Suatu hari, anak sulungku pulang dari sekolah tidak tepat waktu. Lebih
cepat dari biasanya.Terbersit perasaan aneh, ketika sore-sore aku menghabiskan
waktu dengan keluarga yang lengkap. Sampai hari Minggu, kembali terjadi
peristiwa yang sama . Aku malah merasa lebih aneh ketika kali ini anakku malah
menanyakan apa acara keluarga kami hari itu. Perasaan tidak karuan menggelung di hatiku. Mungkinkah ada
sesuatu? Penuh hati-hati aku
menanyakannya dan dengan senyum simpul dia menjawab “ Bosen Bu. Kegiatan
sekolah mulu…” Waduh! Anakku yang
maniak dengan kegiatan ekskulnya, yang tahan dengan omelan ibunya karena kerap
hari Minggupun malah memilih pergi ke sekolah dan mengabaikan acara keluarga
yang hanya seminggu sekali, akhirnya mengalami titik jenuh juga?
Ilustrasi
di atas mengantarkan tulisan bahwa betapa beratnya beban yang dipikul anak
zaman sekarang.Hubungan dengan keluarga, masyarakat, menjadi terganggu akibat
habisnya waktu di sekolah.Sekolah dengan program regular mungkin tidak
menghabiskan waktu seperti itu.Tapi anak di program RSBI atau SBI jelas
mengalaminya. Jika seorang anak masuk di
jam 07.00 dan keluar pada jam 15.30, disambung dengan kerja kelompok maka anak
bisa pulang sekitar jam 16.30. Kadangkala ditambah kegiatan les yang bisa
membutuhkan waktu sampai Magrib.
Dengan asumsi mandi , makan, sampai jam 18.30, barulah anak selesai
melaksanakan kegiatan siang itu. Jika
kondisi ini paten, maka anak laki- laki tidak sempat lagi ke masjid untuk solat
Magrib, mengaji sampai Isya. Mengerjakan tugas sampai jam 21.00 atau jam 22.00 malam. Selepas bangun pagi, solat,
mandi, semua anggota keluarga sibuk mempersiapkan diri.Waktu sarapan hanya
tersedia beberapa menit saja.Hilang sudah waktu bercengkrama dengan keluarga
apalagi bersosialisasi dengan masyarakat.Tidak jarang, anak-anak tidak mengenal
tetangganya.Lebih parahnya, hilang sudah masa remaja yang harusnya indah dan
menyenangkan.
Teringat
dulu masa sekolah. Jam 12.00 , anak sudah pulang ke rumah, solat ke mesjid,
tidur siang, mengerjakan tugas, bermain dengan anak di sekeliling rumah,
mengaji sampai waktu Isya, bercengkrama
dengan keluarga sambil menonton TV , tidur lebih cepat sehingga bangunpun bisa
lebih cepat. Masihkah hal ini kita temukan di zaman sekarang?
Dunia anak
apalagi remaja adalah dunia yang tidak akan
berulang. Ada fase-fase yang
tidak didapatkan sesudah masa itu. Pada masa yang merupakan peralihan antara masa anak dan
dewasa tersebut, anak mengalami tahap yang akan menentukan perkembangan di
tahap berikutnya. Jika dia gagal, besar kemungkinan akan mempengaruhi
keberhasilannya kelak.
Pada pada masa remaja, anak akan berproses dalam
menguasai beberapa kemampuan, misalnya:
1. Menerima keadaan
diri/fisik sendiri.
Jika anak mampu menerima keadaan diri sendiri, anak akan memiliki rasa percaya
diri. Tidak perduli jika dia bertubuh pendek/terlalu tinggi, gemuk/kurus,
berjerawat/berkulit gelap,dsb. Kemampuan mereka menerima dengan ciri khas di
tengah perbedaan adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.
2. Mengatasi emosi.
Pada usia remaja sering terjadi
pergolakan emosi. Anak yang tengah mencari jati diri senantiasa berperilaku
bertentangan dengan lingkungan yang dirasanya membelenggu .Ini kerapkali
disertai dengan pemberontakan yang
sebenarnya tidak separah itu.Anak hanya ingin dimengerti, bahwa dia masih
mencari mana sikap hidup yang tepat.
Anak tidak ingin dibelenggu, tapi jika diberi kebebasanpun, anak akan
merasa hampa tanpa arah.
3.Bergaul antarlawan jenis. Kemampuan anak dalam bergaul dengan
lawan jenis, kerap diartikan lain. Usia puber diartikan berpacaran, membuat
komitmen dini yang sebenarnya tidak dimengerti arahnya. Orang tuapun kadang
menyikapinya dengan berlebih, bahwa pergaulan dengan lawan jenis itu berbahaya. Sebenarnya tidaklah demikian, pergaulan
dengan lawan jenis, akan menguatkan gender
anak. Belajar memahami sikap dirinya sendiri dan menghormati lawan
jenisnya.
4. Memahami potensi
pribadi.Pada
umumnya, banyak remaja yang belum mengetahui kemampuan dirinya. Ini dapat
dimaklumi, karena usia mereka masih belia. Pada usia ini, remaja malah enggan
menyebutkan apa yang menjadi minat dan cita-citanya. Lebih mudah mereka
menemukan dan mengeluhkan kekurangan yang dimilikinya.
5. Menguasai nilai dan
norma. Pemahaman remaja tentang
nilai dan norma bisa mereka dapat melalui keterlibatannya dalam pergaulan dalam
keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Bukan
hal yang mudah untuk remaja mencapai tahap-tahap itu.Mereka membutuhkan
dukungan dari semua pihak.Sementara itu, banyak faktor yang menjadi kendala
dalam pencapaian kemampuan tersebut. Hurlock (1973) merincinya dengan:
1. Masalah pribadi (berhubungan dengan
fisik, emosi, situasi dan kondisi di rumah, sekolah, atau likungan pergaulan)
2. Masalah
khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada
remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian
berdasarkan stereotip yang keliru,
adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh
orangtua.
3. Tuntutan peran akibat perubahan
sosial yang cepat dan membingungkan sehingga mereka dituntut berperan dewasa
sebelum waktunya.
4. Tuntutan era teknologi maju
membutuhkan orang yang sangat kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi
tersebut. Ketidakmampuan remaja mengikuti perkembangan teknologi yang demikian
cepat dapat membuat mereka merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan
mengalami gangguan emosional.
6. berkembangnya
kapasitas intelektual. Stres dan harapan baru membuuat remaja mudah
mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan
perilaku.Tekanan, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja
membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan .
Untuk memahami, mengalami, tahap
perkembangan dan menaklukkan kendala-kendala, anak membutuhkan waktu baik
secara pribadi maupun dengan cara berinteraksi dengan orang terdekat
(keluarga,teman sebaya, dan lingkungan ).
Mampukah anak mengelola waktu seefisien itu? Ketika anak bergulat
mencari jati diri, membentuk identitas dengan cara mengadopsi tokoh idola
untuk membentuk pribadi? Sekedar tokoh selebriti yang bahkan hanya
dikenal cangkangnya, memah mudah
untuk mereka.Tetapi memilih tokoh yang mumpuni untuk dijadikan teladan sangat
sulit.Ini yang sebenarnya ditawarkan orang-orang terdekat tadi.
Beranjak dari pengetahuan di atas,
sudah selayaknya kita merasa kasihan pada anak-anak kita.Tuntutan teknologi
sangat tinggi, beban untuk berhasil mereka pikul, tapi mereka tidak punya waktu
untuk mewujudkannya.Dalam beberapa kasus, banyak siswa yang berhasil mengelola
waktunya, tapi kebanyakan tidak.Mereka memiliki kepenatan tubuh dan jiwa.Wajar
jika banyak dari mereka menghilangkan kejenuhan dengan melajukan motor
kencang-kencang, kebut-kebutan. Kerapkali dalam kondisi capek dan penat,
bersinggungan di jalan raya bisa berujung pada perselisihan. Mereka tidak
terbiasa bersosialisasi face to face yang mengajarkan mereka tentang nilai hidup
dengan cara berbagi. Mereka lebih
terbiasa hanya “bergaul” lewat internet sembari mengerjakan tugas, atau melalui
permainan gameon line.
Inilah yang
harus kita sadari bersama-sama, dalam kapasitas kita masing-masing baik sebagai
penyelenggara pendidikan formal, orang tua, maupun masyarakat. Jika kita bekerjasama, bukan mustahil jika
kita mampu membentuk generasi yang kita idamkan: manusia yang
bertaqwa,bermental baja, berkemauan keras dan menguasai norma. Selanjutnya akan
mampu membentuk komunitas yang aman, nyaman, dan sejahtera.
Penyelenggara
pendidikan tetap pada program yang dicanangkan, dengan memperhatikan
pengelolaan yang efektif dan efisien.Jumlah waktu tidak menjamin keberhasilan
siswa dalam menguasai akademiknya.Tapi pemanfaatnyalah yang lebih utama. Mempermudah
tugas anak hingga anak yang sudah menghabiskan banyak waktu di sekolah, tidak
lagi dibebani tugas yang menumpuk .Penggunaan waktu di sekolah harus mampu
menjadi jawaban/ menjadi pengganti les tambahan.Sisihkanlah waktu untuk anak
menikmati hidupnya sebagai bagian dari sebuah keluarga dan masyarakat.
Masyarakat
selayaknya kembali “menarik dan memposisikan” anak di masyarakat.Anak-anak
sekarang merasa tidak punya tempat, mereka seolah telah dibatasi sebagai
anggota masyarakat. Tidak ada keakraban, melalui main bersama, mengaji bersama,
kerjabakti, klub olahraga yang dulu sukses di era 70-80 an melalui program karang taruna.Kemana semua itu sekarang?
Orang tua sudah selayaknya berlapang
dada jika mau memahami kepenatan anak-anak kita. Yang perlu dipertahankan
adalah kontrol agar anak tidak melupakan limit
waktu sehingga mengurangi jam tidur dan
besoknya mengantuk di sekolah atau
nyleneh dalam menggunakan jaringan
internetnya sehingga menemukan blog-blog
yang “menghawatirkan”.
Remaja diharapkan lebih objektif dalam
mengelola waktu.Usia yang rentan oleh banyak pengaruh buruk memang harus
disiasati dengan bijak. Teknologi memang menuntut kita untuk bersaing di era
globalisasi ini. Tanpa kerja keras, kalian tidak akan mampu mengimbanginya.
Menghabiskan waktu di sekolah untuk “menjaga diri” dari pengaruh negatif pergaulan di luar sekolah memang baik. Tetapi
belajar menjadi anggota masyarakatpun lebih baik lagi dan itu harus dimulai
dengan menjadi anggota keluarga yang peduli dengan komunikasi antaranggota keluarga.
Dengan
memahami kebersamaan, diharapkan para orangtua, pendidik, masyarakat, mampu
mengarahkan remaja menghadapi masa-masa sulitnya sehingga bila mereka dapat melalui masa
remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya mereka akan tumbuh dewasa
dengan paripurna.
Menyelami
semua itu, akhirnya
saya membuat komitmen sederhana.“ Nak, orang tua tahu bahwa kalian butuh kebebasan tapi orang
tua butuh jaminan, bahwa dalam kebebasan itu, kalian aman. ” Dengan komitmen itu, sekarang saya tidak lagi khawatir ketika
anak saya berada seharian penuh di luar rumah. Saya memberinya kepercayaan
bahwa dia akan bisa menjaga diri. Sembari selalu percaya bahwa Allah-lah yang
mahamenjaga. ( Kandaga: Maret 2012)