Rabu, 24 Juli 2013

CERPEN


DATANGLAH DI MUSIM SEMI
(Barangkali kasihpun kan ….)
Anne A. Permatasari

Sms terpagi hari ini, membuatku sedikit terperangah kaget.Usai Ramadhan selalu saja berjubel sms masuk.Tapi undangan reuni? Ini membuatku kaget.
     Masa SMA tlah kutinggalkan lebih dari 20 tahun yang lalu.Tak terasa usiaku tambah renta,tapi ini ramadhan ke-41 dalam hidupku.Usia yang kata orang benar-benar matang.Benarkah?
Sms ini menggugah kenangan masa lalu.
"Kuberi tenggang waktu,dua dasawarsa sekalipun Mit,apa itu tak gila? kurasa cukup masa untuk mengukur,benarkah perasaanku akan bertahan atau tidak?" dia bersikukuh. Aku hanya tersenyum kecut.Si manis yang satu ini memang pantang menyerah,hanya saja dia salah langkah.
Setelah ditinggalkannya beberapa sahabatku,dia mulai melirik padaku yang katanya "beku",hingga dia enggan mendekatiku."Sumpah,sebenarnya aku tertarik padamu,tapi kamu dingin, membentengi diri,dan terkesan angkuh.Jadi aku takut kamu malah menjauh,sementara rivalku berjubel ".  Aku tersenyum kecil,jadi sang playboy inipun mengenal juga rasa keder?
Maka putuslah.Kubohongi laki-laki yang memiliki banyak pemuja ini,dengan kekasih khayalanku yang entah dari negeri antah berantah mana.Tapi kuhibur hatinya dengan selarik  janji "Datanglah di musim semi,barangkali..."
Ini lebih dari dua puluh tahun kemudian.Apa yang masih diharapkan Yanuar,lelaki itu? Mitha yang imut-imut,pemalutapi  memiliki banyak pemuja gelap?Apa Yan masih ingat janjinya dulu dan sekarang hendak menepatinya dengan mengemas reuni kelas?
Aku tersenyum kecil.Yan pasti kaget melihat sosok tubuhku yang menggembung dan tak lagi pemalu.Sebenarnya aku enggan bertemu dengannya kalau saja tak kuingat janji itu dan ada secercah keinginan lain yang tak mampu kumengerti.
                                                *********
" Mitha...?" suaranya menelan seluruh tubuhku.Inikah Yan? Sosok tinggi besar itu menyambutku di aula sekolah dulu. Aku terperangah kaget.Penampilannya betul-betul metroseksual.Semua menunjuk betapa makmurnya dia.Aku hampir tak percaya.
Dua dasawarsa lebih berlalu.Tak ada lagi Yan yang bersahaja, tinggi kurus,pintar,jago basket, berambut agak panjang,ngomong ceplas-ceplos, dan bertampilan cuek tapi menggemaskan, dulu. Ini benar- benar berubah. Gila.  Apa yang terjadi dengannya? Sekilas saja hampir kusesali pertemuan dengannya.
" Kamu cantik seperti dulu,Mit. Lebih matang tapi tetap tak berubah ", genggam tangannya menguat. Aku kembali tersenyum.Kagum dengan keberaniannya membohongi diri."Kamu salah,Yan. Hidup telah mengubah banyak hal dariku, juga kamu ", ucapku meninggalkan Yan di masa lalu.
                                                *********
Pintu terbuka mengiringi salamku.Dua matahati berebut menyambutku,sepertinya tak jumpa berabad lamanya. Ini kerinduan yang tak pernah berujung.Di belakangnya, belahan jiwaku tersenyum.Senyum yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu.Tak pernah berubah.Aku mencintainya dengan semua kelebihan dan kekurangannya.
Kupeluk anak-anakku.Lalu,dengan segenap hormatku,kucium tangan suamiku.Selalu dengan hati,kubisikkan: "Jangan berubah,kekasihku,jangan pernah. Sebab kuharap,denganmulah kujalani hidup karena Allah”.
(Idul Fitri 1428 H, kado ultah ke- 42).










Tidak ada komentar:

Posting Komentar