Senin, 29 Juli 2013

Teknologi Informasi dalam Pendidikan


TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN
Anne A. Permatasari
Belajar sebagai sebuah usaha sadar dan terencana untuk mengubah perilaku seseorang, jelas membutuhkan sebuah proses. Pendidikan akan berhasil jika seluruh aspek yang teribat berperan secara aktif. Salah satu aspek pembelajaran adalah adanya faktor pendukung, misalnya metode, strategi, dan teknik pembelajaran. Tekonolgi Informasi  merupakan salah satu bagian yang menunjang unsur- unsur tersebut.
Menurut ensiklopedia bebas , teknologi  adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.  Dan informasi adalah adalah hasil pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian/penataan dari sekelompok data yang mempunyai nilai pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya  (Wikipedia - Indonesia).
            Dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi  / information technology  adalah teknologi yang  yang melakukan pengolahan data dengan cara mengolah, memproses, menyusun,  mengubah, menyimpan, memanipulasi data kemudian  mengkomunikasikan atau menyebarkannya.  Informasi  yang dihasilkan merupakan informasi yang berkualitas dan akurat dan dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, system jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.
Berbagai produk teknologi yang telah kita nikmati misalnya dalam bentuk e-mail yang memungkinkan kita untuk saling mengirim bahan/ dokumen dengan cepat dan dalam jangkauan jarak yang jauh. Blog yang memberi ruang bagi kita untuk saling berbagi pendapat, opini secara luas dan dapat  diakses semua orang, multimedia yang menggabungkan unsur teks, gambar, animasi,audio dan video untuk menghasilkan produk yang bisa digunakan baik secara mandiri atau melalui arahan oleh semua orang. Mobile learning  sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan mobile device dalam pembelajaran, dimana siswa dapat mengakses materi, arahan dan aplikasi yang berkaitan dengan pelajaran tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, dimanapun dan kapanpun mereka berada.  dan E-learning  atau Elektronic Learning, merupakan proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya.
            Di dalam dunia pendidikanpun, teknologi informasi  memegang peranan penting, sebab dunia pendidikan adalah dunia yang selalu mengalami perubahan.  Berbagai jenis teknologi memunjang langsung pada pencapaian tujuan pendidikan tersebut.
            Sesuai dengan tuntutan zaman, pendidikan tidak lagi harus merupakan sebuah proses yang face to face. Ilmu bisa didapatkan melalui berbagai media. Selain televisi yang hanya memberikan informasi satu arah, kita bisa pula menemukan pembelajaran yang memberikan informasi dua arah atau lebih.  Pembelajaran secara mandiri dapat menggunakan layanani tutorial melalui CD interaktif.  Informasi yang lebih luas bisa kita dapatkan melalui layanan internet. Hal inilah yang menimbulkan kemungkinan bahwa di suatu saat nanti,  pembelajaran tidak memerlukan pertemuan antara guru dengan siswa ( walaupun hal ini tidak menjamin terjadinya sebagai sebuah proses pendidikan).
            Beberapa tujuan penggunaan teknologi informasi dalam dunia pendidikan yaitu :
1.Mempermudah kerjasama baik antara peserta didik, peserta didik dengan guru, maupun kerjasama antarguru.
2. Sharing/ berbagi informasi.
3. Virtual university ( pendidikan yang dapat diakses banyak orang).
            Besarnya sumbangan teknologi informasi ke dalam dunia pendidikan tidaklah dapat kita pungkiri. Di sisi lain, hal apapun mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak negatif yang terjadi, teknologi bisa membuat peserta semakin malas untuk bersosialisasi secara langsung. Dari segi kemudahan mendapatkan materi, membuat peserta didik seringkali melakukan penjiplakan dengan serta merta (copy-paste). Yang lebih parah, dalam proses evaluasi, teknologi informasi memberikan peluang terjadinya tindakan yang buruk misalnya dengan cara saling   mengirimkan jawaban soal. Hal ini berakibat evaluasi tidak berjalan dengan sesuai tujuan.
  Berdasarkan  hal tersebut, tugas kita adalah menyiasati agar dampak positif penggunaan teknologi informasi  jauh lebih besar untuk dunia pendidikan terutama untuk peserta didik, dan menekan serendah mungkin dampak negatif dari teknologi tersebut.
                                    ******************************
                                   




Rabu, 24 Juli 2013

Beban Menghimpit Anak-Anak Kita


Beban Menghimpit Anak-Anak Kita
Oleh: Anne A. Permatasari
            Persaingan di dunia global saat ini bukan lagi hal yang asing.  Kerasnya kehidupan menempa orang-orang di masa kini dan membuahkan  persaingan keras yang kadangkala begitu berat dihadapi.  Dalam dunia yang lebih kecil sekalipun yaitu dunia anak- anak, persaingan itu  tidaklah berbeda.  
Sekolah sebagai salah satu lingkungan anak-anak memberikan gambaran ini.Anak-anak bersaing dengan ketat.Mereka berusaha keras menaklukan tantangan yang dikondisikan untuk mereka tanpa menyadari bahwa mereka telah terbelenggu oleh sebuah rutinitas yang bisa membuat mereka jenuh, tidak berdaya, merasa frustrasi sehingga akhirnya menyerah, kalah.
            Kita sebagai orang tua, sebagai guru, terkadang luput menyadari hal itu .Sampai suatu saat, kesadaran terlambat datang. Sering kali kita terlalu asyik menggeluti dunia sendiri, mengukur anak-anak dari cara pandang sendiri. Kita memperlakukan anak sebagai sebuah objek.Kita menuntut mereka dengan standar kita.
            Jika sedikit saja kita mau meluangkan waktu untuk mengikuti, menelaah, serta mengevaluasi kegiatan rutin anak-anak kita dalam seminggu dengan seksama, maka kita akan terkejut sendiri, betapa hebat dan kuatnya anak-anak kita bertahan dalam dunianya meskipun tersaruk-saruk.
            Kita akan merinding sendiri jika menelaah kehidupan siswa tingkat SMP dan SMA yang bersekolah di sekolah rintisan RSBI apalagi SBI. Mereka mulai belajar tepat jam 07.00 pagi, dengan durasi per mata pelajaran @ 45 menit, 2 kali waktu istirahat, mereka menyelesaikan tidak kurang dari 12-14 jam pelajaran. Proses pembelajaran berakhir lebih  kurang dari jam 16.00.   Kemudian, beberapa hari dalam seminggu dilanjutkan dengan kegiatan ekskul, mereka menghabiskan waktu  di sekolah  lebih lama lagi bahkan sampai Magrib tiba.  Mengingat tuntutan materi pelajaran yang berat, beberapa, bahkan kebanyakan siswa dari kelas akselerasi sekalipun membutuhkan bantuan belajar. Tidak pelak, mereka masih  menghabiskan  waktu sore mereka sepulang dari sekolah untuk mengikuti BIMBEL yang minimalnya  dilaksanakan tidak kurang dari 3 kali pertemuan dalam seminggu. Belum lagi kerja kelompok yang bisa menghabiskan satu-satunya hari libur mereka, yaitu Minggu.Tergambar bukan, bagaimana anak-anak kita sehari-hari dalam mengisi masa remajanya?
            Jika kegiatan mereka setiap hari berhenti sampai di situ, tidaklah mengapa.Kita bisa bertoleransi.Tetapi bagaimana jika kemudian masing-masing pelajaran memberikan tugas-tugas yang membludak setiap harinya? Jelas pekerjaan itu hanya dapat dilakukan pada malam hari, mencuri waktu rehat mereka. Apa yang terjadi kemudian, jika tugas-tugas tersebut membutuhkan media yang canggih? Komputer tentu saja sudah bukan hal baru dan mewah, bagaimana dengan internet?Apa semua siswa siap dengan layanan itu di rumah? Jika tidak ,merekapun harus siap ke warnet, malam-malam. Tidak perduli anak lelalki atau perempuan.Bagaimana jika listrik tiba-tiba padam?Adakah toleransi dari para guru mata pelajaran?Toh tidak semua siswa memiliki laptop yang bisa memiliki cadangan energi? Dengan kondisi-kondisi seperti itu, sanggupkan anak mengejar target sampai waktu jam tidur sekitar jam 9 -10 malam?
            Tidak ibakah kita dengan anak-anak yang kehilangan waktu beribadah yang biasanya diwajibkan dalam rentang Magrib sampai Isya? Tidak sedihkah kita ketika anak-anak kita tidak lagi memiliki waktu bercengkrama dengan orang tua, anggota keluarga lain, sekedar bercengkrama, berbagi cerita, menyampaikan keluh kesah, menguntai harapan, memahat satu saja anak tangga yang kokoh menuju masa depan mereka? Tidak miriskah jika seharian penuh, anak-anak kita malah tidak memiliki masa untuk sekedar melepas penat walau hanya sekedar menonton, bercanda dengan saudara, menengok kawan sebaya di pinggir rumah, melakukan hobi mereka? Tidak ngerikah kita, jika anak-anak kita kemudian hanya memiliiki sahabat-sahabat yang “mati”, sekedar buku paket yang kerapkali juga tidak sempat terbaca mereka, LKS, internet, komputer, atau sahabat dunia maya yang karakternyapun hanya dapat dibaca melalui status di FB atau Twitter belaka? Karakter semu dan   bisa tidak  jujur karena tiap orang berkecenderungan melakukan manipulasi demi kepuasan pribadi belaka? Kondisi inilah  yang sering menggeliat, menimbulkan banyak kasus kriminal diantara remaja. Bukan sekali dua, jejaring sosial memunculkan kasus penculikan, penipuan bahkan memungkikan penggalangan kelompok yang berfaham tertentu.Apa kemudian yang bisa kita lakukan?
            Teringat dalam sebuah tayangan televisi, Seorang pembawa acara mengusik fikiran kita dengan sederet simpulan tentang anak-anak kita : “ Alangkah kasihannya anak-anak kita. Mereka dijejali sejumlah mata pelejaran dan dituntut memiliki kemampuan yang dimiliki para guru, tanpa ampun.Tidak boleh menyaring, mana yang mereka minati atau tidak karena semua yang mereka terima adalah kewajiban.Sementara guru, seorang spesialis.Mereka tangguh di mata pelajarannya sendiri.Kondisi anak-anak kita sekarang, tidak ubah dengan sebuah gelas, yang diisi terus menerus. Ketika terlalu penuh, gelas itupun tidak boleh tumpah! ”. Ini sebuah simpulan yang unik, menarik jika dikaji dengan hati.
            Banyak anak-anak kita terutama di sekolah RSBI/SBI yang mungkin sulit untuk merasa bahagia karena mereka kekurangan waktu untuk  menikmati masa remaja mereka. Jika guru saja dengan label sertifikasi diwajibkan minimal 24 jam pelajaran tatap muka tiap minggu di luar kegiatan lainnya, anak-anak RSBI/SBI  di luar jam ekskul, les tambahan, harus kuat dengan lebih-kurang 56  jam tatap muka setiap minggu. Dengan materi yang berbeda dan tuntutan sama karena harus mencapai KKM.  Luar biasa anak-anak kita itu.Pernah terpikir oleh kita, berapa lamakah mereka mampu bertahan? Tidakkah mereka akan mencapai titik jenuh terlalu dini? Sementara fase kehidupan yang harus mereka jalani masih sangat panjang.
            Lalu apa kemudian yang bisa kita lakukan? Menghentikan program sekolah RSBI/SBI jelas bukan kewenangan kita. Karena pada awalnyapun penyelenggaraan sekolah ini pasti sudah melalui kajian yang melibatkan banyak ahli. Secara sederhana saja Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional atau disingkat RSBI, merupakan suatu program pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 50 ayat 3, yang menyatakan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. RSBI ini  merupakan upaya pemerintah untuk menciptakan sekolah yang berkualitas. Peningkatan kualitas ini diharapkan akan mengurangi jumlah siswa yang bersekolah di luar negeri.Pada proses pelaksanaannya, mungkin tidak seperti tujuan semula dengan banyak faktor dan  kini kembali tengah mengalami kaji ulang oleh para pakar pendidikan. Tetapi diakui atau tidak. RSBI menyumbang banyak terutama pada penyediaan jam pelajaran yang berimbas langsung pada program sertifikasi guru.
            Apa yang kemudian bisa kita sumbangkan dlam menjaga potensi bunga bangsa yang baru tumbuh itu?  Sebagai orang tua, kita harus lebih cerdik, menyela saja sisa waktu mereka, hanya sekedar bertanya, mengusap kepala mereka, mencium pipi mereka, memberikan dukungan moral, bahwa kita selalu ada di sisi mereka, walaupun kita tidak bisa membantu mereka. Sebagai penyelenggara/pelaksana  pendidikan, memahami lebih dalam bahwa RSBI bukan semata menambah jam pelajaran tapi juga meningkatkan kualitas, sehingga waktu belajar yang demikian panjang mampu memenuhi kebutuhan belajar mereka tanpa harus mereka tambah lagi di luar jam pelajaran. Artinya, cukupkan tuntutan kepada siswa dengan meminimalisasi tugas-tugas yang sebenarnya bisa diselesaikan selama jam pelajaran panjang tersebut secara individual dan lebih utamanya secara klasikal yang menuntut kerjasama kelompok, ujungnya memupuk rasa kebersamaan,saling bahu membahu dan ini menjadi bekal kehidupan sosial mereka di masa depan .
Dengan cara tersebut, berbagai kendala yang dihadapi siswa akan mampu teratasi, terutama oleh siswa dengan banyak keterbatasan fasilitas. Tanpa tugas berat yang bertumpuk dan terus menerus, siswa akan bersemangat pulang ke rumah, mengisi waktu luang mereka dengan menyalurkan hobi dan membentuk karakter mererka dengan cara bersosialisasi dengan lingkungan. Ini akan sesuai dengan tuntutan pendidikan kita yang harus mampu membentuk siswa berkarakter.
            Jika kita menyelami semua itu dengan hati yang terbuka, tidak akan ada fihak yang dirugikan, malah saling menguntungkan. Dengan Program RSBI, guru terbantu dalam penyediaan jam pelajaran untuk pemenuhan tuntutan sertifikasi mereka. Siswa terfasilitasi kebutuhan belajarnya. Dengan efisiensi waktu, siswa masih memiliki kehidupannya sendiri, orang tua tidak merasa kehilangan anak-anaknya, jalinan sosial dengan lingkungan sekitarpunpun terbina dengan baik.  Kembali, hal ini akan menjadi cikal bakal kebersamaan yang kuat dalam sebuah masyarakat sehingga mereka tidak mudah tercerai berai karena egoisme pribasi ataupun kelompok.
            Mari kita belajar untuk selalu mencintai anak-anak kita, dengan menyadari bahwa mereka adalah amanah. Mutiara hati terbesar di masa depan kita. Dengan belajar memahami dan menempatkan diri dalam banyak posisi, Insya Allah memudahkan kita mendapatkan solusi.(Terbit Garoet Ekspress, Oktober 2012)


Degradasi Moral di Kalangan Remaja


Degradasi Moral di Kalangan Remaja
             (cermin pendidikan kita hari ini)
Oleh: Anne A. Permatasari

Belakangan ini, digembar-gemborkan hasil pendidikan yang menuntut lahirnya siswa  berkarakter. Berbagai pertanyaan timbul sehubungan dengan hal itu. Karakter apa yang dimaksud? Apakah selama ini pendidikan kita tidak bertujuan untuk membentuk karakter itu?
Pendidikan berupaya mendewasakan manusia.Dewasa berarti bertanggungjawab atas semua perilaku dan itu hanya bisa dibentuk oleh mental yang berkarakter.
Entah sudah beberapa dekade, kita tidak lagi temukan nuansa yang kental dengan karakter moral terutama etika.Dahulu, betapa hal itu memegang peranan penting.Orang dinilai dari caranya bertutur dan bersikap.
Kini, terutama dalam lingkungan sekolah, degradasi ini sering kita temukan. Bukan sekali-dua kita temukan siswa yang bahkan tidak mengenal nama gurunya. Cukup dengan memberikan label pelajaran unuk masing-masing guru, “guru bahasa Indonesia” misalnya. Atau siswa yang bersikap hare-hare munding kepada guru yang tidak mengajar di kelasnya langsung apalagi jika guru tersebut tidak berada dalam lingkungan sekolahnya.
Hubungan dengan temanpun sungguh sangat riskan.Etika yang terutama tergambar melalui bahasa dan tatakrama sangatlah berada di ambang batas.Bahasa-bahasa yang kasar kerap dipergunakan dan seolah melahirkan sebuah keeksisan yang kuat. Istilah lu, gue…membahana di seantero sekolah. Hubungan dengan lawan jenis seolah tanpa sekat. Kedekatan itu pula yang melahirkan berkurangnya rasa hormat dari  lawan jenis.
Dahulu, tatanan dengan orang tua sangatlah ketat.Tidak ada yang berani berkata dengan suara keras atau berdiri jika berbicara dengan orang yang lebih tua.Di tempat umum, dalam angkutan umum, sudah seringkali kita temukan anak-anak muda yang duduk dengan santai, sementara para orang tua berdiri kepenatan.Tidak sedikitpun berusaha menggeser tempat duduk atau sekedar berbasa-basi menawarkannya di angkutan umum. Lebih buruk lagi, banyak kasus yang menggambarkan memburuknya hubungan orang tua dan anak kandung akibat  degradasi moral dan  bisa  membuat bulu kuduk berdiri.
Dalam lingkungan masyarakat luas, hal ini  lebih terasa. Masih lekat dalam benak kita ketika Maret berbalut kenangan masa berlangsungnya demontrasi-demontrasi mahasiswa.Kenangan buruk yang menusuk mata telinga dan hati. Terbersit perasaan yang tidak kita fahami, manakala melihat para mahasiswa yang notabenenya anak  yang kita lahirkan sendiri, berada di jalanan. Mereka menelanjangi intelektualitas mereka dengan tindak arogansi, beradu otot dengan para ponggawa keamanan yang semestinya melindungi mereka.Jauh dalam hati, perasaan sakit tak terperi muncul.Ya Allah, inikah potret hasil pendidikan kami para guru selama ini?
 Dipicu oleh rencana pemerintah yang hendak menaikkan harga BBM,anak-anak kita berhambur turun ke jalan. Sebuah solusi yang disimpulkan sendiri bahwa inilah cara paling efektif menyuarakan hati rakyat ( walaupun entah yang mana). Hal yang patut digarisbawahi adalah, betapa malunya kita melihat gambaran bangsa ini di jalanan. Betapa carut marut, betapa sudah tidak ada lagi nya norma dan etika  ketika ego menguasai hati. Yang satu merangsek, yang lain bertahan.  Tidak adakah jalan lain?
Begitu ngerinya kita melihat anak-anak kita membabi buta, menggambarkan ego yang terluka karena merasa tidak digubris. Seolah berusaha menyuarakan kegetiran rakyat jelata yang  ekonominya makin terjepit  akibat kenaikan BBM padahal mereka tidak  pernah bersinggungan langsung dengan BBM itu. Bukan wajah iba yang bisa membuat nurani para pemimpin luluh dan memehami penderitaan.  Yang ada, adalah wajah garang yang marah, terluka, berbahaya, mengancam, dan menguasai medan laga seolah menantang.  Fahamkah mereka dengan apa yang mereka lakukan? Apa yang akan mereka dapat? Selain itu,inikah hasil pendidikan  bangsa  kita?
Sekolah bukan satu-satunya lahan pendidikan,  masyarakatlah lahan utama. Jika di sekolah siswa dibekali sikap normatif, bagaimana akan berhasil jika setiap hari disuguhi adu jotos di lembaga tinggi, tawuran pelajar, bentrokan satpol pp dengan  pedagang kaki lima, oknum penegak hukum yang berkasus, bentrok antar warga, kebebasan media yang berlebih, laju teknologi yang tidak berbungkus agama hingga situs tak bertanggungjawab bersliweran, debat berdebat yang membuat suasana panas dan tidak membuahkan solusi? Yang jelas, masyarakat apalagi remaja semakin bingung menemukan kebenaran.
Kita jelas tidak bisa saling menyalahkan.Tetapi menyelamatkan karakter generasi penerus adalah tanggungjawab bersama.Semua harus bergerak.Toleransi kita terhadap kesalahan nyata selama ini, terlalu besar. Dan inilah salah satu akibatnya
Bagaimanapun, kita- para pendidik berandil besar. Jika resiko pekerjaan kita terukur di masa depan, inilah hasilnya.  Tetapi kita tidak perlu  bersedih karena merasa gagal menjaga bunga bangsa dalam memiliki karakter penuh normatif.  Yang penting jangan  berputus asa, selalu optimis dan berfikir positif. Pendidikan tidak akan pernah berakhir. Mungkin, ada baiknya pula kita resapi sederet kalimat hikmah berikut ini:Jagalah perkataan, hati, dan pikiran karena itu akan melahirkan perbuatan. Jagalah perbuatan karena akan melahirkan kebiasaan. Jagalah kebiasaan karena kebiasaan akan melahirkan karakter.  Jagalah karakter karena karakter akan menentukan nasib (anonim)”.( terbit KANDAGA, September 2012)











CERPEN


DATANGLAH DI MUSIM SEMI
(Barangkali kasihpun kan ….)
Anne A. Permatasari

Sms terpagi hari ini, membuatku sedikit terperangah kaget.Usai Ramadhan selalu saja berjubel sms masuk.Tapi undangan reuni? Ini membuatku kaget.
     Masa SMA tlah kutinggalkan lebih dari 20 tahun yang lalu.Tak terasa usiaku tambah renta,tapi ini ramadhan ke-41 dalam hidupku.Usia yang kata orang benar-benar matang.Benarkah?
Sms ini menggugah kenangan masa lalu.
"Kuberi tenggang waktu,dua dasawarsa sekalipun Mit,apa itu tak gila? kurasa cukup masa untuk mengukur,benarkah perasaanku akan bertahan atau tidak?" dia bersikukuh. Aku hanya tersenyum kecut.Si manis yang satu ini memang pantang menyerah,hanya saja dia salah langkah.
Setelah ditinggalkannya beberapa sahabatku,dia mulai melirik padaku yang katanya "beku",hingga dia enggan mendekatiku."Sumpah,sebenarnya aku tertarik padamu,tapi kamu dingin, membentengi diri,dan terkesan angkuh.Jadi aku takut kamu malah menjauh,sementara rivalku berjubel ".  Aku tersenyum kecil,jadi sang playboy inipun mengenal juga rasa keder?
Maka putuslah.Kubohongi laki-laki yang memiliki banyak pemuja ini,dengan kekasih khayalanku yang entah dari negeri antah berantah mana.Tapi kuhibur hatinya dengan selarik  janji "Datanglah di musim semi,barangkali..."
Ini lebih dari dua puluh tahun kemudian.Apa yang masih diharapkan Yanuar,lelaki itu? Mitha yang imut-imut,pemalutapi  memiliki banyak pemuja gelap?Apa Yan masih ingat janjinya dulu dan sekarang hendak menepatinya dengan mengemas reuni kelas?
Aku tersenyum kecil.Yan pasti kaget melihat sosok tubuhku yang menggembung dan tak lagi pemalu.Sebenarnya aku enggan bertemu dengannya kalau saja tak kuingat janji itu dan ada secercah keinginan lain yang tak mampu kumengerti.
                                                *********
" Mitha...?" suaranya menelan seluruh tubuhku.Inikah Yan? Sosok tinggi besar itu menyambutku di aula sekolah dulu. Aku terperangah kaget.Penampilannya betul-betul metroseksual.Semua menunjuk betapa makmurnya dia.Aku hampir tak percaya.
Dua dasawarsa lebih berlalu.Tak ada lagi Yan yang bersahaja, tinggi kurus,pintar,jago basket, berambut agak panjang,ngomong ceplas-ceplos, dan bertampilan cuek tapi menggemaskan, dulu. Ini benar- benar berubah. Gila.  Apa yang terjadi dengannya? Sekilas saja hampir kusesali pertemuan dengannya.
" Kamu cantik seperti dulu,Mit. Lebih matang tapi tetap tak berubah ", genggam tangannya menguat. Aku kembali tersenyum.Kagum dengan keberaniannya membohongi diri."Kamu salah,Yan. Hidup telah mengubah banyak hal dariku, juga kamu ", ucapku meninggalkan Yan di masa lalu.
                                                *********
Pintu terbuka mengiringi salamku.Dua matahati berebut menyambutku,sepertinya tak jumpa berabad lamanya. Ini kerinduan yang tak pernah berujung.Di belakangnya, belahan jiwaku tersenyum.Senyum yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu.Tak pernah berubah.Aku mencintainya dengan semua kelebihan dan kekurangannya.
Kupeluk anak-anakku.Lalu,dengan segenap hormatku,kucium tangan suamiku.Selalu dengan hati,kubisikkan: "Jangan berubah,kekasihku,jangan pernah. Sebab kuharap,denganmulah kujalani hidup karena Allah”.
(Idul Fitri 1428 H, kado ultah ke- 42).