Rabu, 24 Juli 2013

CTL


.Mengenal Pendekatan Kontekstual
(Contextual Teaching and Learning/ CTL)
Oleh : Anne  A. Permatasari
Begitu akrabnya istilah CTL di telinga kita , bahkan jauh sebelum gaung standar-standar sekolah (SSN,SBI) digemakan di dunia pendidikan ini.  Pertanyaannya sejauh mana sih CTL ini  dikenal dan dipahami? Bagian kali ini, mencoba untuk mengenal, mengkaji, dan memahami ; apa, bagaimana, aplikasi serta evaluasi yang telah dilaksanakan selama ini.
Manusia belajar, mendapatkan pengetahuan berdasarkan pengalaman.  Pengalaman tidak  serta merta berubah  wujud menjadi sebuah pengetahuan tetapi bertahap. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta atau  konsep yang siap diterima/ dihapal, tetapi merupakan sesuatu yang harus didapatkan dan dibangun oleh siswa. Pengalaman bisa menjadi ilmu pengetahuan yang menetap dan berterima oleh masyarakat  pada umumnya jika  tidak hanya merupakan kajian yang susah untuk dimengerti tapi dapat dimaknai melalui pengalaman nyata. Pernyataan itulah yang konon mendasari Pendekatan Konstektual.
CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru untuk mengaitkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata/ kehidupan sehari-hari siswa, sehingga mampu mendorong siswa membuat pengetahuannya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.  Proses pembelajarannya, bukan dengan cara mentransfer ilmu dari guru pada siswa tetapi merupakan proses kegiatan siswa bekerja  dan mengalami.  Dalam konteks itu, siswa digiring untuk mengerti, mengapa mereka harus mempelajari materi itu?Apa manfaatnya untuk mereka? Dan bagaimana cara mencapainya? Tugas guru bukan sebagai pemberi informasi tapi sebagai fasilitator yang mengolah kegiatan siswa untuk bekerja sama menemukan sesuatu yang baru berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Berdasarkan itulah maka proses yang selama ini berpusat kepada guru (Teacher oriented)berubah  pada pemusatan bagaimana cara siswa belajar.  Pada tahap ini yang terpenting adalah bagaimana strategi dan proses belajar berlangsung dan hasil pembelajaran tidak  merupakan tujuan utama.
Ada tujuh komponen yang terlibat dalam pembelajaran ini, yaitu :Konstruktivisme, dalam  tahap inidikembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Questioning, guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan siswa menemukan sesuatu, apapun materi pembelajarannya. Inquiry, kegiatan ini berakar pada pengembangan aspek bertanya  karena pengetahuan akan selalu bermula dari pertanyaan/  keingintahuan. Hal ini diupayakan terjadi antara guru- siswa, siswa-siswa, atau siswa dengan narasumberlainnya. Learning community, tahap ini merupakan bagian yang sangat penting dalam CTL, karena dengan cara berkelompoklah siswa akan mendiskusikan sesuatu, saling berbagi, saling bantu, hingga akhirnya mampu membentuk pengetahuan baru.Modeling ,dalam sebuah pembelajaran keterampilan, diperlukan model untuk ditiru, karena bagaimanapun belajar dengan cara meniru  merupakan cara yang paling mudah untuk diikuti. Yang perlu diperhatikan adalah cara supaya siswa bisa mengadaptasi, mengembangkan modelnya menjadi sesuatu yang baru dan tidak menjadi plagiator belaka. Model dalam pembelajaran, tidak hanya guru tapi juga bisa siswa atau narasumber lainnya. Authentic Assessment, pada dasarnya, assessment adalah proses pengumpulan data yang menggambarkan perkembangan belajar siswa. Dengan cara itu, guru akan mudah memberikan bantuan pada saat siswa mengalami kesulitan belajar, dan data   yang didapat dari kegiatan nyata itulah yang disebut data autentik. Penilaian hasil belajar tidak bergantung pada tes akhir sebuah materi pembelajaran.
Praktik pembelajaran yang konstektual, memerlukan lima elemen penting yaitu :
1.     Pengaktifkan pengetahuan yang sudah ada,
2.     Pemerolehan pengetahuan yang baru dengan mempelajari keseluruhan kemudian menganalisis detilnya.
3.     Pemahaman pengetahuan, dengan cara menyusun hipotesis, sharing untuk mendapat validasi/ tanggapan, revisi dan pengembangan konsep.
4.     Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut,
5.     Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.                   ( Zahorik,1995).

Jika kita menelaah prinsif-prinsif dasar CTL tadi, sepertinya kita tidak perlu berkecil hati dan menganggap betapa CTL ini merupakan hal baru yang sulit dipraktikan.Setelah bertahun-tahun kita “berlaga” di   lapangan, kita tinggal mengkaji, apakah selama ini pendekatan pembelajaran kita betul-betul sudah sesuai dengan CTL tersebut?Atau baru sebagian yang kita laksanakan?Atau malah benar-benar bertolak belakang?
Sebenarnya beberapa tahap sudah kita laksanakan secara alami sebelum kita mengenal CTL. Untuk mengembangkan tahap pertama, kita  sebagai guru yang  lahir dari proses pembelajaran yang berorientasi pada materi sehingga guru merupakan satu-satunya narasumber yang benar, serba tahu, dan pemilik kegiatan belajar, perlu berproses untuk mendidik diri sendiri dan menyadari, bahwa kita hanyalah fasiltitator.  Fungsi ini sebenarnya lebih meringankan  kita.  Kita tidak usah merasa bahwa kita tidak boleh kalah dengan siswa. Kita akan merasa malu jika tidak dapat menjawab pertanyaan siswa, Kita bukanlah superior lagi. Kita, adalah manusia yang sama-sama sedang belajar.Tahap kedua, kita selalu terbentur pada fasilitas yang ada sehingga sulit kita menciptakan sebuah proses pembelajaran yang bisa  menciptakan suasana “penemuan” bagi siswa. Ini merupakan tantangan bagi kita untuk mengubah paradigma lama dan membuat fasilitas apapun bisa menjadi sumber belajar yang tepat.  Yang agak sulit adalah tahap ketiga yaitu  merangsang siswa untuk bertanya, budaya takut salah membuat siswa memendam rasa ingin tahu mereka dan menunggu “durian jatuh” untuk mendapatkan pengetahuan baru melalui pengalaman temannya, sehingga kepuasan belajar hanya didapatkan oleh siswa yang berani dan aktif. Tahap keempat  dan kelima yaitu belajar berkelompok dan pemodelan, kedua hal ini sepertinya bukan hal baru bagi kita dan siswa, yang perlu kita kembangkan adalah bagaimana membuat kelompok lebih bermakna, semua anggota mendapatkan manfaat, porsi, kesempatan, dan kedudukan yang sama, atau mengkondisikan siswa yang memiliki standar kemampuan yang sama dalam satu kelompok. Tahap keenam merupakan penilaian perkembangaan belajar siswa atau disebut juga dengan penilaian proses. Yang menjadi pokok permasalahan biasanya terjadi pada kelas “gemuk”. Kita sering kewalahan untuk melakukan penilaian proses belajar individu dengan jumlah siswa yang banyak dan  waktu yang terbatas, apalagi dengan banyak aspek yang dinilai.
Ideal memang  pendekatan CTL yang dipaparkan tadi. Tapi perlu diperhatikan pula input, dan imperemental input yang tersedia. Jika input di atas rata-rata (hasil saringan ketat), ketersediaan bahan dan alat penunjang lengkap, serta SDM yang layak dan profesional, semua tujuan mungkin akan tercapai. Banyak yang diuntungkan, guru lebih ringan mengajar  dengan memfungsikan diri sebagai fasilitator yang inovatif. Siswa menjadi lebih aktif, produktif, dan siap mengahapi tantangan baru.
Sebaliknya jika  pendekatan CTL kita paksa pakai pada keragaman potensi input yang rendah maka yang terjadi bukanlah pembelajaran yang “hidup” tetapi akan “mati”. Kelas akan menjadi sunyi senyap, tidak ada keberanian mengemukakan pendapat,, atau malah “gegap gempita”, karena yang terjadi adalah obrolan antarsiswa, sementara tujuan pembelajaran tidak tercapai sama sekali.
Ini  harus menjadi sebuah mata rantai. Langkah awal bisa dengan cara menyaring dan mengelompokkan siswa sesuai potensi. Kita bisa mulai memilah di kelompok mana teknik pembelajaran tersebut biasa digunakan secara utuh, sebagian, atau malah tidak memungkinkan dipakai sama sekali.
Dalam keragaman potensi, kita bisa mulai dengan cara berjenjang. Di tingkat SMP, siswa kelas 7 dimulai dengan rangsangan untuk keberanian, guru bertindak sebagai penggali potensi dan perangsang keberanian. Di kelas 8, Guru mengembangkan potensi dan memupuk keberanian, dan di kelas 9, barulah siswa dipacu untuk bergerak lebih aktif , berinisiatif dan menemukan sendiri. Di tingkat ini, secara alami, siswa dengan potensi “lebih” akan menjadi leader untuk teman lainnya.
Sepertinya bertele-tele  tapi ini adalah pendidikan yang telah disepakati sebagai suatu “proses”, tidak bisa hasilnya terukur saat itu juga. Jadi, pelan tapi pasti, kita menuju kompetensi yang telah ditetapkan, dengan teknik yang tidak bisa dan tidak boleh dipaksakan walau tetap diupayakan. Hingga proses pembelajaran tidak akan kaku, guru nyaman mengajar dengan style-nya sendiri dan siswa tenang karena gurunya senang mengajar mereka, timbul suasana yang menyenangkan, dan hasilnyapun, Insya Allah akan mencengangkan!
Penulis adalah seorang pendidik

(Terbit Garoet Pos,22-28 April 2009)













Tidak ada komentar:

Posting Komentar