MENGAWALI JENJANG PENDIDIKAN BARU
Oleh:
Anne A. Permatasari
Dalam satu bulan terakhir,
penerimaan siswa baru dilaksanakan di setiap jenjang persekolahan. Semua orang
tua bahkan pendidik pun merasa panas dingin.Mereka cemas jika anak-anak mereka tersisih,baik
oleh teknik penerimaan siswa baru yang diberlakukan atau juga karena faktor
pembiayaan sehingga tidak mendapatkan kesempatan bersekolah di tempat yang mereka idamkan.
Demikian pula halnya dengan sekolah penerima
siswa baru.Merekapun khawatir jika teknik yang dipergunakan tidak sesuai dengan
harapan, serta tidak bisa memberikan layanan terbaik para calon siswa
baru.Kerapkali kekecewaan muncul dari berbagai lapisan masyarakat yang
meragukan ketepatan teknik atau non teknik sistem penerimaan siswa baru.
Orang tua tentu berkeinginan untuk
menyekolahkan anak di sekolah pavorit.Sekolah yang menurut banyak kalangan,
mampu memberikan pembelajaran dan pendidikan yang terbaik.Dengan kondisi
lingkungan yang menjanjikan, dilihat dari tempat, gedung, rengrengan guru
profesional, tenaga kependidikan yang terampil, komite sekolah yang peduli,
lingkungan sekolah yang aman, serta alumnus yang berkualitas.Bukan salah orang
tua jika berupaya keras anak-anaknya menjebol sekolah tersebut meskipun mereka
harus merogoh saku lebih dalam. Mereka puas dan yakin bahwa sekolah dengan
gambaran tersebut, akan mampu memberikan tantangan dan kesempatan pada
anak-anak mereka untuk berkembang.
Pola Penerimaan siswa baru di program
sekolah reguler pada tahun ajaran ini terbagi atas jalur akademik dan non
akademik/ jalur prestasi sedangkan pada program sekolah RSBI sudah menggunakan
tes potensial akademik juga psikotes yang bisa memberikan peluang lebih banyak
untuk siswa membuktikan kemampuan.Semua pola penerimaan ini rentan oleh tindak
penyelewengan. Jalur akademik yang sejogyanya memiliki nilai akurasi yang
tinggi karena melibatkan semua nilai
akademik baik nilai sekolah, nilai akhir, maupun nilai ujian nasional,
berpotensi terjadinya manipulasi nilai baik di tingkat jenjang sebelumnya atau
pada proses penerimaannya. Jalur non akademik yang merupakan jalan lain
memasuki jenjang sekolah barupun ternyata kerapkali menjadikan orang tua hemar-hemirkarena rentan oleh hal yang sama. Bahkan pola tes potensial akademik dan
psikotespun tetap rentan dengan hal yang sama.
Peluang
terjadinya
tindak penyelewengan itu sangat besar
tetapi semua akan kembali pada
sikap dasar semua fihak. Jika semua fihak jujur mau menerima konsekwensi dari
sebuah peraturan maka penyelewengan itu dapat dicegah. Dengan demikian, semua fihak akan merasa
puas. Orang tua berbesar hati menerima
kenyataan di manapun anaknya bersekolah. Sekolah merasa nyaman melaksanakan
proses penerimaan sesuai ketentuan yang berlaku. Masyarakat pendidikanpun
ikhlas berurun rembug membantu penyelenggaraan proses pendidikan yang lebih
baik.
Hal lain yang tidak kalah disorot
dalan proses penerimaan siswa baru adalah segi pembiayaan. Pendidikan,
bagaimanapun tidak bisa lepas dari sarana dan prasarana.Pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah, para orang tua bernafas lega.Program Wajib Belajar
jelas-jelas sangat membantu orang tua dengan diluncurkannya BOS yang jika
dijumlahkan selama pembelajaran tersebut sangatlah besar.Sayangnya, jeda waktu
selama 9 tahun itu tidak dimanfaatkan dengan baik oleh orang tua. Kalau saja
mereka menyisihkan dana selama 108 bulan itu, tentu mereka sedikit bisa
tersenyum ketika memasukkan siswa ke sekolah lanjutan atas lalu tiga tahun kemudian, memasukkan anak mereka ke perguruan tinggi.
BOS yang dikucurkan selama 9 tahun,mau
tidak mau harus menerima kenyataan sebagai kambing hitam, ketika para orang tua
mengeluh tatkala memasukkan anak ke SMA. Mereka terlena, merasa berleha-leha
dengan program sekolah yang gratis selama belajar di jenjang dasar dan
menengah.Ketika anak masuk SMA barulah terasa beban yang sangat berat mereka
rasakan.
Hampir semua sekolah lanjutan atas,
tidak peduli sekolah negeri atau swasta, menawarkan kerjasama dengan orang tua,
berupa sumbangan biaya sebagai persiapan sarana maupun prasarana untuk
keberlangsungan pembelajaran siswa.Hal ini tentu saja dimusyawarahkan terlebih
dahulu dengan komite sebagai wakil
orang tua di sekolah. Meskipun sukarela, bagi fihak yang selama ini berleha,
tetap saja bisa membuat beban yang tidak
bisa dihindari demi kemajuan pendidikan anak tercinta.
Program Penerimaan Siswa Baru selalu
berujung pada kesimpulan mahalnya memasukkan siswa baru ke jenjang yang lebih
tinggi.Ini problema semua orang.Orang tua jelas-jelas harus memenuhi kewajiaban
mereka memberikan pendidikan yang layak.Persekolahanpun dituntut memberikan
layaran maksimal dengan mempersiapkan sarana dan prasarana yang belum
tersedia.Ini sebuah timbal balik yang mau tidak mau harus disepakati bersama.
Jika ditelaah besarnya pembiayaan yang
harus disiapkan orang tua di awal tahun pelajaran, menyusul perlengkapan
pribadi siswa,sangatlah wajar jika masyarakat awam berpendapat bahwa pendidikan
sekarang, mahal. Sayangnya, asumsi ini sering ditujukan pada besarnya biaya
sumbangan pendidikan di awal jenjang pendidikan.
Hal ini bisa disiasati dengan melakukan transparansi penggunaan biaya
sehingga tidak akan ada polemik, pro kontra terhadap sumbangan biaya
pendidikan. Dengan komunikasi yang baik, masyarakat akan memahami bahwa biaya
yang mereka keluarkan itu akan sebanding dengan pendidikan yang akan diperoleh
oleh anak mereka. Tidak akan ada kecemburuan, tidak akan ada prasangka buruk
apalagi jika nantinya, terbukti sekolah memberikan layanan maksimal sesuai yang
ditawarkan kepada orang tua di awal tahun pelajaran.
Bagi sebagian kalangan, berapapun
biaya yang dikeluarkan tidak menjadi masalah.Tetapi untuk kalangan lainnya, ini
masalah besar.Adalah tugas kita bersama mencari solusi terbaik bagi semua
itu.Walaupun ada juga persekolahan yang melalui komitenya, menyamaratakan uang
sumbangan pendidikan tetapi lebih banyak lagi persekolahan yang menyiasati
dengan sumbangan sukarela sesuai dengan kemampuan dan kesannggupan orang tua
dengan tujuan supaya terjadinya subsidi silang.Program ini sebaiknya lebih
dikembangkan bahkan bisa dimulai dari pendidikan di tingkat dasar dan menengah.
Sementara sumbangan dana pendidikan
bisa diukur oleh pendapatan orang tua. Mental dasar memegang peranan penting, hingga semua orang
tua jujur dengan keadaan/ kemampuan ekonominya. Cara ini efektif karena ada
fihak yang dibantu dan ada fihak yang
diberi kesempatan membantu. Cukup efektif, jika belum pada tahap yang lebih
tinggi lagi misalnya dengan program satu
warga mampu menanggung satu pendidikan warga tidak mampu. Cukuplah membantu sampai pada di mana mereka mempunyai keterampilan untuk
memenuhi kebutuhan hidup di masa depan.
Pendidikan adalah hak semua warga
negara maka kewajiban warga negara pula
menyediakan dan membantu kelangsungan pendidikan. Dengan demikian, tidak akan
ada satu warga negarapun yang tidak mendapatkan pendidikan lantaran alasan
klise, masalah ekonomi. Semua fihak
wajib bekerjasama, saling bahu membahu untuk mempertahankan keberlangsungan
pendidikan.Hal ini akan mampu menjawab tantangan terbesar kita hari ini yaitu menyediakan pendidikan yang baik dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. (terbit
Garut Express, Agustus 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar