7.
Pendidikan
dalam Keluarga
Pendidikan
dalam Keluarga
(sebuah
proses sepanjang masa)
Oleh
: Anne A. Permatasari
Menganga mulut kita ketika mengetahui betapa cepatnya
anak tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikis.Sebagai orang tua
kita selalu merasa bahwa kita tahu sepenuhnya tentang anak kita.Kita bisa
merekam dengan baik bagaimana pertumbuhan bayi kita, mulai dari lahir sampai
sekarang.Betapa tidak?tiap hari mulai bangun tidur sampai tertidur lagi
walaupun kadang tersita waktu untuk kegiatan lain, kita tetap mengikuti tingkah
laku mereka. Betapa hal-hal lucu, menyedihkan, membanggakan, menggemaskan,
membahagiakan, setiap hari muncul dari anak kita. Ini terekam bertahun,
berpuluh tahun sampai anak dewasa. Menjadi suatu album untuk generasi
selanjutnya.Indah sekali bukan?
Berangkat dari perasaan bahwa kitalah yang membesarkan anak, kadang
sering berakibat lain. Sadar atau tidak, kita merasa bahwa mereka adalah hak
kita.Langkah mereka kita pilih, dan hidup mereka kita bentuk seperti yang kita
inginkan.Tanpa kita sadari bahwa mereka adalah suatu individu hidup yang berhak
menentukan hidupnya sendiri.
Memang tidak bisa disalahkan otoritas
orangtua itu. Mereka punya kewajiban dan tanggung jawab dunia akhirat kepada
sang pencipta. Dari kasus ini terbentuklah orangtua yang "over protected", apalagi di zaman seperti ini. Untuk seorang
anak, perlindungan bisa merupakan suatu
hal yang menyamankan tapi jika berlebihan akan menjadi belenggu untuk
mereka . Kadang dengan banyak titipan "awas, jangan,harus....", anak
malah ingin mencoba seberapa jauh akibatnya.
Kebalikan dari tife orang tuaseperti itu, adalah tife orang tua
yang sangat tidak perduli. Betul-betul bebas.Ini bisa jadi semacam regenerasi
pendidikan. Mereka yang telah berhasil mengembangkan diri tanpa proteksi orang
tua, membuat mereka berfikir untuk menerapkan hal yang sama pada anak-anaknya.
Jadilah sebuah keluarga liberal, semua layaknya komunitas bebas. "aku mau
begini, aku jalani, aku terima dampaknya".Untuk beberapa keluarga hal ini bisa diterima. Di sisi lain, ini
bukan komunitas bebas, tapi sebuah keluarga, yang di dalamnya harus tetap ada
tatanan etika, moral, status: ini ayah, ibu, kakak, adik, dsb.
Idealnya, barangkali anak dibesarkan
oleh orang tua yang demokratis. Semua
anggota keluarga bebas mengemukakan pendapat tetapi tatakrama secara otoritas
tetap dipertahankan. Ayah sebagai leader, ibu penyeimbang, dan anak sebagai
subjek. Pertanyaannya,semudah itukah
dijalankan?
Di era globalisasi yang sarat persaingan
ini, adakah waktu kita untuk lebih
"care" pada pendidikan di rumah? Ketika sang ayah bekerja (apalagi
dengan jarak yang jauh), ibu mengembangkan diri melalui karir atau kesibukan
lain, berapa jam kah waktu yang ada untuk bisa bertemu anak-anak yang juga
memiliki segudang kegiatan selain bersekolah?
Miris
juga hati kita sebagai orang tua jika melihat kehidupan sekarang ini.Tidak
dipungkiri bahwa perasaan takut kadang muncul dalam hati kita.Takut jika anak
terpengaruh lingkungan yang buruk, takut anak tidak bisa bersaing.Yang paling
dangkal adalah perasaan takut kalau kita tidak bisa membiayainya.
Yang patut kita garis bawahi adalah
bagaimana pendidikan mereka.Pendidikan dalam arti luas, tentu.Bukan sekedar
jenjang formal dari tk sampai perguruan tinggi. Pendidikan luas lebih mengacu
pada moral,bagaimana menyeimbangkan kehidupan lahir dan bathin, bagaimana
menanamkan sikap bahwa pendidikan formal tinggi harus dibarengi dengan kekuatan
moral yang lebih tinggi.
Banyak orang yang merasa bangga jika
anak-anaknya mampu menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya, bekerja di
tempat basah walaupun dengan campur tangan orang tua.Apalagi jika dibarengi
kemampuan agama yang tinggi.Sempurna sudah perasaan itu.Sebaliknya, jika tidak?
Banyak orang tua yang dengan rendah diri mengatakan: "Ah,anak saya mah hanya tamatan
smp, kerjanyapun hanya sebagai….", walaupun anak mereka begitu
intens beribadah, hormat kepada orang tua, nrimo
pada keadaan. Jadi seperti apa kriteria berhasil itu?
Sebagai orang
tua, sering kita merasa tertarik dan kagum pada keluarga yang kelihatan
sukses dalam kehidupannya. Semua lulusan Perguruan tinggi, bekerja di
pemerintahan atau di kantor swasta, dan harmonis.Terpikir oleh kita, bagaimana
cara mereka mendidik anak-anaknya? Lalu
dengan serta merta semua teknik mereka
kita paksa pakai ke pendidikan keluarga kita, tapi hasilnya tetap
"nol". Lalu kita pun berkomentar: "pantes
saja, mereka kan lebih....." Nah, apa
yang salah?
Pendidikan
bukan semata "bagaimana teknik terbaiknya".Siapapun pengagas
tekniknya, bagaimanapun bagus teorinya, tidak bisa kita pakai langsung.
Pendidikan adalah suatu proses di mana seluruh komponen berinteraksi solid.
Cara yang paling tepat adalah memilih teknik yang
paling tepat bukan paling baik karena pada dasarnya semua teknik baik, tapi
tidak semuanya tepat.Ini yang sering kita abaikan. Bagaimanapun tak ada cara
yang paling baik dalam sebuah proses pendidikan. Artinya, tak ada cara yang
sama , tepat untuk pendidikan dalam keluarga yang berbeda karena faktor
pendukung yang berbeda pula.
Harus kita sadari bahwa pendidikan adalah
sebuah proses belajar untuk semua fihak. Proses yang tak kenal akhir, tak ada
tujuan terakhir dalam pendidikan selain lebih baik, dan menjadi lebih baik
lagi. Inilah yang harus difahami oleh semua fihak. Tanpa kerjasama yang baik,
maka tujuan tidak akan tercapai. Jadi
langkah pertama yang bisa kita lakukan,adalah mengajak semua anggota
keluarga untuk berbicara dengan terbuka mengenai tujuan hidup bersama, cara apa yang akan dijalani oleh
masing-masing anggota dalam mencapainya,
bukanlah suatu yang harus dipertentangkan. Dengan saling mengontrol, ke arah manapun mereka memilih jalan
,tujuannya tetap harus sama.
Selanjutnya, yang paling utama dan
sepertinya sepele adalah mulailah
semuanya dengan Bismillah.Yakin bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk kita.
(terbit
Garut Express,Desember 2011)
*********************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar