Senin, 18 Maret 2013

Dunia (anak) yang Hilang



Suatu hari, anak sulungku  pulang dari sekolah tidak tepat waktu. Lebih cepat dari biasanya.Terbersit perasaan aneh, ketika sore-sore aku menghabiskan waktu dengan keluarga yang lengkap. Sampai hari Minggu, kembali terjadi peristiwa yang sama . Aku malah merasa lebih aneh ketika kali ini anakku malah menanyakan apa acara keluarga kami hari itu. Perasaan tidak  karuan menggelung di hatiku. Mungkinkah ada sesuatu? Penuh hati-hati  aku menanyakannya dan dengan senyum simpul dia menjawab “ Bosen Bu. Kegiatan sekolah mulu…” Waduh! Anakku yang maniak dengan kegiatan ekskulnya, yang tahan dengan omelan ibunya karena kerap hari Minggupun malah memilih pergi ke sekolah dan mengabaikan acara keluarga yang hanya seminggu sekali, akhirnya mengalami titik jenuh juga?
            Ilustrasi di atas mengantarkan tulisan bahwa betapa beratnya beban yang dipikul anak zaman sekarang.Hubungan dengan keluarga, masyarakat, menjadi terganggu akibat habisnya waktu di sekolah.Sekolah dengan program regular mungkin tidak menghabiskan waktu seperti itu.Tapi anak di program RSBI atau SBI jelas mengalaminya. Jika seorang anak  masuk di jam 07.00 dan keluar pada jam 15.30, disambung dengan kerja kelompok maka anak bisa pulang sekitar jam 16.30. Kadangkala ditambah kegiatan les  yang bisa  membutuhkan waktu sampai Magrib.  Dengan asumsi mandi , makan, sampai jam 18.30, barulah anak selesai melaksanakan kegiatan siang itu.  Jika kondisi ini paten, maka anak laki- laki tidak sempat lagi ke masjid untuk solat Magrib, mengaji sampai Isya. Mengerjakan tugas sampai jam 21.00 atau  jam 22.00 malam. Selepas bangun pagi, solat, mandi, semua anggota keluarga sibuk mempersiapkan diri.Waktu sarapan hanya tersedia beberapa menit saja.Hilang sudah waktu bercengkrama dengan keluarga apalagi bersosialisasi dengan masyarakat.Tidak jarang, anak-anak tidak mengenal tetangganya.Lebih parahnya, hilang sudah masa remaja yang harusnya indah dan menyenangkan.
            Teringat dulu masa sekolah. Jam 12.00 , anak sudah pulang ke rumah, solat ke mesjid, tidur siang, mengerjakan tugas, bermain dengan anak di sekeliling rumah, mengaji sampai waktu  Isya, bercengkrama dengan keluarga sambil menonton TV , tidur lebih cepat sehingga bangunpun bisa lebih cepat. Masihkah hal ini kita temukan di zaman sekarang?
            Dunia anak apalagi remaja adalah dunia yang tidak akan  berulang.  Ada fase-fase yang tidak didapatkan   sesudah masa itu. Pada masa yang  merupakan peralihan antara masa anak dan dewasa tersebut, anak mengalami tahap yang akan menentukan perkembangan di tahap berikutnya. Jika dia gagal, besar kemungkinan akan mempengaruhi keberhasilannya kelak.
            Pada  pada masa remaja, anak akan berproses dalam menguasai beberapa kemampuan, misalnya:
1. Menerima keadaan diri/fisik sendiri. Jika anak mampu menerima keadaan diri sendiri, anak akan memiliki rasa percaya diri. Tidak perduli jika dia bertubuh pendek/terlalu tinggi, gemuk/kurus, berjerawat/berkulit gelap,dsb. Kemampuan mereka menerima dengan ciri khas di tengah perbedaan adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.
2. Mengatasi  emosi.  Pada usia  remaja sering terjadi pergolakan emosi. Anak yang tengah mencari jati diri senantiasa berperilaku bertentangan dengan lingkungan yang dirasanya membelenggu .Ini kerapkali disertai dengan pemberontakan yang sebenarnya tidak separah itu.Anak hanya ingin dimengerti, bahwa dia masih mencari mana sikap hidup yang tepat.  Anak tidak ingin dibelenggu, tapi jika diberi kebebasanpun, anak akan merasa hampa tanpa arah.
3.Bergaul  antarlawan jenis.  Kemampuan anak dalam bergaul dengan lawan jenis, kerap diartikan lain. Usia puber diartikan berpacaran, membuat komitmen dini yang sebenarnya tidak dimengerti arahnya. Orang tuapun kadang menyikapinya dengan berlebih, bahwa pergaulan dengan lawan jenis itu berbahaya.  Sebenarnya tidaklah demikian, pergaulan dengan lawan jenis, akan menguatkan gender anak. Belajar memahami sikap dirinya sendiri dan menghormati lawan jenisnya.
4. Memahami potensi pribadi.Pada umumnya, banyak remaja yang belum mengetahui kemampuan dirinya. Ini dapat dimaklumi, karena usia mereka masih belia. Pada usia ini, remaja malah enggan menyebutkan apa yang menjadi minat dan cita-citanya. Lebih mudah mereka menemukan dan mengeluhkan kekurangan yang dimilikinya.
5. Menguasai nilai dan norma.  Pemahaman remaja tentang nilai dan norma bisa mereka dapat melalui keterlibatannya dalam pergaulan dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Bukan hal yang mudah untuk remaja mencapai tahap-tahap itu.Mereka membutuhkan dukungan dari semua pihak.Sementara itu, banyak faktor yang menjadi kendala dalam pencapaian kemampuan tersebut.  Hurlock (1973) merincinya dengan:
1. Masalah pribadi (berhubungan dengan fisik, emosi, situasi dan kondisi di rumah, sekolah, atau likungan pergaulan)
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua. 
3. Tuntutan peran akibat perubahan sosial yang cepat dan membingungkan sehingga mereka dituntut berperan dewasa sebelum waktunya. 
4. Tuntutan  era teknologi maju membutuhkan orang yang sangat kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi tersebut. Ketidakmampuan remaja mengikuti perkembangan teknologi yang demikian cepat dapat membuat mereka merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan mengalami gangguan emosional.
6. berkembangnya kapasitas intelektual. Stres dan harapan baru membuuat remaja mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku.Tekanan, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan .
            Untuk memahami, mengalami, tahap perkembangan dan menaklukkan kendala-kendala, anak membutuhkan waktu baik secara pribadi maupun dengan cara berinteraksi dengan orang terdekat (keluarga,teman sebaya, dan lingkungan ).  Mampukah anak mengelola waktu seefisien itu? Ketika anak bergulat mencari jati diri, membentuk identitas dengan cara mengadopsi  tokoh idola  untuk membentuk pribadi? Sekedar tokoh selebriti yang bahkan hanya dikenal cangkangnya, memah mudah untuk mereka.Tetapi memilih tokoh yang mumpuni untuk dijadikan teladan sangat sulit.Ini yang sebenarnya ditawarkan orang-orang terdekat tadi.
            Beranjak dari pengetahuan di atas, sudah selayaknya kita merasa kasihan pada anak-anak kita.Tuntutan teknologi sangat tinggi, beban untuk berhasil mereka pikul, tapi mereka tidak punya waktu untuk mewujudkannya.Dalam beberapa kasus, banyak siswa yang berhasil mengelola waktunya, tapi kebanyakan tidak.Mereka memiliki kepenatan tubuh dan jiwa.Wajar jika banyak dari mereka menghilangkan kejenuhan dengan melajukan motor kencang-kencang, kebut-kebutan. Kerapkali dalam kondisi capek dan penat, bersinggungan di jalan raya bisa berujung pada perselisihan. Mereka tidak terbiasa bersosialisasi face to face  yang mengajarkan mereka tentang nilai hidup dengan cara berbagi.  Mereka lebih terbiasa hanya “bergaul” lewat internet sembari mengerjakan tugas, atau melalui permainan  gameon line.
            Inilah yang harus kita sadari bersama-sama, dalam kapasitas kita masing-masing baik sebagai penyelenggara pendidikan formal, orang tua, maupun masyarakat.  Jika kita bekerjasama, bukan mustahil jika kita mampu membentuk generasi yang kita idamkan: manusia yang bertaqwa,bermental baja, berkemauan keras dan menguasai norma. Selanjutnya akan mampu membentuk komunitas yang aman, nyaman, dan sejahtera.
            Penyelenggara pendidikan tetap pada program yang dicanangkan, dengan memperhatikan pengelolaan yang efektif dan efisien.Jumlah waktu tidak menjamin keberhasilan siswa dalam menguasai akademiknya.Tapi pemanfaatnyalah yang lebih utama. Mempermudah tugas anak hingga anak yang sudah menghabiskan banyak waktu di sekolah, tidak lagi dibebani tugas yang menumpuk .Penggunaan waktu di sekolah harus mampu menjadi jawaban/ menjadi pengganti les tambahan.Sisihkanlah waktu untuk anak menikmati hidupnya sebagai bagian dari sebuah keluarga dan masyarakat.
            Masyarakat selayaknya kembali “menarik dan memposisikan” anak di masyarakat.Anak-anak sekarang merasa tidak punya tempat, mereka seolah telah dibatasi sebagai anggota masyarakat. Tidak ada keakraban, melalui main bersama, mengaji bersama, kerjabakti, klub olahraga yang dulu sukses di era 70-80 an melalui program karang taruna.Kemana semua itu sekarang?
Orang tua sudah selayaknya berlapang dada jika mau memahami kepenatan anak-anak kita. Yang perlu dipertahankan adalah kontrol agar anak tidak melupakan limit waktu sehingga mengurangi jam tidur  dan besoknya mengantuk di sekolah atau nyleneh dalam  menggunakan jaringan internetnya sehingga menemukan blog-blog  yang “menghawatirkan”.
Remaja diharapkan lebih objektif dalam mengelola waktu.Usia yang rentan oleh banyak pengaruh buruk memang harus disiasati dengan bijak. Teknologi memang menuntut kita untuk bersaing di era globalisasi ini. Tanpa kerja keras, kalian tidak akan mampu mengimbanginya. Menghabiskan waktu di sekolah untuk “menjaga diri” dari pengaruh negatif  pergaulan di luar sekolah memang baik. Tetapi belajar menjadi anggota masyarakatpun lebih baik lagi dan itu harus dimulai dengan menjadi anggota keluarga yang peduli dengan komunikasi antaranggota keluarga.
Dengan memahami kebersamaan, diharapkan para orangtua, pendidik, masyarakat, mampu mengarahkan remaja menghadapi masa-masa sulitnya  sehingga bila mereka dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya mereka akan tumbuh dewasa dengan paripurna.

            Menyelami semua itu, akhirnya saya membuat komitmen sederhana.“ Nak, orang tua  tahu bahwa kalian butuh kebebasan tapi orang tua butuh jaminan, bahwa dalam kebebasan itu, kalian  aman. ” Dengan komitmen  itu, sekarang saya tidak lagi khawatir ketika anak saya berada seharian penuh di luar rumah. Saya memberinya kepercayaan bahwa dia akan bisa menjaga diri. Sembari selalu percaya bahwa Allah-lah yang mahamenjaga. ( Kandaga: Maret 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar