Selama
ini, istilah sertifikasi hanya diikuti melalui cerita dan berita teman-teman
yang berproses di dalamnya. Mulai dari proses awal digulirkannya program sertifikasi yaitu
penyusunan portofolio, pelaksanaan diklat, ferifikasi, validasi, perubahan
perubahan ketentuan yang kerap membingungkan, pencairan dana sertifikasi yang
selalu bikin surprise,terakhir keputusan final tentang ketatnya penyusunan portofolio sehingga proses sertifikasi diarahkan pada diklat. Semua sudah kenyang
terdengar dan inilah saya sekarang , di era terakhir proses sertifikasi tahun
ini.
Mengalami
proses sertifikasi yang nota benenya mengikuti diklat ternyata merupakan
pengalaman yang luar biasa. Semua perasaan was-was, takut, hilang lenyap begitu
saja ketika kita mengalaminya sendiri.
Sepuluh hari yang menegangkan
memberi pengalaman yang luar biasa. Ujungnya, kita bisa merefleksi diri, inilah
kita. Sebuah komponen pendidikan yang sangat kecil, tapi tanpa kita, dijamin,
pendidikan di sekolah tidak akan berjalan.
Artinya, Betapa berharganya kita. Tanpa kita sadari betapa banyak komponen
yang bergantung pada peran kita sementara kita sendiri masih begitu miskin. Selama ini kita telah
mendidik anak. Berpeluh ton-ton
keringat menghadapi mereka . Berkutat
dengan model, metode , dan teknik yang jungkir balik kita pergunakan. Diklat sertifikasi menyadarkan bahwa hal itu kita rasakan karena
sebenarnya kita tidak menggunakan teknik yang tepat. Sebenarnya tanpa harus berpeluh keringat kita
bisa mendidik anak asal kita mampu
menjadi fasilitator. Nah, itu dia!
Peran kita sebagaisuperhero hendaknya dibuang jauh-jauh.
Kita tidak perlu merasa takut atau malu
manakala mendapati anak mengetahui segala sesuatu lebih dahulu
dari kita. Tugas kita adalah mengejar mereka untuk mengarahkannya. Membuat anak merasa nyaman manakala mereka menang
karena bisa mengetahui banyak hal lebih dahulu dari kita. Kita tidak perlu merasa malu mengakuinya. Justru kita harus bangga bahwa saat itulah,
keberhasilan kita sebagai fasilitator terbukti. Di sisi lain, membuat kita
tertantang untuk mengimbangi anak .salah satunya dengan membuka wawasan kita
tentang dunia per-IT-an.
Ini jarang
terjadi di era pembelajaran lama. Guru selalu berada dalam posisi serba tahu,
malu jika anak mengalahkannya, kadang ego terusik manakala anak mengkritisi,
lalu menganggap anak sok tahu. Bahkan, tak menutup kemungkinan (maaf) jika
sampai menekan nilai akademis anak
tersebut.
Sertifikasi mengajarkan bahwa kita harus sudah membuang
jauh-jauh hal itu. Justru perubahan dari status guru sebagai sumber yang
serbatahu menjadi fasilatator dan duduk
bersama dengan murid dalam menemukan sebuah pengalaman baru, haruslah disikapi
dengan dewasa.
Setelah
dihayati, itu memang begitu mencengangkan. Dengan bekal yang ada , kita
bersedia lebih aktif dalam menyelenggarakan proses ,memotivasi siswa
menyiapkan sumber pembelajaran,
menemukan metode yang tepat di lapangan, ternyata kita tidak perlu lagi cape
sorangan. Biarlah siswa menemukan sendiri pengalaman mereka. Salah dan
benar bukanlah tujuan utama karena sebuah nilai
bisa berubah sesuai zaman tapi proses pembelajarannyalah yang penting
kita tanamkan kepada siswa. Sehingga terbentuk siswa yang berani mencoba,tidak
takut salah, mampu memecahkan masalah, tanpa mengabaikan kesantunan dan aspek
berketuhanan tentunya.
Diklat sertifikasi selain memberikan nuansa pembelajaran
baru yang mudah-mudahan akan mampu dilaksanakan dengan baik dan sesuai tuntutan, juga menjadi ajang
bertemunya para pendidik. Saat seperti itu, tumbuh sebuah kekuatan baru.Bahwa
kita adalah ujung tombak yang mengemban amanat berat tetapi siap kita pikul
bersama-sama. Sebuah nilai solidaritas yang terbentuk pada saat kesamaan nasib
mempertemukan dalam area yang sama.
Jadi benar, jangan takut dengan proses apapun
apalagi diklat sertifikasi. Kendati
sempat membuat jantung berdebar dengan kriteria lulus, remedi, atau tidak
lulus.Diklat berujung pada sebuah tuntutan, menjadi seorang guru
professional. Berat memang, karena
perubahan yang menetap tidak bisa secara instan terbentuk tetapi harus melalui
proses.
Ternyata,
dalam proses pendidikan bukan hanya anak
yang harus berproses menjadi dewasa,
pembelajaran yang selalu berproses sesuai tuntutan , kitapun
sebagai guru akan selalu berada dalam proses menjadi dewasa dan profesional. Tapi jangan takut.Profesional hanya sebuah
label. Keberhasilan kita mendidik anak, akan tergambar dengan sendirinya
walaupun membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Yang penting, kita berusaha maksimal, selalu terbuka pada perubahan,
menjalankan proses dengan maksimal, dan selalulah berniat untuk menjadi lebih
baik dan lebih baik (Des 2011)
*******************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar