Rabu, 24 Juli 2013

7. Pendidikan dalam Keluarga


7.  Pendidikan dalam Keluarga
(sebuah proses sepanjang masa)
Oleh : Anne A. Permatasari

Menganga mulut kita ketika mengetahui betapa cepatnya anak tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikis.Sebagai orang tua kita selalu merasa bahwa kita tahu sepenuhnya tentang anak kita.Kita bisa merekam dengan baik bagaimana pertumbuhan bayi kita, mulai dari lahir sampai sekarang.Betapa tidak?tiap hari mulai bangun tidur sampai tertidur lagi walaupun kadang tersita waktu untuk kegiatan lain, kita tetap mengikuti tingkah laku mereka. Betapa hal-hal lucu, menyedihkan, membanggakan, menggemaskan, membahagiakan, setiap hari muncul dari anak kita. Ini terekam bertahun, berpuluh tahun  sampai anak dewasa.  Menjadi suatu album untuk generasi selanjutnya.Indah sekali bukan?
                 Berangkat dari perasaan bahwa kitalah yang membesarkan anak, kadang sering berakibat lain. Sadar atau tidak, kita merasa bahwa mereka adalah hak kita.Langkah mereka kita pilih, dan hidup mereka kita bentuk seperti yang kita inginkan.Tanpa kita sadari bahwa mereka adalah suatu individu hidup yang berhak menentukan hidupnya sendiri.
Memang tidak bisa disalahkan otoritas orangtua itu. Mereka punya kewajiban dan tanggung jawab dunia akhirat kepada sang pencipta. Dari kasus ini terbentuklah orangtua yang "over protected",  apalagi di zaman seperti ini. Untuk seorang anak, perlindungan bisa merupakan suatu  hal yang menyamankan tapi jika berlebihan akan menjadi belenggu untuk mereka . Kadang dengan banyak titipan "awas, jangan,harus....", anak malah ingin mencoba seberapa jauh akibatnya.
 Kebalikan dari tife  orang tuaseperti itu, adalah tife orang tua yang sangat tidak perduli. Betul-betul bebas.Ini bisa jadi semacam regenerasi pendidikan. Mereka yang telah berhasil mengembangkan diri tanpa proteksi orang tua, membuat mereka berfikir untuk menerapkan hal yang sama pada anak-anaknya. Jadilah sebuah keluarga liberal, semua layaknya komunitas bebas. "aku mau begini, aku jalani, aku terima dampaknya".Untuk beberapa keluarga  hal ini bisa diterima. Di sisi lain, ini bukan komunitas bebas, tapi sebuah keluarga, yang di dalamnya harus tetap ada tatanan etika, moral, status: ini ayah, ibu, kakak, adik, dsb.
Idealnya, barangkali anak dibesarkan oleh  orang tua yang demokratis. Semua anggota keluarga bebas mengemukakan pendapat tetapi tatakrama secara otoritas tetap dipertahankan. Ayah sebagai leader, ibu penyeimbang, dan anak sebagai subjek.  Pertanyaannya,semudah itukah dijalankan?
Di era globalisasi yang sarat persaingan ini, adakah waktu kita  untuk lebih "care" pada pendidikan di rumah? Ketika sang ayah bekerja (apalagi dengan jarak yang jauh), ibu mengembangkan diri melalui karir atau kesibukan lain, berapa jam kah waktu yang ada untuk bisa bertemu anak-anak yang juga memiliki segudang kegiatan selain bersekolah?
            Miris juga hati kita sebagai orang tua jika melihat kehidupan sekarang ini.Tidak dipungkiri bahwa perasaan takut kadang muncul dalam hati kita.Takut jika anak terpengaruh lingkungan yang buruk, takut anak tidak bisa bersaing.Yang paling dangkal adalah perasaan takut kalau kita tidak bisa membiayainya.
Yang patut kita garis bawahi adalah bagaimana pendidikan mereka.Pendidikan dalam arti luas, tentu.Bukan sekedar jenjang formal dari tk sampai perguruan tinggi. Pendidikan luas lebih mengacu pada moral,bagaimana menyeimbangkan kehidupan lahir dan bathin, bagaimana menanamkan sikap bahwa pendidikan formal tinggi harus dibarengi dengan kekuatan moral yang lebih tinggi.
Banyak orang yang merasa bangga jika anak-anaknya mampu menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya, bekerja di tempat basah walaupun dengan campur tangan orang tua.Apalagi jika dibarengi kemampuan agama yang tinggi.Sempurna sudah perasaan itu.Sebaliknya, jika tidak? Banyak orang tua yang dengan rendah diri mengatakan: "Ah,anak saya mah hanya tamatan  smp, kerjanyapun hanya sebagai….", walaupun anak mereka begitu intens beribadah, hormat kepada orang tua, nrimo pada keadaan. Jadi seperti apa kriteria berhasil itu?
 Sebagai orang  tua, sering kita merasa tertarik dan kagum pada keluarga yang kelihatan sukses dalam kehidupannya. Semua lulusan Perguruan tinggi, bekerja di pemerintahan atau di kantor swasta, dan harmonis.Terpikir oleh kita, bagaimana cara mereka mendidik anak-anaknya?  Lalu dengan serta merta  semua teknik mereka kita paksa pakai ke pendidikan keluarga kita, tapi hasilnya tetap "nol". Lalu kita pun berkomentar: "pantes saja,  mereka kan lebih....."  Nah, apa  yang salah?
            Pendidikan bukan semata "bagaimana teknik terbaiknya".Siapapun pengagas tekniknya, bagaimanapun bagus teorinya, tidak bisa kita pakai langsung. Pendidikan adalah suatu proses di mana seluruh komponen berinteraksi solid.
Cara yang paling tepat adalah memilih teknik yang paling tepat bukan paling baik karena pada dasarnya semua teknik baik, tapi tidak semuanya tepat.Ini yang sering kita abaikan. Bagaimanapun tak ada cara yang paling baik dalam sebuah proses pendidikan. Artinya, tak ada cara yang sama , tepat untuk pendidikan dalam keluarga yang berbeda karena faktor pendukung yang berbeda pula.  
Harus kita sadari bahwa pendidikan adalah sebuah proses belajar untuk semua fihak. Proses yang tak kenal akhir, tak ada tujuan terakhir dalam pendidikan selain lebih baik, dan menjadi lebih baik lagi. Inilah yang harus difahami oleh semua fihak. Tanpa kerjasama yang baik, maka tujuan tidak akan tercapai. Jadi  langkah pertama yang bisa kita lakukan,adalah mengajak semua anggota keluarga untuk berbicara dengan terbuka mengenai tujuan hidup bersama, cara apa yang akan dijalani oleh masing-masing anggota  dalam mencapainya, bukanlah suatu yang harus dipertentangkan. Dengan saling mengontrol,  ke arah manapun mereka memilih jalan ,tujuannya tetap harus sama.
Selanjutnya, yang paling utama dan sepertinya sepele adalah  mulailah semuanya dengan Bismillah.Yakin bahwa Allah selalu memberi  yang terbaik untuk kita.

(terbit Garut Express,Desember 2011)
*********************************************





Tidak ada komentar:

Posting Komentar