Sabtu, 19 November 2016

FIKSI 3

Entah (3)

     Sejak gemintang meluruh petang itu, aku merasa enggan untuk pulang. Aku merasa tak ada lagi yang bisa membuatku harus pulang. Asa tlah terkubur di teras rumah bundaku.
     Sekali itu sepanjang hidupku , kepulangan mengubah dunia ceriaku. Melambat pelan seperti tersesat pada sebuah putusan.
     Aku kembali pada sebuah janji yang kusepakati. Mengikhlaskan hati dalam menerima. " Hidupku" tersurat jelas pada garis tanganku.
" Kau baik-baik saja kan ?" hanya itu tanyanya.
 Merengkuhku kembali ke sangkarnya yang nyaman. Kali ini, rasa salah menderaku.
     Telahkah kugadaikan hati untuk cinta masa kecilku? Tegakah aku menyakiti pualam yang tlah kumiliki? Tapi... dapatkah kutanggung resahnya gelisah, pedihnya kasih, baranya cinta, pada setia yang melingkar di jari manisku?
Entahlah.

     Sampai suatu hari, Bunda bercerita bahwa lelaki yang kehilangan gemintang matanya itu dipertemukan Ayah dengan salah satu murid pesantren kakekku, Arsy.
       Berpedarlah rasa hatiku. Kali ini, aku ingin pulang. Aku rindu untuk menatap kilat matanya sebelum dia pergi meninggalkan kehidupan kami. Sebelum renta memakan sisa usia. Walau dalam hatiku, aku tahu.  Sebenarnya aku hanya ingin melihat:  adakah bahagia di matanya?

     " Jangan!" Bunda melarangku menemuinya.
" Aku hanya ingin mengucapkan selamat, Bunda," rengekku.
     Bunda menggeleng. Tegas tak terbantah. Bunda yang memiliki sikap. Bunda yang tabah menyulam keping hatinya saat terbuang dari keluarganya dulu. Bunda yang dengan yakin menyuruhku segera kembali. Sebelum aku berubah haluan dan harapan berpijar di teras rumahnya, dulu.

     "Ka..." suaraku gemetar menyapanya.
Senyap di ujung telepon. Serasa musim berkali ganti. Lengang.
" De..?" akhirnya ragu memecah sunyi terpanjang kami.
Aku tahu, dia mengumpulkan nyali untuk percaya, itu aku.
"Selamat ya.." kali ini, entah terucap atau tidak.
Sembilu mengiris tajam kerongkonganku.
Luka nganga. Dia membisu.

     Coba katakan padaku:
" Bagaimana bisa kuikhlaskan perginya jika suaranya saja mampu menggetarkan seluruh pertaruhan hidupku?"
Bohong semua!
Aku mencintainya.

     Berlari aku mengejar waktu. Tapi dermaga telah kosong.
Menatap dari kejauhan, biduk tlah terkayuh.
Dermaga bersisian dengan senyap.
Sekeping masa lalupun meruap.

     "Sungguh memerihkan. Berterima kepedihan, tanpa bisa menemukan siapa yang dapat kita salahkan atas kepedihan itu" (060216).




 Entah (4)

     "Aku tahu kau tak bahagia," ucapnya.
Petir menyambar tengah hari itu. 
Sia-sia aku menutupi sisa tangis saat menatap dermaga yang  kosong, dulu.
Sia-sia aku merenda hari dengan ceria  yang penuh dusta.
Sia-sia, jika ujung malam kuhabiskan dengan menunggu dering berbunyi. Berharap dia berbagi. Mengatakan tentang rasa yang sama, atau mengabarkan bahwa dia kini telah memiliki bahagia. Aku tak perduli lagi. Sia- sia pula, jika setiap pulang mencoba mengorek kabar dari Bunda.
Dia hilang tak berjejak. 
            *********
   " Kau telah berusaha dengan baik. Bertahun menerima ruah kasihku dengan sempurna. Tapi aku takut, De.... penerimaanmu, tabahmu, perjalananmu sia-sia .” 
Hari melambat ke ujung.
Tak ada pembelaan bahkan penerimaan dariku.
    " De, cinta adalah penerimaan dan ikhlas bukanlah ujung.  Ikhlas adalah proses perjalanannya.” 
Dia menggenggam tanganku, melembut di jemari manisku.
     " Besok, aku akan mengantarmu pulang pada Bunda. Pulang dengan penuh kemuliaan. Tak ada jalan lain.  Kita harus berakhir. "  Ujungnya memelan, getar terbenam di dalam.
Lugas, pasrah dan tegas, itulah pualamku.

    Sejenak, waktu terhenti. Diam adalah jalan terbaik. Berargumentasi dengan nurani. Sendiri.
Kehilangan-- bagaimanapun, akan selalu menjadi lengang yang panjang.
*****

   Bunda telah menunggu di beranda. Tak ada kecewa atau patah di matanya. Memeluk untuk terakhir kali sosok itu. Berterima kasih dengan sangat pelan.
      Sejenak mereka mematung saling menatap. Tak perlu penjelasan. Cinta memberikan mereka bentuk pengertian, pemahaman, dan penghargaan.
     Tiba- tiba aku merasa takut.  Merasa sendiri dan terasing di antara keduanya.
*****
    
     Tak pernah ada tanya dari Bunda. Tapi aku tahu, aku bukan lagi putri semata wayangnya yang bisa merengek manja untuk mendapat apa yang ku damba.
Aku wanita yang tengah belajar menjadi dewasa.   Aku akan   menghabiskan usia dengan berdzikir sampai senja tiba.

    Ya. Jika-- seperti katanya, cinta adalah penerimaan. Maka aku akan menerima semua detik waktu dengan menunggu. Dan jika--seperti katanya,  ikhlas adalah proses, maka aku akan menghabiskan senja dengan keihlasan.  Tanpa tahu, dia akan pulang atau tidak.



  

 Entah (5)
    Genap sewindu dari pertemuan kami di depan danau dulu. Dia pulang dengan kabarnya. Hampir tak ada yang berubah. Arsy cantiknya telah tiada dan meninggalkan satu mutiara untuknya.
     Aku menghela nafas. Sebuah kenaifan jika aku merasa lega atas takdir yang tiba begitu saja di depan mata, kini. Mestinya aku malu jika merasa  jalanku  tak kan berliku lagi.   
     Setelah waktu menderaku dengan seuntai dosa dan asa, salahkah jika aku berharap memulai pagiku yang baru? Hingga siang bukan lagi sebuah penantian panjang. Dan senja, dia akan tiba dengan seikat bunga. Begitu nyata.
Seuntai mimpi masa kecil menghampar di depan mata.
Begitu indah.

          Sampai seseorang menghadangku... Bunda. (70216)


     
 Entah (6)
     Aku tak mengerti, Bunda sepertinya bersikeras menghadang niat kami. Padahal aku tahu, lelaki yang pernah kehilangan gemintang itu adalah murid kesayangan Kakek. Buah hati Ayah dan Bunda yang tak pernah memiliki putra. Lelaki yang mungkin dahulu pernah diharapkan mereka menjadi anak sendiri.
     Aku tengah bercengkrama dengan Tiara, anak perempuannya yang sudah hampir 4 bulan dititipkan di rumah Bunda. Ayahnya tengah mengikuti pendidikan di negara tetangga untuk setahun lamanya. Semenjak Arsyi pergi, tempat mereka pulang adalah rumah Bunda. Rumah berjuta kenangan.
     Tiara mengisi hariku dengan sempurna. Siapa yang tak jatuh cinta padanya? Dengan sekejap, semua dunia berpaling ke padanya. Usianya hampir tiga tahun.
     Bunda begitu memperhatikannya, sampai urusan pengasuhanpun tak beliau berikan pada orang lain. Kami bersama-sama mengurusnya. Kata Bunda, seusia itulah pula ayahnya dulu masuk ke pesantren kakek.
     Bunda tak pernah protes jika aku memberikan sepenuh hariku untuknya. Beliau terlihat bahagia, semestinya akulah yang memberikan cucu secantik itu untuknya.
" Ya aku mau, Bunda," binar mataku ketika bunda menyampaikannya.
" Kalau begitu, cepatlah kau carikan calon bapaknya!"
" Jadi... Bunda tetap tak kan mengizinkan kami?" Aku merajuk.
     Bunda menggeleng. Berbulan itu, kami berdua mencoba melunakkan hati bunda. kami fikir dengan adanya Tiara, bunda meluluh.  Benar. Bunda meluluh dan dengan cepat menerima Tiara. Ayahnyapun kembali menjadi bagian hidup Bunda tapi bukan untuk menjadi suami anak semata wayangnya. 
     Aku menyelidik ke mata bunda. Dia tersenyum dan meraih kepalaku. Mendekapnya dengan penuh kasih.
Senyumku mengembang, " Ada harapan", bisikku.
 Barangkali bunda hanya bergurau, hal yang tak pernah dilakukannya.
     " De, kau ingat siang itu, ketika kau bersikukuh menanyakan letak masa depanmu padanya?" aku mengangguk 
( Bagaimana tidak? Sore itu di bawah beringin depan danau kami, adalah masa pertamaku menerima rasa tak berharga, dan ditolak). 
" Kau pulang dengan sembab di matamu,"
( Ya sepanjang jalan itu, aku menangis, kecewa).
" Bunda sangat terkejut. Padahal sebelumnya Bunda berharap kalian pulang dengan rona merah di pipimu." 
(Aku menatap bunda).
" Kau tak tahu doa bunda saat kau pamit menemuinya. Bunda meminta Allah memberi kalian hal terbaik."
( Aku membisu, mengapa kini?)
" Bunda takkabur waktu itu Nak. Berfikir bahwa Allah akan menjawabnya sesuai keinginan Bunda yaitu kalian berdua akan bersatu."
( Lalu mengapa kini?)
"' Saat kau pulang, Bunda merasa petang menghitam. Kau tahu nak? melihat murung di matamu membuat Bunda berfikir untuk memcampuri urusan kalian. Kau tahu? sebenarnya Bunda bisa dan telah siap mengubah warna petangmu, saat itu ."
(Aku ingat, saat itu berusaha menghindari pandangan mata bersibobrok dengan bunda. Aku takut bunda melihat kehancuran, kekecewaan, dan perasaan tak berharga di mataku)
" Tapi sebelum sempat kutanyakan apa. 
Kau dengan pongah berkata: Aku hanya menganggap dia sebagai kakak kandungku sendiri, Bunda."
( Ah ya... Kuingat, kalimat yang kukarang sepanjang jalan pulang. Menghindari lukaku terbuka di depan Bunda) 
" Kau tahu? Detik itulah kau tuliskan garis tanganmu! Kau menempatkan dia sebagai saudara kandungmu. Kau memilih untuk tak menikah dengannya hingga Bunda menyimpulkan kau tak pernah mencintainya."
(Aku tersentak. Sesederhana itu?)
Entah. Tanpa jawaban pasti. 
"Kau paham mengapa Bunda menentang hubungan kalian sekarang? “ 
( Aku menggeleng).
" Kalian berdua sama-sama telah mengalami kehilangan walaupun berbeda alasan. Bunda takut, keinginan kalian bersatu hanya karena kalian merasa kesepian. Merasa senasib. Seperti halnya pelarian, kalian sebenarnya hanya butuh alasan untuk pembenaran. Bunda tak mau, kalian berdua terluka jika fondasi yang kalian miliki tak kuat. Jika itu terjadi, siapakah yang masih bisa Bunda miliki? Bunda takut kehilangan kalian berdua."
     Bunda menatap tajam mataku.
" Beri kalian jeda untuk berfikir. Memahami bahwa kalian akan lebih bahagia jika saling memiliki. Atau sebaliknya. Masa depan kalian masih panjang. Mungkin besok lusa, kalian berubah pendirian. Jangan terburu-buru. Cinta butuh keyakinan De. Sementara biarkan waktu menjawab. Kau paham? "
    Tak butuh jawaban. Itu adalah sebuah jawaban. 
Aku diam. Hangat menjalar kujur tubuh. Langit seperti mulai menegak dan bumi kokoh terpijak. 
    Tiba- tiba, aku merasa 30 tahun kehidupanku yang hilang, mulai terbayar. Ya aku harus bisa menjawabnya, nanti.


  
 Entah (episode terakhir)
      Seperti senja yang akan kuhadapi besok, senja ini, aku di bawah beringin depan danau kami, mulai mengeja takdirku. Mendzikirkan keikhlasan tanpa tuntutan apapun. Aku telah yakin benar, sejauh manapun kaki melangkah, hati berharap, jawabnya selalu yang terbaik.
     Sekali ini, seumur hidupku, aku baru merasakan datangnya senja tanpa beban. Aku membangun sebuah prasangka baik untuk hari esokku. 
      Pepatah bijak berkata bahwa "Dengan berprasangka baik, belum tentu kita berbuat baik, tapi itu adalah awal kebaikan. Dan berprasangka buruk bukan berarti kita berbuat buruk tetapi awal keburukan".
     Pagi, siang, senja, bahkan larutpun, kini aku bersedia membangun sebuah prasangka baik, bahwa: 
"Allah selalu selalu memberikan yang terbaik untukku dan itu, pasti!" 
( 150316).



                            **********************************************


    











FIKSI 2

Entah (2)

     Petang menghilang saat dia mengantarku ke depan teras rumah bundaku. Sepanjang jalan, hampir tak ada kata, tak ada genggam, apalagi pelukan. Saling menduga.
" Kau akan tinggal?" tanyanya lirih.
Aku kehilangan kata, menatap mata yang tak pernah bisa kulupa. Kilat matanya yang kini menghujam, memaksa dan menyimpan asa.
" Tinggallah...,” pintanya.
" Tinggallah ... untukku!" suaranya bergetar.
Sekali ini, untuk yang ketiga kalinya, "tinggal" memiliki banyak makna.
Ah... andai dulu.
"Tidak!" kataku. 
"Aku tak memiliki harapan untuk mencintaimu, ya ?" dia mendesakku.
Ah... andai dulu.
Aku menatap matanya yang menghampa.
Tak bergeming bahkan untuk mengulurkan  tangan.
Setia tergenggam di dalamnya.

     Cukup! Sekali saja seumur hidupku. Aku menatapnya dengan kepedihan nyata.
" Kau boleh mencintaiku dengan pengertian dan persepsi yang berbeda!" ucapku pelan.
       Bumi terdiam dalam denting sunyi ketika aku berbalik menyembunyikan mataku.
     Sungguh, aku tak mau menatap ribuan gemintang meluruh di matanya (050216).























Fiksi-Anne

FIKSI 1

Entah (1)

   " Katakan: tinggallah!" bisik hatiku menatap sorot matanya yang hampa. Cukup sedetik bagiku untuk memutuskan. Beringin kami depan danau itu mematung, menjadi saksi.
     Apa yang bisa kuharapkan dari masa itu? Bersama di masa kecil, bersekolah, mengaji bersama, bermain, menyemai benih- benih kehidupan. Aku sudah hafal dengan semua liku hidupnya. Sebatang kara dan bertumbuh di pesantren kecil kakekku. Apa yang menjadi tuju hidupnya? Selain sebuah rumah nyaman yang ingin ditinggali bersama istri dan anak-anaknya, kelak? Itu mimpinya. Yang lalu kutahu,  dia berusaha keras, mendapat beasiswa di tiap tingkat bahkan setelah bekerja di perusahaan besar.
    Itu hari terakhir kami bertemu. Aku memutuskan untuk bertanya, di manakah letak aku di masa depannya. Dia membisu ketika aku menyebutkan untuk pergi meninggalkan semua kenangan kecil sepanjang hidup dengannya.
   Keluargaku tlah memilihkan masa depanku. Aku akan menanyakannya, barangkali dia akan menghalangiku.
Tapi tidak! Sebuah alasan yang tak bisa kumengerti harus kuterima. Apa yang bisa memutuskan sebuah rasa bahkan sekedar kasta?

                                **************

    Aku terlena dengan dunia yang kusetujui. Terjebak oleh rutinitas sepanjang hari. Tak ada yang kusesali. Semua begitu indah. Aku terpenjara di dalamnya. Berpuluh purnama melewati malamku. Sampai akhirnya, aku tahu: aku tak bahagia.

                                *************

     Siang itu, dengan kepongahan yang tak lagi kumiliki, aku mengayun langkah ke bangku di bawah beringin yang masih rimbun. Tak ada yang berubah. Juga bangku kayu yang biasa ku duduki. Sosok itu terkejut melihatku. Menatap ku tajam.    
     Sekali inilah. Seumur hidupku, aku lihat kilatan di matanya.
" De...!" serunya.
Entah lembut, entah keras.
Entah harap, entah patah.
Entah bahagia, entah duka.
Aku tak tahu lagi.
    Yang ku yakin, tangisku meruah sepanjang petang itu
 ( 030216).