Beban Menghimpit Anak-Anak Kita
Oleh:
Anne A. Permatasari
Persaingan
di dunia global saat ini bukan lagi hal yang asing. Kerasnya kehidupan menempa orang-orang di
masa kini dan membuahkan persaingan
keras yang kadangkala begitu berat dihadapi.
Dalam dunia yang lebih kecil sekalipun yaitu dunia anak- anak, persaingan
itu tidaklah berbeda.
Sekolah sebagai salah
satu lingkungan anak-anak memberikan gambaran ini.Anak-anak bersaing dengan
ketat.Mereka berusaha keras menaklukan tantangan yang dikondisikan untuk mereka
tanpa menyadari bahwa mereka telah terbelenggu oleh sebuah rutinitas yang bisa
membuat mereka jenuh, tidak berdaya, merasa frustrasi sehingga akhirnya
menyerah, kalah.
Kita
sebagai orang tua, sebagai guru, terkadang luput menyadari hal itu .Sampai
suatu saat, kesadaran terlambat datang. Sering kali kita terlalu asyik
menggeluti dunia sendiri, mengukur anak-anak dari cara pandang sendiri. Kita
memperlakukan anak sebagai sebuah objek.Kita menuntut mereka dengan standar
kita.
Jika
sedikit saja kita mau meluangkan waktu untuk mengikuti, menelaah, serta mengevaluasi
kegiatan rutin anak-anak kita dalam seminggu dengan seksama, maka kita akan
terkejut sendiri, betapa hebat dan kuatnya anak-anak kita bertahan dalam
dunianya meskipun tersaruk-saruk.
Kita
akan merinding sendiri jika menelaah kehidupan siswa tingkat SMP dan SMA yang
bersekolah di sekolah rintisan RSBI apalagi SBI. Mereka mulai belajar tepat jam
07.00 pagi, dengan durasi per mata pelajaran @ 45 menit, 2 kali waktu
istirahat, mereka menyelesaikan tidak kurang dari 12-14 jam pelajaran. Proses
pembelajaran berakhir lebih kurang dari
jam 16.00. Kemudian, beberapa hari
dalam seminggu dilanjutkan dengan kegiatan ekskul, mereka menghabiskan waktu di sekolah
lebih lama lagi bahkan sampai Magrib tiba. Mengingat tuntutan materi pelajaran yang
berat, beberapa, bahkan kebanyakan siswa dari kelas akselerasi sekalipun
membutuhkan bantuan belajar. Tidak pelak, mereka masih menghabiskan
waktu sore mereka sepulang dari sekolah untuk mengikuti BIMBEL yang
minimalnya dilaksanakan tidak kurang
dari 3 kali pertemuan dalam seminggu. Belum lagi kerja kelompok yang bisa
menghabiskan satu-satunya hari libur mereka, yaitu Minggu.Tergambar bukan,
bagaimana anak-anak kita sehari-hari dalam mengisi masa remajanya?
Jika
kegiatan mereka setiap hari berhenti sampai di situ, tidaklah mengapa.Kita bisa
bertoleransi.Tetapi bagaimana jika kemudian masing-masing pelajaran memberikan
tugas-tugas yang membludak setiap harinya? Jelas pekerjaan itu hanya dapat
dilakukan pada malam hari, mencuri waktu rehat mereka. Apa yang terjadi
kemudian, jika tugas-tugas tersebut membutuhkan media yang canggih? Komputer
tentu saja sudah bukan hal baru dan mewah, bagaimana dengan internet?Apa semua
siswa siap dengan layanan itu di rumah? Jika tidak ,merekapun harus siap ke
warnet, malam-malam. Tidak perduli anak lelalki atau perempuan.Bagaimana jika
listrik tiba-tiba padam?Adakah toleransi dari para guru mata pelajaran?Toh
tidak semua siswa memiliki laptop yang bisa memiliki cadangan energi? Dengan
kondisi-kondisi seperti itu, sanggupkan anak mengejar target sampai waktu jam
tidur sekitar jam 9 -10 malam?
Tidak
ibakah kita dengan anak-anak yang kehilangan waktu beribadah yang biasanya
diwajibkan dalam rentang Magrib sampai Isya? Tidak sedihkah kita ketika
anak-anak kita tidak lagi memiliki waktu bercengkrama dengan orang tua, anggota
keluarga lain, sekedar bercengkrama, berbagi cerita, menyampaikan keluh kesah,
menguntai harapan, memahat satu saja anak tangga yang kokoh menuju masa depan
mereka? Tidak miriskah jika seharian penuh, anak-anak kita malah tidak memiliki
masa untuk sekedar melepas penat walau hanya sekedar menonton, bercanda dengan
saudara, menengok kawan sebaya di pinggir rumah, melakukan hobi mereka? Tidak
ngerikah kita, jika anak-anak kita kemudian hanya memiliiki sahabat-sahabat yang
“mati”, sekedar buku paket yang kerapkali juga tidak sempat terbaca mereka,
LKS, internet, komputer, atau sahabat dunia maya yang karakternyapun hanya
dapat dibaca melalui status di FB atau Twitter belaka? Karakter semu dan bisa tidak
jujur karena tiap orang berkecenderungan melakukan manipulasi demi
kepuasan pribadi belaka? Kondisi inilah
yang sering menggeliat, menimbulkan banyak kasus kriminal diantara
remaja. Bukan sekali dua, jejaring sosial memunculkan kasus penculikan,
penipuan bahkan memungkikan penggalangan kelompok yang berfaham tertentu.Apa
kemudian yang bisa kita lakukan?
Teringat
dalam sebuah tayangan televisi, Seorang pembawa acara mengusik fikiran kita
dengan sederet simpulan tentang anak-anak kita : “ Alangkah kasihannya
anak-anak kita. Mereka dijejali sejumlah mata pelejaran dan dituntut memiliki
kemampuan yang dimiliki para guru, tanpa ampun.Tidak boleh menyaring, mana yang
mereka minati atau tidak karena semua yang mereka terima adalah
kewajiban.Sementara guru, seorang spesialis.Mereka tangguh di mata pelajarannya
sendiri.Kondisi anak-anak kita sekarang, tidak ubah dengan sebuah gelas, yang
diisi terus menerus. Ketika terlalu penuh, gelas itupun tidak boleh tumpah! ”.
Ini sebuah simpulan yang unik, menarik jika dikaji dengan hati.
Banyak
anak-anak kita terutama di sekolah RSBI/SBI yang mungkin sulit untuk merasa
bahagia karena mereka kekurangan waktu untuk
menikmati masa remaja mereka. Jika guru saja dengan label sertifikasi
diwajibkan minimal 24 jam pelajaran tatap muka tiap minggu di luar kegiatan
lainnya, anak-anak RSBI/SBI di luar jam
ekskul, les tambahan, harus kuat dengan lebih-kurang 56 jam tatap muka setiap minggu. Dengan materi
yang berbeda dan tuntutan sama karena harus mencapai KKM. Luar biasa anak-anak kita itu.Pernah terpikir
oleh kita, berapa lamakah mereka mampu bertahan? Tidakkah mereka akan mencapai
titik jenuh terlalu dini? Sementara fase kehidupan yang harus mereka jalani
masih sangat panjang.
Lalu
apa kemudian yang bisa kita lakukan? Menghentikan program sekolah RSBI/SBI
jelas bukan kewenangan kita. Karena pada awalnyapun penyelenggaraan sekolah ini
pasti sudah melalui kajian yang melibatkan banyak ahli. Secara sederhana saja Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional atau disingkat RSBI,
merupakan suatu program pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan
Nasional berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 50 ayat 3, yang
menyatakan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan
sekurang-kurangnya satu pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk
dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. RSBI
ini merupakan
upaya pemerintah untuk menciptakan sekolah yang berkualitas. Peningkatan
kualitas ini diharapkan akan mengurangi jumlah siswa yang bersekolah di luar
negeri.Pada proses pelaksanaannya, mungkin tidak seperti tujuan semula dengan
banyak faktor dan kini kembali tengah
mengalami kaji ulang oleh para pakar pendidikan. Tetapi diakui atau tidak. RSBI
menyumbang banyak terutama pada penyediaan jam pelajaran yang berimbas langsung
pada program sertifikasi guru.
Apa yang kemudian bisa kita sumbangkan dlam menjaga
potensi bunga bangsa yang baru tumbuh itu?
Sebagai orang tua, kita harus lebih cerdik, menyela saja sisa waktu
mereka, hanya sekedar bertanya, mengusap kepala mereka, mencium pipi mereka,
memberikan dukungan moral, bahwa kita selalu ada di sisi mereka, walaupun kita
tidak bisa membantu mereka. Sebagai penyelenggara/pelaksana pendidikan, memahami lebih dalam bahwa RSBI
bukan semata menambah jam pelajaran tapi juga meningkatkan kualitas, sehingga
waktu belajar yang demikian panjang mampu memenuhi kebutuhan belajar mereka
tanpa harus mereka tambah lagi di luar jam pelajaran. Artinya, cukupkan
tuntutan kepada siswa dengan meminimalisasi tugas-tugas yang sebenarnya bisa
diselesaikan selama jam pelajaran panjang tersebut secara individual dan lebih
utamanya secara klasikal yang menuntut kerjasama kelompok, ujungnya memupuk
rasa kebersamaan,saling bahu membahu dan ini menjadi bekal kehidupan sosial
mereka di masa depan .
Dengan
cara tersebut, berbagai kendala yang dihadapi siswa akan mampu teratasi,
terutama oleh siswa dengan banyak keterbatasan fasilitas. Tanpa tugas berat
yang bertumpuk dan terus menerus, siswa akan bersemangat pulang ke rumah,
mengisi waktu luang mereka dengan menyalurkan hobi dan membentuk karakter
mererka dengan cara bersosialisasi dengan lingkungan. Ini akan sesuai dengan
tuntutan pendidikan kita yang harus mampu membentuk siswa berkarakter.
Jika kita menyelami semua itu dengan hati yang terbuka,
tidak akan ada fihak yang dirugikan, malah saling menguntungkan. Dengan Program
RSBI, guru terbantu dalam penyediaan jam pelajaran untuk pemenuhan tuntutan
sertifikasi mereka. Siswa terfasilitasi kebutuhan belajarnya. Dengan efisiensi
waktu, siswa masih memiliki kehidupannya sendiri, orang tua tidak merasa
kehilangan anak-anaknya, jalinan sosial dengan lingkungan sekitarpunpun terbina
dengan baik. Kembali, hal ini akan
menjadi cikal bakal kebersamaan yang kuat dalam sebuah masyarakat sehingga
mereka tidak mudah tercerai berai karena egoisme pribasi ataupun kelompok.
Mari kita belajar untuk selalu mencintai anak-anak kita,
dengan menyadari bahwa mereka adalah amanah. Mutiara hati terbesar di masa
depan kita. Dengan belajar memahami dan menempatkan diri dalam banyak posisi,
Insya Allah memudahkan kita mendapatkan solusi.(Terbit Garoet Ekspress, Oktober 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar