Rabu, 24 Juli 2013

Degradasi Moral di Kalangan Remaja


Degradasi Moral di Kalangan Remaja
             (cermin pendidikan kita hari ini)
Oleh: Anne A. Permatasari

Belakangan ini, digembar-gemborkan hasil pendidikan yang menuntut lahirnya siswa  berkarakter. Berbagai pertanyaan timbul sehubungan dengan hal itu. Karakter apa yang dimaksud? Apakah selama ini pendidikan kita tidak bertujuan untuk membentuk karakter itu?
Pendidikan berupaya mendewasakan manusia.Dewasa berarti bertanggungjawab atas semua perilaku dan itu hanya bisa dibentuk oleh mental yang berkarakter.
Entah sudah beberapa dekade, kita tidak lagi temukan nuansa yang kental dengan karakter moral terutama etika.Dahulu, betapa hal itu memegang peranan penting.Orang dinilai dari caranya bertutur dan bersikap.
Kini, terutama dalam lingkungan sekolah, degradasi ini sering kita temukan. Bukan sekali-dua kita temukan siswa yang bahkan tidak mengenal nama gurunya. Cukup dengan memberikan label pelajaran unuk masing-masing guru, “guru bahasa Indonesia” misalnya. Atau siswa yang bersikap hare-hare munding kepada guru yang tidak mengajar di kelasnya langsung apalagi jika guru tersebut tidak berada dalam lingkungan sekolahnya.
Hubungan dengan temanpun sungguh sangat riskan.Etika yang terutama tergambar melalui bahasa dan tatakrama sangatlah berada di ambang batas.Bahasa-bahasa yang kasar kerap dipergunakan dan seolah melahirkan sebuah keeksisan yang kuat. Istilah lu, gue…membahana di seantero sekolah. Hubungan dengan lawan jenis seolah tanpa sekat. Kedekatan itu pula yang melahirkan berkurangnya rasa hormat dari  lawan jenis.
Dahulu, tatanan dengan orang tua sangatlah ketat.Tidak ada yang berani berkata dengan suara keras atau berdiri jika berbicara dengan orang yang lebih tua.Di tempat umum, dalam angkutan umum, sudah seringkali kita temukan anak-anak muda yang duduk dengan santai, sementara para orang tua berdiri kepenatan.Tidak sedikitpun berusaha menggeser tempat duduk atau sekedar berbasa-basi menawarkannya di angkutan umum. Lebih buruk lagi, banyak kasus yang menggambarkan memburuknya hubungan orang tua dan anak kandung akibat  degradasi moral dan  bisa  membuat bulu kuduk berdiri.
Dalam lingkungan masyarakat luas, hal ini  lebih terasa. Masih lekat dalam benak kita ketika Maret berbalut kenangan masa berlangsungnya demontrasi-demontrasi mahasiswa.Kenangan buruk yang menusuk mata telinga dan hati. Terbersit perasaan yang tidak kita fahami, manakala melihat para mahasiswa yang notabenenya anak  yang kita lahirkan sendiri, berada di jalanan. Mereka menelanjangi intelektualitas mereka dengan tindak arogansi, beradu otot dengan para ponggawa keamanan yang semestinya melindungi mereka.Jauh dalam hati, perasaan sakit tak terperi muncul.Ya Allah, inikah potret hasil pendidikan kami para guru selama ini?
 Dipicu oleh rencana pemerintah yang hendak menaikkan harga BBM,anak-anak kita berhambur turun ke jalan. Sebuah solusi yang disimpulkan sendiri bahwa inilah cara paling efektif menyuarakan hati rakyat ( walaupun entah yang mana). Hal yang patut digarisbawahi adalah, betapa malunya kita melihat gambaran bangsa ini di jalanan. Betapa carut marut, betapa sudah tidak ada lagi nya norma dan etika  ketika ego menguasai hati. Yang satu merangsek, yang lain bertahan.  Tidak adakah jalan lain?
Begitu ngerinya kita melihat anak-anak kita membabi buta, menggambarkan ego yang terluka karena merasa tidak digubris. Seolah berusaha menyuarakan kegetiran rakyat jelata yang  ekonominya makin terjepit  akibat kenaikan BBM padahal mereka tidak  pernah bersinggungan langsung dengan BBM itu. Bukan wajah iba yang bisa membuat nurani para pemimpin luluh dan memehami penderitaan.  Yang ada, adalah wajah garang yang marah, terluka, berbahaya, mengancam, dan menguasai medan laga seolah menantang.  Fahamkah mereka dengan apa yang mereka lakukan? Apa yang akan mereka dapat? Selain itu,inikah hasil pendidikan  bangsa  kita?
Sekolah bukan satu-satunya lahan pendidikan,  masyarakatlah lahan utama. Jika di sekolah siswa dibekali sikap normatif, bagaimana akan berhasil jika setiap hari disuguhi adu jotos di lembaga tinggi, tawuran pelajar, bentrokan satpol pp dengan  pedagang kaki lima, oknum penegak hukum yang berkasus, bentrok antar warga, kebebasan media yang berlebih, laju teknologi yang tidak berbungkus agama hingga situs tak bertanggungjawab bersliweran, debat berdebat yang membuat suasana panas dan tidak membuahkan solusi? Yang jelas, masyarakat apalagi remaja semakin bingung menemukan kebenaran.
Kita jelas tidak bisa saling menyalahkan.Tetapi menyelamatkan karakter generasi penerus adalah tanggungjawab bersama.Semua harus bergerak.Toleransi kita terhadap kesalahan nyata selama ini, terlalu besar. Dan inilah salah satu akibatnya
Bagaimanapun, kita- para pendidik berandil besar. Jika resiko pekerjaan kita terukur di masa depan, inilah hasilnya.  Tetapi kita tidak perlu  bersedih karena merasa gagal menjaga bunga bangsa dalam memiliki karakter penuh normatif.  Yang penting jangan  berputus asa, selalu optimis dan berfikir positif. Pendidikan tidak akan pernah berakhir. Mungkin, ada baiknya pula kita resapi sederet kalimat hikmah berikut ini:Jagalah perkataan, hati, dan pikiran karena itu akan melahirkan perbuatan. Jagalah perbuatan karena akan melahirkan kebiasaan. Jagalah kebiasaan karena kebiasaan akan melahirkan karakter.  Jagalah karakter karena karakter akan menentukan nasib (anonim)”.( terbit KANDAGA, September 2012)











Tidak ada komentar:

Posting Komentar