Senin, 18 Maret 2013

Menyiasati trauma UJIAN (untuk kejujuran pendidikan) NASIONAL





Saya terkesan oleh lontaran pendapat anak-anak sekolah menengah yang akan menghadapi ujian nasional. Dengan bahasanya yang sederhana, jujur, santai ,dan penuh percaya diri, mereka mengatakan siap. Apalagi katanya, kelulusan sekarang tidak hanya berdasarkan nilai UN tapi juga diakumulasikan dengan nilai semester.Nah, ini sebuah simpulan yang bagus.Lalu, sebenarnya siapa sih yang resah dengan adanya UN?
            Hanya tinggal 2-3 bulan lagi, UN kembali digelar. Dunia pendidikan kembali dibangunkan, pendidik sebagai penanggungjawab proses pendidikan, mulai disibukan dengan memberikan pelayanan lebih, baik berupa jam pelajaran tambahan, pemilahan materi sesuai SKL ( dan mudah-mudahan tidak mengabaikan materi lainnya), Orang tua pun mulai mendorong  anak mengikuti beragam bimbel yang menjamur, bahkan menyiapkan guru private.
            Selama ini, UN dibahas habis-habisan, menelurkan sebuah asumsi betapa UN adalah “sesuatu” yang luar biasa, hingga semua fihak bersumbang pendapat.Pro kontra lazim kita dengar.Padahal jika disederhanakan, UN adalah hal biasa, sebuah pengukuran hasil belajar diakhir jenjang pendidikan yang mau tidak mau harus diikuti semua siswa. Hal yang menjadikannya terasa luar biasa adalah karena hasil UN pernah menjadi penentu utama kelulusan, menjadi modal utama masuk jenjang persekolahan berikutnya, menjadi indikator keberhasilan departemen/kementrian  yang menaunginya, menjadi target peringkat kemampuan kabupaten bahkan provinsi dalam mengelola daerah,dan sebagainya.
            Dalam satu tahun terakhir, paradigma ini mengalami perubahan pesat. Hasil UN, berendah hati, berbagi posisi penentu kelulusan dengan nilai semester sebelumnya, sehingga proses pendidikan mengalami kenaikan status. Proses pendidikan mengalami pengakuan masyarakat dan siswa sebagai sebuah mata rantai penentu kelulusan. Sebuah upaya yang membuat “luka hati” guru terobati.
            Kini, UN kembali tiba dengan suatu harapan yang lebih baik lagi.Suatu hal yang pasti diidamkan oleh semua fihak yang menginginkan sebuah “nilai kehidupan”. Harapan yang diembankan pada  upaya siswa dalam meraih nilai UN dengan kemampuan sendiri. Semua pihak berharap agar perolehan nilai hasil UN murni didapat dari hasil kerja keras siswa, tanpa ada kerjasama antarsiswa, tanpa adanya informasi jawaban-jawaban UN yang beredar melalui SMS dan seringkali menyesatkan, atau mungkin tanpa adanya  up grade nilai demi membantu kelulusan siswa.
Semua upaya itu kelihatannya seperti menguntungkan siswa, padahal sebaliknya menyesatkan dan merugikan siswa.Siswa secara tidak sadar digiring pada pembodohan nilai kehidupan mereka.Mereka diarahkan pada pencapaian nilai, bukan pengukuran kemampuan.Nah bagaimana mereka bisa belajar? Mereka tidak dihadapkan pada kenyataan dan bagaimana cara mencapai keberhasilan itu.  Tanpa tindakan pembodohan  tadi, keindahan terhadap pencapaian hasil itu, akan terasa lebih berarti. Nilai keseharian siswa dalam bentuk nilai semester bersanding indah dengan nilai UN hasil usaha sendiri, tanpa rekayasa apapun sebagai buah proses pendidikan, bukan lagi mimpi.
            Ini bukan hal yang mustahil jika semua fihak yang terlibat mau jujur mengakui keberhasilan dan kegagalan. Walaupun ini matarantai yang sulit ditentukan awalnya, jika semua bergerak, tiktik tumpu pun akan ditemukan. Dari ujung tombak (guru) menyiapkan mental yang kuat dan kokoh, membangun pribadi siswa yang siap menerima hasil pembelajaran mereka.Dari masyarakat yang senantiasa memberikan dukungan moral agar berani membuka mata, bahwa pemahaman mereka terhadap proses pendidikan dan urun rembug mereka terhadap pendidikan masih rendah.  Dari pemangku kebijakan (pemerintah) dengan melunakkan indikasi keberhasilan pendidikan adalah kelulusan siswa 100 persen lalu menyikapi hasil UN sebagai umpan balik kebijakan pendidikan di daerahnya.
Upaya sederhana ini akan membantu menyembuhkan masyarakat pendidikan untuk mengatasi trauma menghadapi UN. Siswa disadarkan bahwa untuk mencapai nilai UN yang  baik (bagus) dan benar (jujur), diperlukan kerja keras dan mental yang bersih. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, lalu nikmati hidup.Toh kalian sudah berproses.  Pertempuran bukan terjadi hanya pada hari UN dilaksanakan tapi nanti : pada saat hidup menuntut kalian mengatasi masalah-masalah yang timbul , saat itu bekal-bekal  yang kalian siapkan sejak TK, SMP, SMA, PT, akan kalian perlukan. Hasil pendidikan kalianpun  tidak diukur dalam hidup yang kelak  mungkin sukses atau tidak,  tapi diukur oleh kemampuan kalian menjadi insan yang bermanfaat.
            Untuk masyarakat umumnya, berperanlah dalam membentuk bunga bangsa yang tidak hanya handal dalam akademik tapi juga mentalnya.Jangan bodohi mereka dengan iming-iming nilai tinggi tanpa kemampuan mencapainya. Orang tua diharapkan jangan berlebihan dalam menanamkan sikap kepada anak untuk  menghadapi UN sebagai hal yang luar biasa. Giringlah anak untuk memahami bahwa UN adalah proses yang memang harus dilalui. Biarkan anak menjalani keaktifannya sehari-hari, jangan terlalu membatasi waktu hanya untuk belajar. Belajar tidak hanya harus berada di depan meja. Anak-anak belajar dari kehidupannya.
Kita harus memahami anak secara universal.Jika   kita telah mengenalkan tanggung jawab kepada mereka, percayalah dalam lubuk hatinya, hal itu telah terbentuk.Berilah mereka tanggungjawab dan kewenangan mencapainya.Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang sangat sempurna. Walaupun tidak ada keterbatasan kemampuan otak dalam menyerap  dan menyimpan data yang tidak terhitung jumlahnya, kemampuan  stamina pun perlu dipertimbangkan dan anak sendirilah yang mampu memanagenya dengan tepat.
Pemangku kebijakan adalah penyedia landasan utama dalam semua proses itu. Kebijakan yang memihak dan berpijak pada kebutuhan siswa dan masyarakat dipastikan akan menunjang keberhasilan proses pendidikan.
Dengan dukungan semua fihak, anak akan enjoy menghadapi UN sebagai proses penentuan nilai hasil belajar, memungkinkan terjadinya proses pelaksanaan UN yang bersih . Dan cita-cita kita membentuk pribadi siswa yang berkarakter  pun akan terwujud. Insya Allah.

 (Garut Express. 13 Feb 2012- 18 Feb 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar