Rabu, 20 Maret 2013

DIKLAT SERTIFIKASI






Selama ini, istilah sertifikasi hanya diikuti melalui cerita dan berita teman-teman yang berproses  di dalamnya. Mulai dari proses  awal digulirkannya program sertifikasi yaitu penyusunan portofolio, pelaksanaan diklat, ferifikasi, validasi, perubahan perubahan ketentuan yang kerap membingungkan, pencairan dana sertifikasi yang selalu bikin surprise,terakhir keputusan final tentang ketatnya penyusunan  portofolio sehingga proses sertifikasi  diarahkan pada diklat. Semua sudah kenyang terdengar dan inilah saya sekarang , di era terakhir proses sertifikasi tahun ini.
Mengalami proses sertifikasi yang nota benenya mengikuti diklat ternyata merupakan pengalaman yang luar biasa. Semua perasaan was-was, takut, hilang lenyap begitu saja ketika kita mengalaminya sendiri.  Sepuluh  hari yang menegangkan memberi pengalaman yang luar biasa. Ujungnya, kita bisa merefleksi diri, inilah kita. Sebuah komponen pendidikan yang sangat kecil, tapi tanpa kita, dijamin, pendidikan di sekolah tidak akan berjalan.
            Artinya, Betapa berharganya kita.  Tanpa kita sadari betapa banyak  komponen  yang bergantung pada peran kita sementara kita sendiri  masih begitu miskin. Selama ini kita telah mendidik anak.   Berpeluh ton-ton keringat menghadapi mereka .  Berkutat dengan model, metode , dan teknik yang jungkir balik kita pergunakan.  Diklat sertifikasi  menyadarkan bahwa hal itu kita rasakan karena sebenarnya  kita tidak menggunakan  teknik yang tepat.  Sebenarnya tanpa harus berpeluh keringat kita bisa mendidik anak  asal kita mampu menjadi  fasilitator.  Nah, itu dia!
            Peran kita  sebagaisuperhero hendaknya dibuang jauh-jauh. Kita tidak perlu merasa takut atau  malu manakala  mendapati  anak mengetahui segala sesuatu lebih dahulu dari kita. Tugas kita adalah mengejar mereka untuk mengarahkannya.  Membuat anak merasa nyaman  manakala mereka menang  karena bisa mengetahui banyak hal lebih dahulu dari kita.  Kita tidak perlu  merasa malu mengakuinya.  Justru kita harus bangga bahwa saat itulah, keberhasilan kita sebagai fasilitator terbukti. Di sisi lain, membuat kita tertantang untuk mengimbangi anak .salah satunya dengan membuka wawasan kita tentang dunia per-IT-an.
Ini jarang terjadi di era pembelajaran lama. Guru selalu berada dalam posisi serba tahu, malu jika anak mengalahkannya, kadang ego terusik manakala anak mengkritisi, lalu menganggap anak sok tahu. Bahkan, tak menutup kemungkinan (maaf) jika sampai  menekan nilai akademis anak tersebut.
            Sertifikasi mengajarkan bahwa kita harus sudah membuang jauh-jauh hal itu. Justru perubahan dari status guru sebagai sumber yang serbatahu  menjadi fasilatator dan duduk bersama dengan murid dalam menemukan sebuah pengalaman baru, haruslah disikapi dengan dewasa.
Setelah dihayati, itu memang begitu mencengangkan. Dengan bekal yang ada , kita bersedia lebih aktif dalam menyelenggarakan proses ,memotivasi siswa menyiapkan  sumber pembelajaran, menemukan metode yang tepat di lapangan, ternyata kita tidak perlu lagi  cape sorangan. Biarlah siswa menemukan sendiri pengalaman mereka. Salah dan benar bukanlah tujuan utama karena sebuah nilai  bisa berubah sesuai zaman tapi proses pembelajarannyalah yang penting kita tanamkan kepada siswa. Sehingga terbentuk siswa yang berani mencoba,tidak takut salah, mampu memecahkan masalah, tanpa mengabaikan kesantunan dan aspek berketuhanan tentunya.
            Diklat sertifikasi selain memberikan nuansa pembelajaran baru yang mudah-mudahan akan mampu dilaksanakan dengan baik dan  sesuai tuntutan, juga menjadi ajang bertemunya para pendidik. Saat seperti itu, tumbuh sebuah kekuatan baru.Bahwa kita adalah ujung tombak yang mengemban amanat berat tetapi siap kita pikul bersama-sama. Sebuah nilai solidaritas yang terbentuk pada saat kesamaan nasib mempertemukan dalam area yang sama.
            Jadi benar, jangan takut dengan proses apapun apalagi  diklat sertifikasi. Kendati sempat membuat jantung berdebar dengan kriteria lulus, remedi, atau tidak lulus.Diklat berujung pada sebuah tuntutan, menjadi seorang guru professional.  Berat memang, karena perubahan yang menetap tidak bisa secara instan terbentuk tetapi harus melalui proses.
Ternyata, dalam proses pendidikan  bukan hanya anak yang harus  berproses menjadi dewasa, pembelajaran  yang  selalu berproses sesuai tuntutan , kitapun sebagai guru akan selalu berada dalam proses menjadi dewasa dan profesional.  Tapi jangan takut.Profesional hanya sebuah label. Keberhasilan kita mendidik anak, akan tergambar dengan sendirinya walaupun membutuhkan waktu yang sangat panjang.  Yang penting, kita berusaha maksimal, selalu terbuka pada perubahan, menjalankan proses dengan  maksimal,  dan selalulah berniat untuk menjadi lebih baik dan lebih baik (Des 2011)
*******************************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar