(Menenggarai dampak negatif tayangan televisi )
Bukan
berkehendak menjegal laju teknologi apalagi melecehkan fungsinya sebagai alat
informasi yang selalu actual bahkan terlalu actual, sehingga kita sebagai
penikmatnya belum terbisasa mengikuti santapan yang mengalir begitu cepat.
Laju informasi yang kita dapat dari
televisi berkecenderungan memberi info pasif, sekedar perkembangan berita
belaka.Dari info itu kita tahu bahwa telah terjadi ini dan itu. Berita bahwa
pemerintah menaikkan harga BBM, pertengkaran di suatu tubuh organisasi ,
diskusi yang menegangkan urat syaraf di DPR yang berbuntut saling teriak,
mencela,mengejek, bahkan saling pukul, atau tindak arogansi suatu kelompok
dalam suatu aksi demo yang sebenarnya bisa dilakukan di atas sebuah meja.
Yang terparah adalah info criminal
dikupas habis, mulai dari alasan,proses,akibat, yang tanpa disadari telah
membenarkan suatu tindak criminal. Tentu saja, pemilik program tidak bertujuan
demikian tetapi menyadarkan masyarakat untuk waspada.Tapi kupasan sejauh itu
srepertinya akan lebih tepat untuk konsumsi orang tertentu (psikiater, polisi,
dan orang dewasa pada umumnya) bukan untuk semua kalangan.Akan jauh lebih baik
jika sebagian dibahas pula sanksi yang diterima pelaku, dengan proses peradilan
yang tegas,Insya Allah akan membuat
sebuah niat jahat sekecil apapun menciut dan mati,sehingga kasus tidak
menggantung begitu saja.
Jika melihat paparan pendek seperti
itu,so what? Apa sebenarnya yang kita
harapkan dari fungsi informasi itu? Sadar atau tidak, itulah sebenarnya
pendidikan terselubung untuk generasi muda anak-anak kita. Lambat laun, etika
dan moral mereka terkikis habis.pendidikan apa yang mereka sumbangkan? Jika
dari fungsi informasi saja sudah separah itu, bagaimana dengan fungsi
hiburannya?Adakah yang memberikan sedikit saja pendidikan dari sebuah program
hiburan?
Subhanalloh! betul-betul kita wajib
memejamkan mata dan menutup telinga rapat-rapat.bagaimana tidak? Setiap hari
bahkan detik,tidak terasa kita menikmati pemerosotan moral yang tergelar di
hadapan kita, bahkan di tempat yang menurut kita paling aman, yaitu rumah.
Persoalan ini tidak mudah, karena
melalui televise kita telah membuka lebar-lebar jalan terjadinya dekadensi
moral pada “tubuh” sendiri. Lihat saja akibat yang timbul dari
tayangan-tayangan terutama sinetron anak. Ini menarik dan tak akan habisnya
jika kita amati.
Beberapa fenomena bisa kita
jumpa,ketika berhadapan dengan tayangan seronok yang menampilkan “pa-da”. Kita
lihat bagaimana para penyaji dengan bangga berkiprah di sana. Dengan senyum
yang Wallohualam tidak kita tahu
maknanya.Mereka berjingkrak seperti cacing kepanasan. Para artis tetap
membanggakan diri meski ‘Bapaknya’ telah berwanti-wanti untuk tidak ber’udel
ria’, berlomba memperlihatkan mulus dan datarnya perut mereka.Masya Alloh,ini diikuti penikmat sajian.
Dan tak jarang di kota sekecil kitapun,ditemui belia-belia berpenampilan
seperti itu.
Fenomena ‘hantu’ yang mengisi hampir
seluruh sinetron,membuat anak lebih mempercayai ‘kekuatan gaib’ selain Allah.
Mereka lebih percaya bahwa “ bidadari, peri, goliath,dsb” bisa lebih menjawab
dan memecahkan kesulitan appun yang mereka hadapi secara instan,tanpa ada usaha
lain, selain keterikatan batin lantaran utang budi, kepahitan hidup, sampai hal
lain yang jauh untuk bisa dimengerti logika.
Fenomena “permusuhan/persaingan”
dimulai dengan persaingan yang sebenarnya kecil tetapi diada-adakan sedemikian
rupa sehingga menjurus ke arah kejahatan yang sebenarnya terlalu dipaksakan
pada pikiran anak.Kita sebut saja tokoh antagonis dalam sinetron
“Bidadari,Ratapan Anak Tiri, Bawang Merah dan Bawang Putih,dsb”. Betapa
piawainya mereka menyusun strategi jahat bukan hanya licik, milik orang dewasa.
Dengan gaya memelototkan mata, mencibir, atau gerak ubuh yang Audzubillah
menyebalkan.Ini digambarkan pada semua tingkatan,mulai TK sampai SMA, atau ada
lagi yang luput?
Fenomena lain adalah “perusakan
hubungan keluarga”.Citra yang sudah membaik antara anak-ibu tiri-saudara
tiri,selepas film “Ratapan Anak Tiri”-nya Faradilla Sandi,diutak-atik lagi
sehingga mencuat lagi bagaimana kejamnya ibu tiri, dan sekarang ditambah lagi
dengan persekutuan saudara tiri. Bagaimana teganya sang ibu mengajak anaknya
melakukan kejahatan seperti itu? Ini bukan tindakan yang terpuji walaupn dalam
beberapa kasus pada kenyataannya mungkin terjadi.Tapi pada beberapa kasus
lainnya mendapat status sebagai ‘ibu tiri’ bukanlah suatu keinginan. Selain
itu, apa yang menjadi misi jika semua berlandaskan pada perebutan harta atau
pada pembenaran rasa dendam?
Bukan hanya mata tapi telingapun
teracuni pula, istilah “ Lu,gua, brengsek, sialan, anak sial, anak haram…”
adalah menu wajib sinetron. Coba cari sajian sinetron yang menggunakan kata
ganti yang rendah hati “saya, engkau,kalian…”, itu bisa dihitung dengan jari.
Sekarang dalam kehidupan
sehari-hari, tidak jarang kita temukan siswi-siswi cantik, belia, berjilbab
yang seharusnya menunjukkan sikap Islami yang beretika, dengan mudah menyebut
kata-kata “maneh (kamu), urang(saya)” dengan gaya yang terbiasa.Jarang kita
lihat tampilan ‘elegant’ seorang wanita muda yang memikat semua orang.
Lalu mau seperti apa generasi
penikmatnya dibentuk? Seberapa jauh semua pihak menyadari bahwa semua itu
merupakan pengajaran terselubung? Sebuah proses yang mengikis iman, kemurnian
hati, serta keindahan tata? Sadarkah bahwa yang akan terbentuk adalah “generasi
pemimpi yang ambruk?”
Mata dan telinga adalah jendela,
jika terbuka lebar apapun bisa masuk ke dalam jiwa.lalu haruskah kita
menutupnya erat lantaran takut belaka?
Tentu tidak! Kita tidak bisa menyekat lajunya teknologi dan iformasi positif
untuk kemajuan. Yang perlu kita siapkan adalah ‘saringan’ .Anak-anak kita sekarang tidak mempan dengan
sekedar larangan bahkan nasehat sekalipun.
Jadi pilahlah tayangan yang
tepat.Jika dalam kondisi tertentu tidak dapat kita lakukan, bimbing dan berikan
pengarahan untuk anak-anak kita.Tanamkan pengertian bahwa tindakan apapun
mempunyai akibat baik dan buruk.Jika fundamen yang kita bangun di rumah berupa
perilaku yang baik, etika yang tepat, dan agama sebagai dasar yang kuat dan
sudah mendarah daging, kita tidak perlu takut dan ragu melepaskan anak-anak ke
lingkungan yang lebih luas.Kita tidak bisa selamanya melindungi mereka.Mereka
adalah sosok yang punya kehidupan sendiri.
Upaya selanjutnya kita berharap,
mengajak, dam menghimbau siapaun penyaji (pengide,pembuat,pelakon)
tayangan-tayangan yang dimaksud untuk peduli, ikut serta mendidik sesuai
kapasitasnya. Pendidikan adalah kewajiban semua fihak, bukan hanya guru dan
orang tua semata, masyarakat bisa berperan lebih kuat. Percayalah dengan
menyajikan tayangan-tayangan mendidik,
anda tidak akan kehilangan profesi, nilai jual, atau apapun.sebaliknya anda
ikut menenamkan benih yang baik. Pada akhirnya biarkan anak-anak kita bergelut
dan bertahan sendiri, itulah kehidupan yang mau tidak mau harus mereka hadapi.
Langkah awal kita sekarang hanya
satu yaitu menjadi contoh, lalu pilihlah program yang tepat, bermoral, yang
terselip di antara jebakan-jebakan itu.selangkah saja merupakan usaha terindah
untuk menyelamatkan generasi muda kita,mutiara hati kita di masa depan--
anak-anak kita. ( Garoet Pos,7-13
april 2005)
*********************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar