Degradasi Moral di Kalangan Remaja
(cermin pendidikan kita hari ini)
Oleh: Anne A. Permatasari
Belakangan ini, digembar-gemborkan
hasil pendidikan yang menuntut lahirnya siswa
berkarakter. Berbagai pertanyaan timbul sehubungan dengan hal itu.
Karakter apa yang dimaksud? Apakah selama ini pendidikan kita tidak bertujuan
untuk membentuk karakter itu?
Pendidikan berupaya mendewasakan
manusia.Dewasa berarti bertanggungjawab atas semua perilaku dan itu hanya bisa
dibentuk oleh mental yang berkarakter.
Entah sudah beberapa dekade, kita
tidak lagi temukan nuansa yang kental dengan karakter moral terutama
etika.Dahulu, betapa hal itu memegang peranan penting.Orang dinilai dari
caranya bertutur dan bersikap.
Kini, terutama dalam lingkungan
sekolah, degradasi ini sering kita temukan. Bukan sekali-dua kita temukan siswa
yang bahkan tidak mengenal nama gurunya. Cukup dengan memberikan label
pelajaran unuk masing-masing guru, “guru bahasa Indonesia” misalnya. Atau siswa
yang bersikap hare-hare munding
kepada guru yang tidak mengajar di kelasnya langsung apalagi jika guru tersebut
tidak berada dalam lingkungan sekolahnya.
Hubungan dengan temanpun sungguh
sangat riskan.Etika yang terutama tergambar melalui bahasa dan tatakrama
sangatlah berada di ambang batas.Bahasa-bahasa yang kasar kerap dipergunakan
dan seolah melahirkan sebuah keeksisan yang kuat. Istilah lu, gue…membahana di seantero
sekolah. Hubungan dengan lawan jenis seolah tanpa sekat. Kedekatan itu pula
yang melahirkan berkurangnya rasa hormat dari
lawan jenis.
Dahulu, tatanan dengan orang tua
sangatlah ketat.Tidak ada yang berani berkata dengan suara keras atau berdiri
jika berbicara dengan orang yang lebih tua.Di tempat umum, dalam angkutan umum,
sudah seringkali kita temukan anak-anak muda yang duduk dengan santai,
sementara para orang tua berdiri kepenatan.Tidak sedikitpun berusaha menggeser
tempat duduk atau sekedar berbasa-basi menawarkannya di angkutan umum. Lebih
buruk lagi, banyak kasus yang menggambarkan memburuknya hubungan orang tua dan
anak kandung akibat degradasi moral
dan bisa
membuat bulu kuduk berdiri.
Dalam lingkungan masyarakat luas,
hal ini lebih terasa. Masih lekat dalam
benak kita ketika Maret berbalut kenangan masa berlangsungnya
demontrasi-demontrasi mahasiswa.Kenangan buruk yang menusuk mata telinga dan
hati. Terbersit perasaan yang tidak kita fahami, manakala melihat para
mahasiswa yang notabenenya anak yang
kita lahirkan sendiri, berada di jalanan. Mereka menelanjangi intelektualitas
mereka dengan tindak arogansi, beradu otot dengan para ponggawa keamanan yang semestinya melindungi mereka.Jauh dalam
hati, perasaan sakit tak terperi muncul.Ya Allah, inikah potret hasil
pendidikan kami para guru selama ini?
Dipicu oleh rencana pemerintah yang hendak
menaikkan harga BBM,anak-anak kita berhambur turun ke jalan. Sebuah solusi yang
disimpulkan sendiri bahwa inilah cara paling efektif menyuarakan hati rakyat (
walaupun entah yang mana). Hal yang patut digarisbawahi adalah, betapa malunya
kita melihat gambaran bangsa ini di jalanan. Betapa carut marut, betapa sudah
tidak ada lagi nya norma dan etika
ketika ego menguasai hati. Yang satu merangsek,
yang lain bertahan. Tidak adakah jalan
lain?
Begitu ngerinya kita melihat
anak-anak kita membabi buta, menggambarkan ego yang terluka karena merasa tidak
digubris. Seolah berusaha menyuarakan kegetiran rakyat jelata yang ekonominya makin terjepit akibat kenaikan BBM padahal mereka tidak pernah bersinggungan langsung dengan BBM itu.
Bukan wajah iba yang bisa membuat nurani para pemimpin luluh dan memehami
penderitaan. Yang ada, adalah wajah
garang yang marah, terluka, berbahaya, mengancam, dan menguasai medan laga
seolah menantang. Fahamkah mereka dengan
apa yang mereka lakukan? Apa yang akan mereka dapat? Selain itu,inikah hasil
pendidikan bangsa kita?
Sekolah bukan satu-satunya lahan
pendidikan, masyarakatlah lahan utama.
Jika di sekolah siswa dibekali sikap normatif, bagaimana akan berhasil jika
setiap hari disuguhi adu jotos di lembaga tinggi, tawuran pelajar, bentrokan satpol
pp dengan pedagang kaki lima, oknum
penegak hukum yang berkasus, bentrok antar warga, kebebasan media yang
berlebih, laju teknologi yang tidak berbungkus agama hingga situs tak
bertanggungjawab bersliweran, debat
berdebat yang membuat suasana panas dan tidak membuahkan solusi? Yang jelas,
masyarakat apalagi remaja semakin bingung menemukan kebenaran.
Kita jelas tidak bisa saling
menyalahkan.Tetapi menyelamatkan karakter generasi penerus adalah tanggungjawab
bersama.Semua harus bergerak.Toleransi kita terhadap kesalahan nyata selama
ini, terlalu besar. Dan inilah salah satu akibatnya
Bagaimanapun, kita- para pendidik
berandil besar. Jika resiko pekerjaan kita terukur di masa depan, inilah
hasilnya. Tetapi kita tidak perlu bersedih karena merasa gagal menjaga bunga
bangsa dalam memiliki karakter penuh normatif.
Yang penting jangan berputus asa,
selalu optimis dan berfikir positif. Pendidikan tidak akan pernah berakhir. Mungkin,
ada baiknya pula kita resapi sederet kalimat hikmah berikut ini: “Jagalah perkataan, hati, dan
pikiran karena itu akan melahirkan perbuatan. Jagalah perbuatan karena akan
melahirkan kebiasaan. Jagalah kebiasaan karena kebiasaan akan melahirkan
karakter. Jagalah karakter karena
karakter akan menentukan nasib (anonim)”.( terbit KANDAGA, September 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar