.
Ideal memang
pendekatan CTL yang dipaparkan tadi. Tapi perlu diperhatikan pula input,
dan imperemental input yang tersedia. Jika input di atas rata-rata (hasil
saringan ketat), ketersediaan bahan dan alat penunjang lengkap, serta SDM yang
layak dan profesional, semua tujuan mungkin akan tercapai. Banyak yang
diuntungkan, guru lebih ringan mengajar
dengan memfungsikan diri sebagai fasilitator yang inovatif. Siswa menjadi lebih aktif, produktif, dan siap mengahapi
tantangan baru.
Sebaliknya jika
pendekatan CTL kita paksa pakai pada keragaman potensi input yang rendah
maka yang terjadi bukanlah pembelajaran yang “hidup” tetapi akan “mati”. Kelas
akan menjadi sunyi senyap, tidak ada keberanian mengemukakan pendapat,, atau
malah “gegap gempita”, karena yang terjadi adalah obrolan antarsiswa, sementara
tujuan pembelajaran tidak tercapai sama sekali.
Ini harus
menjadi sebuah mata rantai. Langkah awal bisa dengan cara menyaring dan
mengelompokkan siswa sesuai potensi. Kita bisa mulai memilah di kelompok mana
teknik pembelajaran tersebut biasa digunakan secara utuh, sebagian, atau malah
tidak memungkinkan dipakai sama sekali.
Dalam keragaman potensi, kita bisa mulai dengan cara
berjenjang. Di tingkat SMP, siswa kelas 7 dimulai dengan rangsangan untuk
keberanian, guru bertindak sebagai penggali potensi dan perangsang keberanian.
Di kelas 8, Guru mengembangkan potensi dan memupuk keberanian, dan di kelas 9,
barulah siswa dipacu untuk bergerak lebih aktif , berinisiatif dan menemukan
sendiri. Di tingkat ini, secara alami, siswa dengan potensi “lebih” akan menjadi
leader untuk teman lainnya.
Sepertinya bertele-tele tapi ini adalah pendidikan yang telah
disepakati sebagai suatu “proses”, tidak bisa hasilnya terukur saat itu juga.
Jadi, pelan tapi pasti, kita menuju kompetensi yang telah ditetapkan, dengan
teknik yang tidak bisa dan tidak boleh dipaksakan walau tetap diupayakan.
Hingga proses pembelajaran tidak akan kaku, guru nyaman mengajar dengan style-nya sendiri dan siswa tenang
karena gurunya senang mengajar mereka, timbul suasana yang menyenangkan, dan
hasilnyapun, Insya Allah akan mencengangkan!
Penulis
adalah seorang pendidik
(Terbit
Garoet Pos,22-28 April 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar