Sabtu, 19 November 2016

FIKSI 3

Entah (3)

     Sejak gemintang meluruh petang itu, aku merasa enggan untuk pulang. Aku merasa tak ada lagi yang bisa membuatku harus pulang. Asa tlah terkubur di teras rumah bundaku.
     Sekali itu sepanjang hidupku , kepulangan mengubah dunia ceriaku. Melambat pelan seperti tersesat pada sebuah putusan.
     Aku kembali pada sebuah janji yang kusepakati. Mengikhlaskan hati dalam menerima. " Hidupku" tersurat jelas pada garis tanganku.
" Kau baik-baik saja kan ?" hanya itu tanyanya.
 Merengkuhku kembali ke sangkarnya yang nyaman. Kali ini, rasa salah menderaku.
     Telahkah kugadaikan hati untuk cinta masa kecilku? Tegakah aku menyakiti pualam yang tlah kumiliki? Tapi... dapatkah kutanggung resahnya gelisah, pedihnya kasih, baranya cinta, pada setia yang melingkar di jari manisku?
Entahlah.

     Sampai suatu hari, Bunda bercerita bahwa lelaki yang kehilangan gemintang matanya itu dipertemukan Ayah dengan salah satu murid pesantren kakekku, Arsy.
       Berpedarlah rasa hatiku. Kali ini, aku ingin pulang. Aku rindu untuk menatap kilat matanya sebelum dia pergi meninggalkan kehidupan kami. Sebelum renta memakan sisa usia. Walau dalam hatiku, aku tahu.  Sebenarnya aku hanya ingin melihat:  adakah bahagia di matanya?

     " Jangan!" Bunda melarangku menemuinya.
" Aku hanya ingin mengucapkan selamat, Bunda," rengekku.
     Bunda menggeleng. Tegas tak terbantah. Bunda yang memiliki sikap. Bunda yang tabah menyulam keping hatinya saat terbuang dari keluarganya dulu. Bunda yang dengan yakin menyuruhku segera kembali. Sebelum aku berubah haluan dan harapan berpijar di teras rumahnya, dulu.

     "Ka..." suaraku gemetar menyapanya.
Senyap di ujung telepon. Serasa musim berkali ganti. Lengang.
" De..?" akhirnya ragu memecah sunyi terpanjang kami.
Aku tahu, dia mengumpulkan nyali untuk percaya, itu aku.
"Selamat ya.." kali ini, entah terucap atau tidak.
Sembilu mengiris tajam kerongkonganku.
Luka nganga. Dia membisu.

     Coba katakan padaku:
" Bagaimana bisa kuikhlaskan perginya jika suaranya saja mampu menggetarkan seluruh pertaruhan hidupku?"
Bohong semua!
Aku mencintainya.

     Berlari aku mengejar waktu. Tapi dermaga telah kosong.
Menatap dari kejauhan, biduk tlah terkayuh.
Dermaga bersisian dengan senyap.
Sekeping masa lalupun meruap.

     "Sungguh memerihkan. Berterima kepedihan, tanpa bisa menemukan siapa yang dapat kita salahkan atas kepedihan itu" (060216).




 Entah (4)

     "Aku tahu kau tak bahagia," ucapnya.
Petir menyambar tengah hari itu. 
Sia-sia aku menutupi sisa tangis saat menatap dermaga yang  kosong, dulu.
Sia-sia aku merenda hari dengan ceria  yang penuh dusta.
Sia-sia, jika ujung malam kuhabiskan dengan menunggu dering berbunyi. Berharap dia berbagi. Mengatakan tentang rasa yang sama, atau mengabarkan bahwa dia kini telah memiliki bahagia. Aku tak perduli lagi. Sia- sia pula, jika setiap pulang mencoba mengorek kabar dari Bunda.
Dia hilang tak berjejak. 
            *********
   " Kau telah berusaha dengan baik. Bertahun menerima ruah kasihku dengan sempurna. Tapi aku takut, De.... penerimaanmu, tabahmu, perjalananmu sia-sia .” 
Hari melambat ke ujung.
Tak ada pembelaan bahkan penerimaan dariku.
    " De, cinta adalah penerimaan dan ikhlas bukanlah ujung.  Ikhlas adalah proses perjalanannya.” 
Dia menggenggam tanganku, melembut di jemari manisku.
     " Besok, aku akan mengantarmu pulang pada Bunda. Pulang dengan penuh kemuliaan. Tak ada jalan lain.  Kita harus berakhir. "  Ujungnya memelan, getar terbenam di dalam.
Lugas, pasrah dan tegas, itulah pualamku.

    Sejenak, waktu terhenti. Diam adalah jalan terbaik. Berargumentasi dengan nurani. Sendiri.
Kehilangan-- bagaimanapun, akan selalu menjadi lengang yang panjang.
*****

   Bunda telah menunggu di beranda. Tak ada kecewa atau patah di matanya. Memeluk untuk terakhir kali sosok itu. Berterima kasih dengan sangat pelan.
      Sejenak mereka mematung saling menatap. Tak perlu penjelasan. Cinta memberikan mereka bentuk pengertian, pemahaman, dan penghargaan.
     Tiba- tiba aku merasa takut.  Merasa sendiri dan terasing di antara keduanya.
*****
    
     Tak pernah ada tanya dari Bunda. Tapi aku tahu, aku bukan lagi putri semata wayangnya yang bisa merengek manja untuk mendapat apa yang ku damba.
Aku wanita yang tengah belajar menjadi dewasa.   Aku akan   menghabiskan usia dengan berdzikir sampai senja tiba.

    Ya. Jika-- seperti katanya, cinta adalah penerimaan. Maka aku akan menerima semua detik waktu dengan menunggu. Dan jika--seperti katanya,  ikhlas adalah proses, maka aku akan menghabiskan senja dengan keihlasan.  Tanpa tahu, dia akan pulang atau tidak.



  

 Entah (5)
    Genap sewindu dari pertemuan kami di depan danau dulu. Dia pulang dengan kabarnya. Hampir tak ada yang berubah. Arsy cantiknya telah tiada dan meninggalkan satu mutiara untuknya.
     Aku menghela nafas. Sebuah kenaifan jika aku merasa lega atas takdir yang tiba begitu saja di depan mata, kini. Mestinya aku malu jika merasa  jalanku  tak kan berliku lagi.   
     Setelah waktu menderaku dengan seuntai dosa dan asa, salahkah jika aku berharap memulai pagiku yang baru? Hingga siang bukan lagi sebuah penantian panjang. Dan senja, dia akan tiba dengan seikat bunga. Begitu nyata.
Seuntai mimpi masa kecil menghampar di depan mata.
Begitu indah.

          Sampai seseorang menghadangku... Bunda. (70216)


     
 Entah (6)
     Aku tak mengerti, Bunda sepertinya bersikeras menghadang niat kami. Padahal aku tahu, lelaki yang pernah kehilangan gemintang itu adalah murid kesayangan Kakek. Buah hati Ayah dan Bunda yang tak pernah memiliki putra. Lelaki yang mungkin dahulu pernah diharapkan mereka menjadi anak sendiri.
     Aku tengah bercengkrama dengan Tiara, anak perempuannya yang sudah hampir 4 bulan dititipkan di rumah Bunda. Ayahnya tengah mengikuti pendidikan di negara tetangga untuk setahun lamanya. Semenjak Arsyi pergi, tempat mereka pulang adalah rumah Bunda. Rumah berjuta kenangan.
     Tiara mengisi hariku dengan sempurna. Siapa yang tak jatuh cinta padanya? Dengan sekejap, semua dunia berpaling ke padanya. Usianya hampir tiga tahun.
     Bunda begitu memperhatikannya, sampai urusan pengasuhanpun tak beliau berikan pada orang lain. Kami bersama-sama mengurusnya. Kata Bunda, seusia itulah pula ayahnya dulu masuk ke pesantren kakek.
     Bunda tak pernah protes jika aku memberikan sepenuh hariku untuknya. Beliau terlihat bahagia, semestinya akulah yang memberikan cucu secantik itu untuknya.
" Ya aku mau, Bunda," binar mataku ketika bunda menyampaikannya.
" Kalau begitu, cepatlah kau carikan calon bapaknya!"
" Jadi... Bunda tetap tak kan mengizinkan kami?" Aku merajuk.
     Bunda menggeleng. Berbulan itu, kami berdua mencoba melunakkan hati bunda. kami fikir dengan adanya Tiara, bunda meluluh.  Benar. Bunda meluluh dan dengan cepat menerima Tiara. Ayahnyapun kembali menjadi bagian hidup Bunda tapi bukan untuk menjadi suami anak semata wayangnya. 
     Aku menyelidik ke mata bunda. Dia tersenyum dan meraih kepalaku. Mendekapnya dengan penuh kasih.
Senyumku mengembang, " Ada harapan", bisikku.
 Barangkali bunda hanya bergurau, hal yang tak pernah dilakukannya.
     " De, kau ingat siang itu, ketika kau bersikukuh menanyakan letak masa depanmu padanya?" aku mengangguk 
( Bagaimana tidak? Sore itu di bawah beringin depan danau kami, adalah masa pertamaku menerima rasa tak berharga, dan ditolak). 
" Kau pulang dengan sembab di matamu,"
( Ya sepanjang jalan itu, aku menangis, kecewa).
" Bunda sangat terkejut. Padahal sebelumnya Bunda berharap kalian pulang dengan rona merah di pipimu." 
(Aku menatap bunda).
" Kau tak tahu doa bunda saat kau pamit menemuinya. Bunda meminta Allah memberi kalian hal terbaik."
( Aku membisu, mengapa kini?)
" Bunda takkabur waktu itu Nak. Berfikir bahwa Allah akan menjawabnya sesuai keinginan Bunda yaitu kalian berdua akan bersatu."
( Lalu mengapa kini?)
"' Saat kau pulang, Bunda merasa petang menghitam. Kau tahu nak? melihat murung di matamu membuat Bunda berfikir untuk memcampuri urusan kalian. Kau tahu? sebenarnya Bunda bisa dan telah siap mengubah warna petangmu, saat itu ."
(Aku ingat, saat itu berusaha menghindari pandangan mata bersibobrok dengan bunda. Aku takut bunda melihat kehancuran, kekecewaan, dan perasaan tak berharga di mataku)
" Tapi sebelum sempat kutanyakan apa. 
Kau dengan pongah berkata: Aku hanya menganggap dia sebagai kakak kandungku sendiri, Bunda."
( Ah ya... Kuingat, kalimat yang kukarang sepanjang jalan pulang. Menghindari lukaku terbuka di depan Bunda) 
" Kau tahu? Detik itulah kau tuliskan garis tanganmu! Kau menempatkan dia sebagai saudara kandungmu. Kau memilih untuk tak menikah dengannya hingga Bunda menyimpulkan kau tak pernah mencintainya."
(Aku tersentak. Sesederhana itu?)
Entah. Tanpa jawaban pasti. 
"Kau paham mengapa Bunda menentang hubungan kalian sekarang? “ 
( Aku menggeleng).
" Kalian berdua sama-sama telah mengalami kehilangan walaupun berbeda alasan. Bunda takut, keinginan kalian bersatu hanya karena kalian merasa kesepian. Merasa senasib. Seperti halnya pelarian, kalian sebenarnya hanya butuh alasan untuk pembenaran. Bunda tak mau, kalian berdua terluka jika fondasi yang kalian miliki tak kuat. Jika itu terjadi, siapakah yang masih bisa Bunda miliki? Bunda takut kehilangan kalian berdua."
     Bunda menatap tajam mataku.
" Beri kalian jeda untuk berfikir. Memahami bahwa kalian akan lebih bahagia jika saling memiliki. Atau sebaliknya. Masa depan kalian masih panjang. Mungkin besok lusa, kalian berubah pendirian. Jangan terburu-buru. Cinta butuh keyakinan De. Sementara biarkan waktu menjawab. Kau paham? "
    Tak butuh jawaban. Itu adalah sebuah jawaban. 
Aku diam. Hangat menjalar kujur tubuh. Langit seperti mulai menegak dan bumi kokoh terpijak. 
    Tiba- tiba, aku merasa 30 tahun kehidupanku yang hilang, mulai terbayar. Ya aku harus bisa menjawabnya, nanti.


  
 Entah (episode terakhir)
      Seperti senja yang akan kuhadapi besok, senja ini, aku di bawah beringin depan danau kami, mulai mengeja takdirku. Mendzikirkan keikhlasan tanpa tuntutan apapun. Aku telah yakin benar, sejauh manapun kaki melangkah, hati berharap, jawabnya selalu yang terbaik.
     Sekali ini, seumur hidupku, aku baru merasakan datangnya senja tanpa beban. Aku membangun sebuah prasangka baik untuk hari esokku. 
      Pepatah bijak berkata bahwa "Dengan berprasangka baik, belum tentu kita berbuat baik, tapi itu adalah awal kebaikan. Dan berprasangka buruk bukan berarti kita berbuat buruk tetapi awal keburukan".
     Pagi, siang, senja, bahkan larutpun, kini aku bersedia membangun sebuah prasangka baik, bahwa: 
"Allah selalu selalu memberikan yang terbaik untukku dan itu, pasti!" 
( 150316).



                            **********************************************


    











FIKSI 2

Entah (2)

     Petang menghilang saat dia mengantarku ke depan teras rumah bundaku. Sepanjang jalan, hampir tak ada kata, tak ada genggam, apalagi pelukan. Saling menduga.
" Kau akan tinggal?" tanyanya lirih.
Aku kehilangan kata, menatap mata yang tak pernah bisa kulupa. Kilat matanya yang kini menghujam, memaksa dan menyimpan asa.
" Tinggallah...,” pintanya.
" Tinggallah ... untukku!" suaranya bergetar.
Sekali ini, untuk yang ketiga kalinya, "tinggal" memiliki banyak makna.
Ah... andai dulu.
"Tidak!" kataku. 
"Aku tak memiliki harapan untuk mencintaimu, ya ?" dia mendesakku.
Ah... andai dulu.
Aku menatap matanya yang menghampa.
Tak bergeming bahkan untuk mengulurkan  tangan.
Setia tergenggam di dalamnya.

     Cukup! Sekali saja seumur hidupku. Aku menatapnya dengan kepedihan nyata.
" Kau boleh mencintaiku dengan pengertian dan persepsi yang berbeda!" ucapku pelan.
       Bumi terdiam dalam denting sunyi ketika aku berbalik menyembunyikan mataku.
     Sungguh, aku tak mau menatap ribuan gemintang meluruh di matanya (050216).























Fiksi-Anne

FIKSI 1

Entah (1)

   " Katakan: tinggallah!" bisik hatiku menatap sorot matanya yang hampa. Cukup sedetik bagiku untuk memutuskan. Beringin kami depan danau itu mematung, menjadi saksi.
     Apa yang bisa kuharapkan dari masa itu? Bersama di masa kecil, bersekolah, mengaji bersama, bermain, menyemai benih- benih kehidupan. Aku sudah hafal dengan semua liku hidupnya. Sebatang kara dan bertumbuh di pesantren kecil kakekku. Apa yang menjadi tuju hidupnya? Selain sebuah rumah nyaman yang ingin ditinggali bersama istri dan anak-anaknya, kelak? Itu mimpinya. Yang lalu kutahu,  dia berusaha keras, mendapat beasiswa di tiap tingkat bahkan setelah bekerja di perusahaan besar.
    Itu hari terakhir kami bertemu. Aku memutuskan untuk bertanya, di manakah letak aku di masa depannya. Dia membisu ketika aku menyebutkan untuk pergi meninggalkan semua kenangan kecil sepanjang hidup dengannya.
   Keluargaku tlah memilihkan masa depanku. Aku akan menanyakannya, barangkali dia akan menghalangiku.
Tapi tidak! Sebuah alasan yang tak bisa kumengerti harus kuterima. Apa yang bisa memutuskan sebuah rasa bahkan sekedar kasta?

                                **************

    Aku terlena dengan dunia yang kusetujui. Terjebak oleh rutinitas sepanjang hari. Tak ada yang kusesali. Semua begitu indah. Aku terpenjara di dalamnya. Berpuluh purnama melewati malamku. Sampai akhirnya, aku tahu: aku tak bahagia.

                                *************

     Siang itu, dengan kepongahan yang tak lagi kumiliki, aku mengayun langkah ke bangku di bawah beringin yang masih rimbun. Tak ada yang berubah. Juga bangku kayu yang biasa ku duduki. Sosok itu terkejut melihatku. Menatap ku tajam.    
     Sekali inilah. Seumur hidupku, aku lihat kilatan di matanya.
" De...!" serunya.
Entah lembut, entah keras.
Entah harap, entah patah.
Entah bahagia, entah duka.
Aku tak tahu lagi.
    Yang ku yakin, tangisku meruah sepanjang petang itu
 ( 030216).






























Senin, 18 November 2013



Renungan

Menurut pendapat saya pribadi, Bapak telah berhasil membangkitkan minat untuk memperdalam ilmu teknologi informasi kepada para mahasiswa. Walaupun sedikit kewalahan dengan materi yang terus berjubel sampai kadang-kadang terasa overload, tapi saya menyadari bahwa hal tersebut terjadi bukan karena Bapak yang berambisi menginginkan semua pengetahuan teknologi yang Bapak miliki untuk dikuasai oleh para mahasiswa, juga bukan karena materinya yang terlalu canggih ( toh banyak pula teman yang lain yang dengan mulus-mulus saja mengikuti perkuliahan), tetapi lebih cenderung pada kemampuan diri saya pribadi yang sangat minim.
 Mahasiswa yang bertolak bukan dari latar belakang pendidikan teknik ataupun pelajaran eksakta, melainkan sosial/ bahasa, mungkin mengalami hal yang sama. Tetapi setelah mengikuti perkuliahan dengan Bapak, saya tidak lagi merasakan hal itu.  Dengan cara Bapak, keingintahuan malah berkembang dengan pesat. Tutorial pribadi yang Bapak berikan memberikan sebuah teguran pribadi serta sebuah masukan bahwa seperti inilah pelayanan yang sewajibnya dilakukan oleh seorang guru kepada siswanya (sesuai isi mata kuliah evaluasi pendidikan).
Style berpenampilan maupun mengajar Bapak membuat kenyamanan dalam ruangan maupun di luar ruangan, tetapi tetap mampu mempertahankan adanya sebuah batas yang jelas antara dosen dengan mahasiswa sehingga sejauh ini, sedekat apapun hubungan yang terbina , tidak ada indikasi keberanian mahasiswa yang melampaui batas. Intinya, banyak hal baru yang bisa saya serap dan saya adaptasi nanti.
Sekedar masukan, mengingat banyak perbedaan karakteristik mahasiswa, mungkin akan lebih arif jika Bapak mencoba memahami kesulitan mahasiswa secara menyeluruh. Sehingga kesulitan yang mereka hadapi dapat Bapak layani secara klasikal. Selain menghemat waktu dan tenaga Bapak (yang kerap selalu berikhlas hati memandu mahasiswa yang berani bertanya), juga akan memberikan pemahaman secara meluas juga.
Memang bukan waktunya lagi, mahasiswa program pasca dipandu sedemikian detil, tetapi untuk memberi peluang pada semua lapisan kemampuan dan keberanian yang berbeda, Bapak berkenan memandu materi-materi di dalam kelas dengan lebih terinci secara bersamaan. Akan tetapi, mohon tetap pula dipertahankan kesediaan Bapak menjadi narasumber di luar jam kuliah seperti yang telah terbiasa Bapak lakukan.
Mohon maaf, jika tidak berkenan. Semoga menjadi manfaat untuk kita semua. Terima kasih atas semua bimbingan Bapak. Jika telah kita mulai dengan bismillah, semuanya akan mendapatkan hikmah, Insya Allah.
                                    *******************


Manfaat Kuliah Teknologi Informasi

(sebuah pengalaman pribadi)

          Dimulai dari sebuah tuntutan bahwa manusia harus selalu berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Berpijak pada sebuah pemahaman bahwa belajar adalah kewajiban manusia sepanjang hayat, lalu bermuara dari sebuah perasaan bersyukur bahwa penulis masih diberi kesempatan menghirup udara dalam keadaan sehat,           serta menimbang mana yang lebih memungkinkan untuk dilaksanakan dalam kondisi dan situasi seperti ini, kuliah ke program pascasarjana dengan jurusan teknologi pembelajaran akhirnya dipilih untuk mewujudkan hal tersebut dan  dimulai dengan niat ikhlas serta berpangkal pada bismillah.
            Semula, tidak terbayangkan bahwa seperti inilah kuliah di jenjang yang lebih tinggi.  Pengalaman berkuliah di jenjang sebelumnya yang berbasis pada ilmu sosial dan bahkan hampir tidak bersentuhan dengan ilmu teknologi, sempat membuat ragu, akankah perasaan membosankan kembali muncul, apalagi dalam usia yang tidak lagi muda?
            Seminggu perkuliahan dimulai, seperti membangunkan sebuah mimpi yang panjang. Perkuliahan betul-betul menggairahkan ketika mulai bersentuhan dengan statistika yang seumur hidup tidak pernah terjadi.
            Dalam semester berikutnya, ketika mulai berkenalan dengan materi kuliah teknologi, mulailah terasa benar bahwa inilah sesungguhnya perkuliahan itu.  Betapa tidak? Seolah menemukan ilmu baru dan selalu membuat haus. Sepertinya ada tantangan pribadi, bahwa saya harus bisa.  Hal inilah yang membuat semangat terpacu.
            Bayangkan, ketika komputer  tidak hanya sekedar menuliskan ide dalam bentuk word; berhitung dalam program excel;  berkreasi dengan powerpoint atau sekedar menggunakannya untuk berbagi info/ cerita dengan FB, twitter atau lain sebagainya. Ternyata, setelah perkuliahan, komputer jauh lebih dapat dimanfaatkan dengan cara yang maksimal.
Belum lagi, handphone. Media  yang selama ini hanya merupakan alat berkomunikasi, ternyata bisa dikembangkan menjadi sebuah media pembelajaran, melalui M-learning.
Semakin terkuaklah pemikiran, bahwa pembelajaran itu ternyata dapat dilaksanakan tanpa mengenal ruang dan waktu. Bahwa pembelajaran itu bukan sekedar hubungan satu, dua, multi, bahkan hubungan interaktif dan dapat dilaksanakan oleh siapapun.
Inilah manfaat kuliah teknologi informasi yang telas penulis rasakan. Selain mampu mengubah paradigma pemikiran.  Mengembangkan kemampuan dalam bidang teknologi dan menerapkannya dalam proses pembelajaran anak didik. Membekali diri untuk mengenal dan mengikuti kemajuan teknologi sebagai proses pribadi untuk mengimbangi perkembangan zaman di era teknologi yang kian hari kian canggih.
Terakhir, yang terasa benar adalah: ketika hasil perkuliahan mulai diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas. Berbagai reaksi timbul dari anak didik. Pembelajaran mulai tergairahkan dari sebuah sistem konvensional yang telah mendarah daging. 
Meskipun hal ini belum ditopang oleh sarana dan prasarana di sekolah tempat saya mengajar, kuliah informasi dan teknologi yang saya dapatkan telah menyumbang sebuah pemikiran dan aplikasi baru untuk saya dalam melaksanakan kewajiban utama menjadi pendidik.
 Maka terujilah, bahwa belajar adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti sampai kapanpun.
                                                               ***********

Minggu, 10 November 2013




Gadget... oh Gadget....
(eksistensi dalam pembelajaran)


 

        Gadget.  Istilah itu sudah sangat sering kita dengar bahkan sudah  terasa tidak asing di telinga kita. Gadget seolah sudah menjadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah gadget itu?
            Gadget adalah piranti perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus. Alat elektronik ini selalu menyajikan teknologi terbaru dan berusaha membuat kehidupan manusia lebih mudah dan praktis.
Tapi, eits.... jangan salah, kepraktisan benda elektronik ini baru akan dirasakan oleh manusia yang bisa mempergunakan teknologi tersebut dengan tepat. Jika tidak, tidak ubahnya seperti peribahasa Sunda “ siga monyet ngagugulung kalapa”. Yang artinya kebingungan untuk mempergunakan/ memanfaatkan sesuatu.
            Sebagai sebuah piranti yang senantiasa tampil dalam kemasan teknologi tercanggih, gadget terus menerus berkembang.  Sebagai jenis gadget, kita mengenal adanya MP3 Player, laptop, netbook, kamera, TV 3D, E-Reader, Xbox, tablet dan sebagainya bahkan handphonepun kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi melainkan juga sebagai perekam video, peta digital, pemutar musik, jaringan internet, dan sebagainya.
Beberapa tife gadget yang kita kenal, misalnya:
1.      MP3 Player
Alat ini merupakan  piranti yang dapat menyimpan dan memutar banyak lagu.  Bentuknya yang kecil, memudahkan penyuka musik membawanya dengan mudah ke tempat manapun.
2.      TV 3 Dimensi
Jenis televisi ini memiliki tampilan yang mencengangkan. Selain desain, gambar yang didapatkan sungguh luar biasa. Bahkan banyak penyuka game, menggunakan TV 3 Dimensi ini, untuk melakukan aktivitas mereka.
3.      Konsol.
Berbagai permainan / games dapat dirasakan lebih mengasyikan karena jenis konsol ini mampu menghadirkan tampilan grafis dengan resolusi yang tinggi. Jenis ini misalnya Nitendo, X-Box,ataupun Playstasion.
4.      E-Reader.
E-Book Reader Portable memberikan layanan khusus bagi penyuka bacaan. Selain mampu menyimpan berkas buku elektronik dengan jumlah yang sangat banyak, jugamemberikan kenyamanan saat membaca sehingga tidak membuat mata lelah/ sakit.
5.      Smartphone.
Smartphone tidak hanya berfungsi untuk alat komunikasi tetapi juga sebagai  PDA (personal digital assistant), seperti sebuah komputer.
Jadi boleh dikatakan bahwa smartphone adalah sebuah teknologi yang menggabungkan fungsi  komunikasi  dengan  komputer yang berfungsi sebagai asisten pribadi dan organizer.
6.      Tablet
Adalah sebuah komputer portable berbentuk buku dan menggunakan LCD sentuh. Meskipun tidak dilengkapi keyboard tetapi tetap dapat dipergunakan untuk menulis dengan menggunakan bantuan pulpen khusus yang disebut stylus. Bentuknya yang ringan dan tipis, memungkinkan pengguna merasa lebih praktis karena mudah dimasukkan ke dalam tas dan dibawa ke manapun.
            Sekarang, bagaimana hal nya dengan penggunaan gadget dalam pembelajaran?
            Sebagai seorang pendidik, kita dituntut untuk kreatif dan selalu berinovasi dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran tersebut tidak berlangsung monoton dan kurang menarik minat siswa. Banyak hal yang bisa kita lakukan, salah satunya dengan cara memanfaatkan berbagai layanan teknologi.
Penggunaan komputer secara umum, adalah sebuah langkah awal mengenalkan siswa pada penggunaan piranti elektronik. Melalui komputer atau laptop, siswa mulai menuangkan ide atau perasaan dalam bentuk yang lebih kreatif.  Penggunaan internet memungkinkan pula bagi siswa mendapatkan kemudahan menemukan informasi secara lebih efektif dan efisien. Guru dan siswa bisa melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan layanan internet. Melalui penggunaan face book, twitter,We chat, Line,Tango dan lain sebagainya terbentuk sarana komunikasi yang menarik. Selain itu, bisa juga menggunakan sarana blog untuk mengungkapkan kreativitasnya.
            Selanjutnya, penggunaan teknologi merambah pada media handphone. Sebagai piranti elektronik yang berukuran kecil, mudah dibawa-bawa, serta harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, sangat memungkinkan hand phone  dipakai sebagai sarana pembelajaran jarak jauh.
Kini dikenal adanya M-Learning ataupun E-Learning. Melalui program tersebut, kemudahan mendapatkan pendidikan dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat dalam kondisi jarak yang sangat jauh, ataupun dalam keadaan yang menggunakan waktu sangat terbatas.
            Melalui e-Learning banyak ditemukan keefektifan serta efisiensi waktu.  Hal ini terutama dapat dirasakan oleh para mahasiswa yang sedang melaksanakan program bimbingan. Tidak dapat dipungkiri bahwa gadget sebagai media pembelajaran dapat diterima oleh seluruh masyarakar.
 Permasalahannya, di sekolah menengah, penggunaan gadget sebagai media pembelajaran mengalami banyak tantangan. Pasalnya, di tengah era globaisasi ini, para siswa sekolah menengah masih berada dalam perkembangan psikologis yang cenderung labil. Kebelumjelasan identitas pribadi, membuat mereka mudah terombang ambing dan memiliki sikap yang tidak jelas.  Banyak diantara mereka yang menggunakan gadget tidak semata sebagi media pembelajaran. Misalnya saja, dalam beberapa kasus terakhir yang akhir-akhir ini mencuat. Adanya penggunaan negatif dari handphone di sekolah. Akibatnya, beberapa sekolah mengeluarkan  kebijakan tidak menggunakan ataupun membawa HP ke sekolah. Konsekwensinya, minat guru untuk menggunakan layanan pembelajaran melalui gadget (HP) menjadi terganggu.
            Lalu bagaimana siasat kita? Kita harus mampu membangun sikap mendasar pada pribadi siswa. Meletakkan karakter yang baerlandaskan pada nilai moral. Jika ini sudah terbangun dalam pribadi siswa, barulah kita bisa melangkah menuju sebuah era penggunaan alat elektronik yang global dan bertanggung jawab.
            Tidak ada salahnya mencoba bukan?

                                                           *********************