Rabu, 24 Juli 2013

MENGAWALI JENJANG PENDIDIKAN BARU


MENGAWALI  JENJANG PENDIDIKAN BARU
Oleh: Anne A. Permatasari

            Dalam satu bulan terakhir, penerimaan siswa baru dilaksanakan di setiap jenjang persekolahan. Semua orang tua bahkan pendidik pun merasa  panas dingin.Mereka  cemas jika anak-anak mereka tersisih,baik oleh teknik penerimaan siswa baru yang diberlakukan atau juga karena faktor pembiayaan sehingga tidak mendapatkan kesempatan bersekolah di tempat  yang mereka idamkan.
Demikian pula halnya dengan sekolah penerima siswa baru.Merekapun khawatir jika teknik yang dipergunakan tidak sesuai dengan harapan, serta tidak bisa memberikan layanan terbaik para calon siswa baru.Kerapkali kekecewaan muncul dari berbagai lapisan masyarakat yang meragukan ketepatan teknik atau non teknik sistem penerimaan siswa baru.
Orang tua tentu berkeinginan untuk menyekolahkan anak di sekolah pavorit.Sekolah yang menurut banyak kalangan, mampu memberikan pembelajaran dan pendidikan yang terbaik.Dengan kondisi lingkungan yang menjanjikan, dilihat dari tempat, gedung, rengrengan guru profesional, tenaga kependidikan yang terampil, komite sekolah yang peduli, lingkungan sekolah yang aman, serta alumnus yang berkualitas.Bukan salah orang tua jika berupaya keras anak-anaknya menjebol sekolah tersebut meskipun mereka harus merogoh saku lebih dalam.  Mereka puas dan yakin bahwa sekolah dengan gambaran tersebut, akan mampu memberikan tantangan dan kesempatan pada anak-anak mereka  untuk berkembang.
Pola Penerimaan siswa baru di program sekolah reguler pada tahun ajaran ini terbagi atas jalur akademik dan non akademik/ jalur prestasi sedangkan pada program sekolah RSBI sudah menggunakan tes potensial akademik juga psikotes yang bisa memberikan peluang lebih banyak untuk siswa membuktikan kemampuan.Semua pola penerimaan ini rentan oleh tindak penyelewengan. Jalur akademik yang sejogyanya memiliki nilai akurasi yang tinggi karena  melibatkan semua nilai akademik baik nilai sekolah, nilai akhir, maupun nilai ujian nasional, berpotensi terjadinya manipulasi nilai baik di tingkat jenjang sebelumnya atau pada proses penerimaannya. Jalur non akademik yang merupakan jalan lain memasuki jenjang sekolah barupun ternyata kerapkali menjadikan orang tua hemar-hemirkarena  rentan oleh hal yang sama.  Bahkan pola tes potensial akademik dan psikotespun tetap rentan dengan hal yang sama.
Peluang terjadinya tindak penyelewengan itu sangat besar  tetapi  semua akan kembali pada sikap dasar semua fihak. Jika semua fihak jujur mau menerima konsekwensi dari sebuah peraturan maka penyelewengan itu dapat dicegah.  Dengan demikian, semua fihak akan merasa puas.  Orang tua berbesar hati menerima kenyataan di manapun anaknya bersekolah. Sekolah merasa nyaman melaksanakan proses penerimaan sesuai ketentuan yang berlaku. Masyarakat pendidikanpun ikhlas berurun rembug membantu penyelenggaraan proses pendidikan yang lebih baik.

Hal lain yang tidak kalah disorot dalan proses penerimaan siswa baru adalah segi pembiayaan. Pendidikan, bagaimanapun tidak bisa lepas dari sarana dan prasarana.Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, para orang tua bernafas lega.Program Wajib Belajar jelas-jelas sangat membantu orang tua dengan diluncurkannya BOS yang jika dijumlahkan selama pembelajaran tersebut sangatlah besar.Sayangnya, jeda waktu selama 9 tahun itu tidak dimanfaatkan dengan baik oleh orang tua. Kalau saja mereka menyisihkan dana selama 108 bulan itu, tentu mereka sedikit bisa tersenyum ketika memasukkan siswa ke sekolah lanjutan atas lalu  tiga tahun kemudian, memasukkan anak  mereka ke perguruan tinggi.
BOS yang dikucurkan selama 9 tahun,mau tidak mau harus menerima kenyataan sebagai kambing hitam, ketika para orang tua mengeluh tatkala memasukkan anak ke SMA. Mereka terlena, merasa berleha-leha dengan program sekolah yang gratis selama belajar di jenjang dasar dan menengah.Ketika anak masuk SMA barulah terasa beban yang sangat berat mereka rasakan.
Hampir semua sekolah lanjutan atas, tidak peduli sekolah negeri atau swasta, menawarkan kerjasama dengan orang tua, berupa sumbangan biaya sebagai persiapan sarana maupun prasarana untuk keberlangsungan pembelajaran siswa.Hal ini tentu saja dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan komite sebagai wakil orang tua di sekolah. Meskipun sukarela, bagi fihak yang selama ini berleha, tetap saja bisa membuat beban yang  tidak bisa dihindari demi kemajuan pendidikan anak tercinta.
Program Penerimaan Siswa Baru selalu berujung pada kesimpulan mahalnya memasukkan siswa baru ke jenjang yang lebih tinggi.Ini problema semua orang.Orang tua jelas-jelas harus memenuhi kewajiaban mereka memberikan pendidikan yang layak.Persekolahanpun dituntut memberikan layaran maksimal dengan mempersiapkan sarana dan prasarana yang belum tersedia.Ini sebuah timbal balik yang mau tidak mau harus disepakati bersama.
Jika ditelaah besarnya pembiayaan yang harus disiapkan orang tua di awal tahun pelajaran, menyusul perlengkapan pribadi siswa,sangatlah wajar jika masyarakat awam berpendapat bahwa pendidikan sekarang, mahal. Sayangnya, asumsi ini sering ditujukan pada besarnya biaya sumbangan pendidikan di awal jenjang pendidikan.
Hal ini bisa disiasati dengan  melakukan transparansi penggunaan biaya sehingga tidak akan ada polemik, pro kontra terhadap sumbangan biaya pendidikan. Dengan komunikasi yang baik, masyarakat akan memahami bahwa biaya yang mereka keluarkan itu akan sebanding dengan pendidikan yang akan diperoleh oleh anak mereka. Tidak akan ada kecemburuan, tidak akan ada prasangka buruk apalagi jika nantinya, terbukti sekolah memberikan layanan maksimal sesuai yang ditawarkan kepada orang tua di awal tahun pelajaran.
Bagi sebagian kalangan, berapapun biaya yang dikeluarkan tidak menjadi masalah.Tetapi untuk kalangan lainnya, ini masalah besar.Adalah tugas kita bersama mencari solusi terbaik bagi semua itu.Walaupun ada juga persekolahan yang melalui komitenya, menyamaratakan uang sumbangan pendidikan tetapi lebih banyak lagi persekolahan yang menyiasati dengan sumbangan sukarela sesuai dengan kemampuan dan kesannggupan orang tua dengan tujuan supaya terjadinya subsidi silang.Program ini sebaiknya lebih dikembangkan bahkan bisa dimulai dari pendidikan di tingkat dasar dan menengah.
Sementara sumbangan dana pendidikan bisa diukur oleh pendapatan orang tua. Mental dasar  memegang peranan penting, hingga semua orang tua jujur dengan keadaan/ kemampuan ekonominya. Cara ini efektif karena ada fihak  yang dibantu dan ada fihak yang diberi kesempatan membantu. Cukup efektif, jika belum pada tahap yang lebih tinggi lagi misalnya dengan program satu warga mampu menanggung satu pendidikan warga tidak mampu.  Cukuplah membantu sampai pada  di mana mereka mempunyai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa depan.
Pendidikan adalah hak semua warga negara  maka kewajiban warga negara pula menyediakan dan membantu kelangsungan pendidikan. Dengan demikian, tidak akan ada satu warga negarapun yang tidak mendapatkan pendidikan lantaran alasan klise, masalah ekonomi.  Semua fihak wajib bekerjasama, saling bahu membahu untuk mempertahankan keberlangsungan pendidikan.Hal ini akan mampu menjawab tantangan terbesar kita hari ini yaitu menyediakan pendidikan yang baik dan  terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.  (terbit Garut Express, Agustus 2012)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar