Rabu, 20 Maret 2013

DIKLAT SERTIFIKASI






Selama ini, istilah sertifikasi hanya diikuti melalui cerita dan berita teman-teman yang berproses  di dalamnya. Mulai dari proses  awal digulirkannya program sertifikasi yaitu penyusunan portofolio, pelaksanaan diklat, ferifikasi, validasi, perubahan perubahan ketentuan yang kerap membingungkan, pencairan dana sertifikasi yang selalu bikin surprise,terakhir keputusan final tentang ketatnya penyusunan  portofolio sehingga proses sertifikasi  diarahkan pada diklat. Semua sudah kenyang terdengar dan inilah saya sekarang , di era terakhir proses sertifikasi tahun ini.
Mengalami proses sertifikasi yang nota benenya mengikuti diklat ternyata merupakan pengalaman yang luar biasa. Semua perasaan was-was, takut, hilang lenyap begitu saja ketika kita mengalaminya sendiri.  Sepuluh  hari yang menegangkan memberi pengalaman yang luar biasa. Ujungnya, kita bisa merefleksi diri, inilah kita. Sebuah komponen pendidikan yang sangat kecil, tapi tanpa kita, dijamin, pendidikan di sekolah tidak akan berjalan.
            Artinya, Betapa berharganya kita.  Tanpa kita sadari betapa banyak  komponen  yang bergantung pada peran kita sementara kita sendiri  masih begitu miskin. Selama ini kita telah mendidik anak.   Berpeluh ton-ton keringat menghadapi mereka .  Berkutat dengan model, metode , dan teknik yang jungkir balik kita pergunakan.  Diklat sertifikasi  menyadarkan bahwa hal itu kita rasakan karena sebenarnya  kita tidak menggunakan  teknik yang tepat.  Sebenarnya tanpa harus berpeluh keringat kita bisa mendidik anak  asal kita mampu menjadi  fasilitator.  Nah, itu dia!
            Peran kita  sebagaisuperhero hendaknya dibuang jauh-jauh. Kita tidak perlu merasa takut atau  malu manakala  mendapati  anak mengetahui segala sesuatu lebih dahulu dari kita. Tugas kita adalah mengejar mereka untuk mengarahkannya.  Membuat anak merasa nyaman  manakala mereka menang  karena bisa mengetahui banyak hal lebih dahulu dari kita.  Kita tidak perlu  merasa malu mengakuinya.  Justru kita harus bangga bahwa saat itulah, keberhasilan kita sebagai fasilitator terbukti. Di sisi lain, membuat kita tertantang untuk mengimbangi anak .salah satunya dengan membuka wawasan kita tentang dunia per-IT-an.
Ini jarang terjadi di era pembelajaran lama. Guru selalu berada dalam posisi serba tahu, malu jika anak mengalahkannya, kadang ego terusik manakala anak mengkritisi, lalu menganggap anak sok tahu. Bahkan, tak menutup kemungkinan (maaf) jika sampai  menekan nilai akademis anak tersebut.
            Sertifikasi mengajarkan bahwa kita harus sudah membuang jauh-jauh hal itu. Justru perubahan dari status guru sebagai sumber yang serbatahu  menjadi fasilatator dan duduk bersama dengan murid dalam menemukan sebuah pengalaman baru, haruslah disikapi dengan dewasa.
Setelah dihayati, itu memang begitu mencengangkan. Dengan bekal yang ada , kita bersedia lebih aktif dalam menyelenggarakan proses ,memotivasi siswa menyiapkan  sumber pembelajaran, menemukan metode yang tepat di lapangan, ternyata kita tidak perlu lagi  cape sorangan. Biarlah siswa menemukan sendiri pengalaman mereka. Salah dan benar bukanlah tujuan utama karena sebuah nilai  bisa berubah sesuai zaman tapi proses pembelajarannyalah yang penting kita tanamkan kepada siswa. Sehingga terbentuk siswa yang berani mencoba,tidak takut salah, mampu memecahkan masalah, tanpa mengabaikan kesantunan dan aspek berketuhanan tentunya.
            Diklat sertifikasi selain memberikan nuansa pembelajaran baru yang mudah-mudahan akan mampu dilaksanakan dengan baik dan  sesuai tuntutan, juga menjadi ajang bertemunya para pendidik. Saat seperti itu, tumbuh sebuah kekuatan baru.Bahwa kita adalah ujung tombak yang mengemban amanat berat tetapi siap kita pikul bersama-sama. Sebuah nilai solidaritas yang terbentuk pada saat kesamaan nasib mempertemukan dalam area yang sama.
            Jadi benar, jangan takut dengan proses apapun apalagi  diklat sertifikasi. Kendati sempat membuat jantung berdebar dengan kriteria lulus, remedi, atau tidak lulus.Diklat berujung pada sebuah tuntutan, menjadi seorang guru professional.  Berat memang, karena perubahan yang menetap tidak bisa secara instan terbentuk tetapi harus melalui proses.
Ternyata, dalam proses pendidikan  bukan hanya anak yang harus  berproses menjadi dewasa, pembelajaran  yang  selalu berproses sesuai tuntutan , kitapun sebagai guru akan selalu berada dalam proses menjadi dewasa dan profesional.  Tapi jangan takut.Profesional hanya sebuah label. Keberhasilan kita mendidik anak, akan tergambar dengan sendirinya walaupun membutuhkan waktu yang sangat panjang.  Yang penting, kita berusaha maksimal, selalu terbuka pada perubahan, menjalankan proses dengan  maksimal,  dan selalulah berniat untuk menjadi lebih baik dan lebih baik (Des 2011)
*******************************************

Senin, 18 Maret 2013

VALIDITAS SANG SERTIFIKAN






Awal tahun ajaran baru telah dimulai, masing-masing komponen terbangun dari rehat panjangnya untuk memulai kegiatannya. Siswa yang mengalami masa libur panjang diharapkan telah kembali bersiap menimba ilmu. Guru kembali bersemangat mendidik setelah mengalami jenuh berkepanjangan menggeluti perangkat dan siswa dengan berbagai perangai. Sekolah kembali disibukkan oleh berbgai program kegiatan.Tenaga kependidikan bersiap memberikan layanan untuk pendidikan siswa dan persiapan lainnya lagi.
            Mengawali tahun pelajaran baru ini, guru boleh tersenyum gembira, gaji ke tiga belas serta kucuran dana sertifikasi mampu mengimbangi kerja keras yang baru akan dimulai.  Kegembiraan itu diiringi pula dengan berbagai kewajiban mempersiapkan perangkat pembelajaran yang meliputi banyak komponen misalnya menelaah Standar Kompetensi Lulusan, menjabarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, menyusun Program Tahunan dan Program Semester berdasar pada Kalender Pendidikan, menganalisis mata pelajaran serta  tujuan mata pelajaran, menganalisis SK-KD, menyusun Silabus, menjabarkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Program, menghitung Kriteria Ketuntusan Minimal yang mungkin mampu dicapai siswa, menyusun Bahan Ajar, menyusun kumpulan soal dan lainnya
Hal itu  bukanlah hal yang baru untuk para guru. Mereka senantiasa selalu bersiap diri mengawali tahun atau semester baru dengan seperangkat pembelajaran itu. Bahkan untuk beberapa sekolah yang tahun ini akan mengalami penilaian akreditasi,terselip  juga pengumpulan  data-data selama 2 tahun ke belakang meliputi semua standar mulai dari standar isi, standar proses, standar sarana dan prasarana, penilaian, standar Kompetensi lulusan,pembiayaan, sampai pada pengumpulan data yang berjibun serta melelahkan karena pengarsipan yang masih semerawut atau berhubungan dengan arsip-arsip pendanaan.
Hal lain yang membuat lebih kalang kabut adalah hal berhubungan dengan pencairan dana sertifikasi  yaitu adanya validasi yang tiap tahunnya selalu berubah bentuk. Pembaharuan data, jelas ada karena setiap saat identifikasi guru terus berubah.  Yang paling merepotkan adalah jumlah jam wajib untuk semua guru yang minimalnya adalah 24 jam tatap /minggu. Jam tersebut tidak akan menjadi masalah jika saja sudah tersedia. Tetapi penyiapan jam inilah yang merepotkan. Jumlah jam mata pelajaran disekolah seringkali tidak  mencukupi untuk jumlah guru mata pelajaran tersebut apalagi jika ditambah oleh adanya tenaga guru yang diperbantukan.
Semua guru yang sudah disertifikasi diwajibkan memenuhi 24 jam pelajaran. Dengan demikian, jika dalam rengrengan guru mata pelajaran tersebut diharuskan mendapat jam sejumlah itu, bagaimana nasibnya guru di putaran terakhir proses sertifikasi? Pada umumnya, mereka mendapat sisa jam yang betul-betul kurang untuk memenuhi syarat sertifikasi mereka.Mau pergi ke mana mereka?Ke sekolah lainnya?Jelas tidak mungkin, bahkan ke sekolah swastapun tidak. Semua guru pelit bahkan berusaha keras mempertahannkan jumlah jam demi keberlangsungan pencairan dana sertifikasi  mereka.
Di sisi lain, ada jam mata pelajaran yang masih kekurangan guru. Tapi tidak seorangpun berminat mengisinya.Mengapa? Karena guru profesional berindikasi guru yang mengajar 24 jam di hanya bidangnya! Aturan ini sangat kaku dan mematikan. Bayangkan…apa jadinya pada  guru yang berada di sekolah terpencil  dan kekurangan guru? Apakah aturan ini tetap diberlakuakn ? Bagaimana pula dengan jam pelajaran lain yang tersisa tadi?
Bagaimana pula dengan para pembantu kepala sekolah? Wakil kepala, kepala perpustakaan, kepala laboratorium, yang akhirnya, berbagiiklaskan 12 jam mengajarnya untuk guru yang lain karena ada penghargaan sebanyak 12 jam dari kedudukan  tersebut. Selama masih menjabat, dia aman di situ. Setelah lepas dari jabatan , apa yang harus dilakukannya? Di sekolah yang bersangkutan  jam untuk mata pelajarannya sudah terisi penuh. Ke manakah dia harus mencari? Akhirnya dapat dipastikan, untuk menjaga stabilitas , kedudukan itu terpaksa menahun. Akhirnya membosankan dan membuat guru di posisi itu kehilangan kreatifitasnya.
Sementara, di sisi lain, bagaimana pula dengan para kepala bidang lainnya? Kesiswaan yang setiap hari berkutat dengan urusan berbagai kegiatan siswa, kabid  kurikulum  yang menjadi penyangga utama dalam penyusunan kurikulum sekolah, mempersiapkan program jadwal pelajaran ,bersitegang dengan para guru ketika melayani keluhan jadwal.  Humas yang senantiasa menjadi corong berbagai program dan kegiatan sekolah kepada masyarakat.Sarana prasarana yang terus menerus memngembangkan dan mempersiapkan kebutuhan siswa, atau bahkan wali kelas yang setiap hari berbentur dengan layanan terhadap siswa. Mengapa semua jabatan itu tidak diperhitungkan oleh jam walaupun tidak dengan istilah tatap muka? Jika saja pekerjaan yang seberat itu dipertimbangkan dengan jam untuk pemenuhan syarat sertifikasi, pasti bisa  menjadi solusi kekurangan jam dalam validasi sertifikasi.
Benar, jika dirunut, makna kata profesional adalah menguasai aspek yang ada di bidangnya.Tetapi jika dikembangkan lagi, mengapa pemaknaan bidang itu hanya menyangkut materi pelajaran saja? Menjadi guru profesional bukan hanya harus menguasai materi dan proses pembelajaran di dalam kelas selama 24 jam saja. Mereka justru seharusnya mampu memiliki kompetensi sebagai pendidik yang tidak dapat diukur dalam jam tatap muka saja.
 Berada di luar kelas, membimbing langsung siswa, mengarahkan kemampuan siswa , melayani kebutuhan siswa itupun merupakan indikasi keprofesionalan seorang guru. Bukankah tugas guru tidak hanya mengajar melainkan juga mendidik dan melatih? Guru profesional bukan sekedar memiliki kemampuan mengajar di kelas dalam bidang yang dikuasainya saja. Tetapi harus juga mampu mengagantikan peran-peran yang tidak ada.Tidak ada salahnya jika bidang pelajaran tertentu diajarkan oleh guru dengan profesionalitas berbeda.Selama mereka mau profesional , kemampuan akan muncul dengan sendirinya sebagai bentuk tanggungjawab mereka.
Guru yang kekurangan jam mengajar apalagi hanya tinggal sedikit, mengapa tidak bisa memegang mata pelajaran lain yang lebih kekurangan guru  seperti kebijakan dahulu?. Asal saja mayoritas jam pelajarannya tetap berada pada cakupan profesionalitasnya. Menjadi guru harus serba bisa.Pada saat di hadapkan dengan kondisi berlainan di lapangan, guru harus bisa memenui tuntutan tersebut.Tirulah guru-guru yang berada di jenjang sekolah dasar.Mereka serba bisa, menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Tuntutan mengajari mereka  dan membuahkan kemampuan luar biasa. Mereka siap dengan materi apapun.Berada di tingkat berapapun.Merekalah contoh guru yang siap menghadapi tuntutan masyarakat pendidikan.  Guru itu diciptakan untuk masagi, serba bisa , hingga bisa memenuhi citra masa lalu sebagai sosok yang patut di tiru.
Jika saja, saja sertifikasi mau terus memperbaiki diri seperti yang sering dilakukannya.Mengapa sekarang tidak mulai dari temuan di atas?banyak yang akan dimudahkan. Bukankan mempermudah itu adalah amanah dari Allah?Kita harus mematuhi peraturan.Tetapi peraturanpun harus luwes dan mengimbangi tuntutan. Jika tidak, peraturan itu akan kaku dan menyiksa.
Sebagai bahan renungan semua fihak, sertifikasi adalah reward, tanda penghargaan karena telah melakukan sesuatu.Bukannya sesuatu yang dapat dicapai hanya oleh syarat tertentu. ( Garut Express, Agustus 2012)
























Dunia (anak) yang Hilang



Suatu hari, anak sulungku  pulang dari sekolah tidak tepat waktu. Lebih cepat dari biasanya.Terbersit perasaan aneh, ketika sore-sore aku menghabiskan waktu dengan keluarga yang lengkap. Sampai hari Minggu, kembali terjadi peristiwa yang sama . Aku malah merasa lebih aneh ketika kali ini anakku malah menanyakan apa acara keluarga kami hari itu. Perasaan tidak  karuan menggelung di hatiku. Mungkinkah ada sesuatu? Penuh hati-hati  aku menanyakannya dan dengan senyum simpul dia menjawab “ Bosen Bu. Kegiatan sekolah mulu…” Waduh! Anakku yang maniak dengan kegiatan ekskulnya, yang tahan dengan omelan ibunya karena kerap hari Minggupun malah memilih pergi ke sekolah dan mengabaikan acara keluarga yang hanya seminggu sekali, akhirnya mengalami titik jenuh juga?
            Ilustrasi di atas mengantarkan tulisan bahwa betapa beratnya beban yang dipikul anak zaman sekarang.Hubungan dengan keluarga, masyarakat, menjadi terganggu akibat habisnya waktu di sekolah.Sekolah dengan program regular mungkin tidak menghabiskan waktu seperti itu.Tapi anak di program RSBI atau SBI jelas mengalaminya. Jika seorang anak  masuk di jam 07.00 dan keluar pada jam 15.30, disambung dengan kerja kelompok maka anak bisa pulang sekitar jam 16.30. Kadangkala ditambah kegiatan les  yang bisa  membutuhkan waktu sampai Magrib.  Dengan asumsi mandi , makan, sampai jam 18.30, barulah anak selesai melaksanakan kegiatan siang itu.  Jika kondisi ini paten, maka anak laki- laki tidak sempat lagi ke masjid untuk solat Magrib, mengaji sampai Isya. Mengerjakan tugas sampai jam 21.00 atau  jam 22.00 malam. Selepas bangun pagi, solat, mandi, semua anggota keluarga sibuk mempersiapkan diri.Waktu sarapan hanya tersedia beberapa menit saja.Hilang sudah waktu bercengkrama dengan keluarga apalagi bersosialisasi dengan masyarakat.Tidak jarang, anak-anak tidak mengenal tetangganya.Lebih parahnya, hilang sudah masa remaja yang harusnya indah dan menyenangkan.
            Teringat dulu masa sekolah. Jam 12.00 , anak sudah pulang ke rumah, solat ke mesjid, tidur siang, mengerjakan tugas, bermain dengan anak di sekeliling rumah, mengaji sampai waktu  Isya, bercengkrama dengan keluarga sambil menonton TV , tidur lebih cepat sehingga bangunpun bisa lebih cepat. Masihkah hal ini kita temukan di zaman sekarang?
            Dunia anak apalagi remaja adalah dunia yang tidak akan  berulang.  Ada fase-fase yang tidak didapatkan   sesudah masa itu. Pada masa yang  merupakan peralihan antara masa anak dan dewasa tersebut, anak mengalami tahap yang akan menentukan perkembangan di tahap berikutnya. Jika dia gagal, besar kemungkinan akan mempengaruhi keberhasilannya kelak.
            Pada  pada masa remaja, anak akan berproses dalam menguasai beberapa kemampuan, misalnya:
1. Menerima keadaan diri/fisik sendiri. Jika anak mampu menerima keadaan diri sendiri, anak akan memiliki rasa percaya diri. Tidak perduli jika dia bertubuh pendek/terlalu tinggi, gemuk/kurus, berjerawat/berkulit gelap,dsb. Kemampuan mereka menerima dengan ciri khas di tengah perbedaan adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.
2. Mengatasi  emosi.  Pada usia  remaja sering terjadi pergolakan emosi. Anak yang tengah mencari jati diri senantiasa berperilaku bertentangan dengan lingkungan yang dirasanya membelenggu .Ini kerapkali disertai dengan pemberontakan yang sebenarnya tidak separah itu.Anak hanya ingin dimengerti, bahwa dia masih mencari mana sikap hidup yang tepat.  Anak tidak ingin dibelenggu, tapi jika diberi kebebasanpun, anak akan merasa hampa tanpa arah.
3.Bergaul  antarlawan jenis.  Kemampuan anak dalam bergaul dengan lawan jenis, kerap diartikan lain. Usia puber diartikan berpacaran, membuat komitmen dini yang sebenarnya tidak dimengerti arahnya. Orang tuapun kadang menyikapinya dengan berlebih, bahwa pergaulan dengan lawan jenis itu berbahaya.  Sebenarnya tidaklah demikian, pergaulan dengan lawan jenis, akan menguatkan gender anak. Belajar memahami sikap dirinya sendiri dan menghormati lawan jenisnya.
4. Memahami potensi pribadi.Pada umumnya, banyak remaja yang belum mengetahui kemampuan dirinya. Ini dapat dimaklumi, karena usia mereka masih belia. Pada usia ini, remaja malah enggan menyebutkan apa yang menjadi minat dan cita-citanya. Lebih mudah mereka menemukan dan mengeluhkan kekurangan yang dimilikinya.
5. Menguasai nilai dan norma.  Pemahaman remaja tentang nilai dan norma bisa mereka dapat melalui keterlibatannya dalam pergaulan dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Bukan hal yang mudah untuk remaja mencapai tahap-tahap itu.Mereka membutuhkan dukungan dari semua pihak.Sementara itu, banyak faktor yang menjadi kendala dalam pencapaian kemampuan tersebut.  Hurlock (1973) merincinya dengan:
1. Masalah pribadi (berhubungan dengan fisik, emosi, situasi dan kondisi di rumah, sekolah, atau likungan pergaulan)
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua. 
3. Tuntutan peran akibat perubahan sosial yang cepat dan membingungkan sehingga mereka dituntut berperan dewasa sebelum waktunya. 
4. Tuntutan  era teknologi maju membutuhkan orang yang sangat kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi tersebut. Ketidakmampuan remaja mengikuti perkembangan teknologi yang demikian cepat dapat membuat mereka merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan mengalami gangguan emosional.
6. berkembangnya kapasitas intelektual. Stres dan harapan baru membuuat remaja mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku.Tekanan, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan .
            Untuk memahami, mengalami, tahap perkembangan dan menaklukkan kendala-kendala, anak membutuhkan waktu baik secara pribadi maupun dengan cara berinteraksi dengan orang terdekat (keluarga,teman sebaya, dan lingkungan ).  Mampukah anak mengelola waktu seefisien itu? Ketika anak bergulat mencari jati diri, membentuk identitas dengan cara mengadopsi  tokoh idola  untuk membentuk pribadi? Sekedar tokoh selebriti yang bahkan hanya dikenal cangkangnya, memah mudah untuk mereka.Tetapi memilih tokoh yang mumpuni untuk dijadikan teladan sangat sulit.Ini yang sebenarnya ditawarkan orang-orang terdekat tadi.
            Beranjak dari pengetahuan di atas, sudah selayaknya kita merasa kasihan pada anak-anak kita.Tuntutan teknologi sangat tinggi, beban untuk berhasil mereka pikul, tapi mereka tidak punya waktu untuk mewujudkannya.Dalam beberapa kasus, banyak siswa yang berhasil mengelola waktunya, tapi kebanyakan tidak.Mereka memiliki kepenatan tubuh dan jiwa.Wajar jika banyak dari mereka menghilangkan kejenuhan dengan melajukan motor kencang-kencang, kebut-kebutan. Kerapkali dalam kondisi capek dan penat, bersinggungan di jalan raya bisa berujung pada perselisihan. Mereka tidak terbiasa bersosialisasi face to face  yang mengajarkan mereka tentang nilai hidup dengan cara berbagi.  Mereka lebih terbiasa hanya “bergaul” lewat internet sembari mengerjakan tugas, atau melalui permainan  gameon line.
            Inilah yang harus kita sadari bersama-sama, dalam kapasitas kita masing-masing baik sebagai penyelenggara pendidikan formal, orang tua, maupun masyarakat.  Jika kita bekerjasama, bukan mustahil jika kita mampu membentuk generasi yang kita idamkan: manusia yang bertaqwa,bermental baja, berkemauan keras dan menguasai norma. Selanjutnya akan mampu membentuk komunitas yang aman, nyaman, dan sejahtera.
            Penyelenggara pendidikan tetap pada program yang dicanangkan, dengan memperhatikan pengelolaan yang efektif dan efisien.Jumlah waktu tidak menjamin keberhasilan siswa dalam menguasai akademiknya.Tapi pemanfaatnyalah yang lebih utama. Mempermudah tugas anak hingga anak yang sudah menghabiskan banyak waktu di sekolah, tidak lagi dibebani tugas yang menumpuk .Penggunaan waktu di sekolah harus mampu menjadi jawaban/ menjadi pengganti les tambahan.Sisihkanlah waktu untuk anak menikmati hidupnya sebagai bagian dari sebuah keluarga dan masyarakat.
            Masyarakat selayaknya kembali “menarik dan memposisikan” anak di masyarakat.Anak-anak sekarang merasa tidak punya tempat, mereka seolah telah dibatasi sebagai anggota masyarakat. Tidak ada keakraban, melalui main bersama, mengaji bersama, kerjabakti, klub olahraga yang dulu sukses di era 70-80 an melalui program karang taruna.Kemana semua itu sekarang?
Orang tua sudah selayaknya berlapang dada jika mau memahami kepenatan anak-anak kita. Yang perlu dipertahankan adalah kontrol agar anak tidak melupakan limit waktu sehingga mengurangi jam tidur  dan besoknya mengantuk di sekolah atau nyleneh dalam  menggunakan jaringan internetnya sehingga menemukan blog-blog  yang “menghawatirkan”.
Remaja diharapkan lebih objektif dalam mengelola waktu.Usia yang rentan oleh banyak pengaruh buruk memang harus disiasati dengan bijak. Teknologi memang menuntut kita untuk bersaing di era globalisasi ini. Tanpa kerja keras, kalian tidak akan mampu mengimbanginya. Menghabiskan waktu di sekolah untuk “menjaga diri” dari pengaruh negatif  pergaulan di luar sekolah memang baik. Tetapi belajar menjadi anggota masyarakatpun lebih baik lagi dan itu harus dimulai dengan menjadi anggota keluarga yang peduli dengan komunikasi antaranggota keluarga.
Dengan memahami kebersamaan, diharapkan para orangtua, pendidik, masyarakat, mampu mengarahkan remaja menghadapi masa-masa sulitnya  sehingga bila mereka dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya mereka akan tumbuh dewasa dengan paripurna.

            Menyelami semua itu, akhirnya saya membuat komitmen sederhana.“ Nak, orang tua  tahu bahwa kalian butuh kebebasan tapi orang tua butuh jaminan, bahwa dalam kebebasan itu, kalian  aman. ” Dengan komitmen  itu, sekarang saya tidak lagi khawatir ketika anak saya berada seharian penuh di luar rumah. Saya memberinya kepercayaan bahwa dia akan bisa menjaga diri. Sembari selalu percaya bahwa Allah-lah yang mahamenjaga. ( Kandaga: Maret 2012)