DATANGLAH DI MUSIM SEMI
(Barangkali
kasihpun kan ….)
Anne
A. Permatasari
Sms terpagi hari ini, membuatku sedikit terperangah
kaget.Usai Ramadhan selalu saja berjubel sms masuk.Tapi undangan reuni? Ini membuatku kaget.
Masa SMA
tlah kutinggalkan lebih dari 20 tahun yang lalu.Tak terasa usiaku tambah
renta,tapi ini ramadhan ke-41 dalam hidupku.Usia yang kata orang benar-benar
matang.Benarkah?
Sms ini menggugah kenangan masa lalu.
"Kuberi tenggang waktu,dua dasawarsa sekalipun
Mit,apa itu tak gila? kurasa cukup masa untuk mengukur,benarkah perasaanku akan
bertahan atau tidak?" dia bersikukuh. Aku hanya tersenyum kecut.Si manis
yang satu ini memang pantang menyerah,hanya saja dia salah langkah.
Setelah ditinggalkannya beberapa sahabatku,dia
mulai melirik padaku yang katanya "beku",hingga dia enggan
mendekatiku."Sumpah,sebenarnya aku tertarik padamu,tapi kamu dingin,
membentengi diri,dan terkesan angkuh.Jadi aku takut kamu malah
menjauh,sementara rivalku berjubel ".
Aku tersenyum kecil,jadi sang playboy inipun mengenal juga rasa keder?
Maka putuslah.Kubohongi laki-laki yang memiliki banyak
pemuja ini,dengan kekasih khayalanku yang entah dari negeri antah berantah
mana.Tapi kuhibur hatinya dengan selarik
janji "Datanglah di musim semi,barangkali..."
Ini lebih dari dua puluh tahun kemudian.Apa yang masih
diharapkan Yanuar,lelaki itu? Mitha yang imut-imut,pemalutapi memiliki banyak pemuja gelap?Apa Yan masih ingat janjinya dulu dan
sekarang hendak menepatinya dengan mengemas reuni kelas?
Aku tersenyum kecil.Yan pasti kaget melihat sosok
tubuhku yang menggembung dan tak lagi
pemalu.Sebenarnya aku enggan bertemu dengannya kalau saja tak kuingat janji itu
dan ada secercah keinginan lain yang tak mampu kumengerti.
*********
" Mitha...?" suaranya menelan seluruh
tubuhku.Inikah Yan? Sosok tinggi besar itu menyambutku di aula sekolah
dulu. Aku terperangah kaget.Penampilannya betul-betul metroseksual.Semua
menunjuk betapa makmurnya dia.Aku hampir tak percaya.
Dua dasawarsa lebih berlalu.Tak ada lagi Yan yang
bersahaja, tinggi kurus,pintar,jago basket, berambut agak panjang,ngomong
ceplas-ceplos, dan bertampilan cuek tapi menggemaskan, dulu. Ini benar- benar
berubah. Gila.
Apa yang terjadi dengannya? Sekilas saja hampir kusesali pertemuan
dengannya.
" Kamu cantik seperti dulu,Mit. Lebih matang
tapi tetap tak berubah ", genggam tangannya menguat. Aku kembali
tersenyum.Kagum dengan keberaniannya membohongi diri."Kamu salah,Yan.
Hidup telah mengubah banyak hal dariku, juga
kamu ", ucapku meninggalkan Yan di masa lalu.
*********
Pintu terbuka mengiringi salamku.Dua matahati berebut
menyambutku,sepertinya tak jumpa berabad lamanya. Ini kerinduan yang tak pernah
berujung.Di belakangnya, belahan jiwaku tersenyum.Senyum yang sama seperti
bertahun-tahun yang lalu.Tak pernah berubah.Aku mencintainya dengan semua
kelebihan dan kekurangannya.
Kupeluk anak-anakku.Lalu,dengan segenap
hormatku,kucium tangan suamiku.Selalu dengan hati,kubisikkan: "Jangan
berubah,kekasihku,jangan pernah. Sebab kuharap,denganmulah kujalani hidup
karena Allah”.
(Idul
Fitri 1428 H, kado ultah ke- 42).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar