Saya terkesan
oleh lontaran pendapat anak-anak sekolah menengah yang akan menghadapi ujian
nasional. Dengan bahasanya yang sederhana, jujur, santai ,dan penuh percaya
diri, mereka mengatakan siap. Apalagi katanya, kelulusan sekarang tidak hanya
berdasarkan nilai UN tapi juga diakumulasikan dengan nilai semester.Nah, ini sebuah simpulan yang
bagus.Lalu, sebenarnya siapa sih yang
resah dengan adanya UN?
Hanya tinggal 2-3 bulan lagi, UN
kembali digelar. Dunia pendidikan kembali dibangunkan, pendidik sebagai
penanggungjawab proses pendidikan, mulai disibukan dengan memberikan pelayanan
lebih, baik berupa jam pelajaran tambahan, pemilahan materi sesuai SKL ( dan
mudah-mudahan tidak mengabaikan materi lainnya), Orang tua pun mulai
mendorong anak mengikuti beragam bimbel
yang menjamur, bahkan menyiapkan guru private.
Selama ini, UN dibahas
habis-habisan, menelurkan sebuah asumsi betapa UN adalah “sesuatu” yang luar
biasa, hingga semua fihak bersumbang pendapat.Pro kontra lazim kita
dengar.Padahal jika disederhanakan, UN adalah hal biasa, sebuah pengukuran
hasil belajar diakhir jenjang pendidikan yang mau tidak mau harus diikuti semua
siswa. Hal yang menjadikannya terasa luar biasa adalah karena hasil UN pernah
menjadi penentu utama kelulusan, menjadi modal utama masuk jenjang persekolahan
berikutnya, menjadi indikator keberhasilan departemen/kementrian yang menaunginya, menjadi target peringkat
kemampuan kabupaten bahkan provinsi dalam mengelola daerah,dan sebagainya.
Dalam satu tahun terakhir, paradigma
ini mengalami perubahan pesat. Hasil UN, berendah hati, berbagi posisi penentu
kelulusan dengan nilai semester sebelumnya, sehingga proses pendidikan
mengalami kenaikan status. Proses pendidikan mengalami pengakuan masyarakat dan
siswa sebagai sebuah mata rantai penentu kelulusan. Sebuah upaya yang membuat
“luka hati” guru terobati.
Kini, UN kembali tiba dengan suatu
harapan yang lebih baik lagi.Suatu hal yang pasti diidamkan oleh semua fihak
yang menginginkan sebuah “nilai kehidupan”. Harapan yang diembankan pada upaya siswa dalam meraih nilai UN dengan
kemampuan sendiri. Semua pihak berharap agar perolehan nilai hasil UN murni
didapat dari hasil kerja keras siswa, tanpa ada kerjasama antarsiswa, tanpa
adanya informasi jawaban-jawaban UN yang beredar melalui SMS dan seringkali
menyesatkan, atau mungkin tanpa adanya up grade nilai demi membantu kelulusan
siswa.
Semua upaya itu kelihatannya seperti menguntungkan
siswa, padahal sebaliknya menyesatkan dan merugikan siswa.Siswa secara tidak
sadar digiring pada pembodohan nilai kehidupan mereka.Mereka diarahkan pada
pencapaian nilai, bukan pengukuran kemampuan.Nah bagaimana mereka bisa belajar? Mereka tidak dihadapkan pada
kenyataan dan bagaimana cara mencapai keberhasilan itu. Tanpa tindakan pembodohan tadi, keindahan terhadap pencapaian hasil
itu, akan terasa lebih berarti. Nilai keseharian siswa dalam bentuk nilai
semester bersanding indah dengan nilai UN hasil usaha sendiri, tanpa rekayasa
apapun sebagai buah proses pendidikan, bukan lagi mimpi.
Ini bukan hal yang mustahil jika
semua fihak yang terlibat mau jujur mengakui keberhasilan dan kegagalan.
Walaupun ini matarantai yang sulit ditentukan awalnya, jika semua bergerak,
tiktik tumpu pun akan ditemukan. Dari
ujung tombak (guru) menyiapkan mental yang kuat dan kokoh, membangun
pribadi siswa yang siap menerima hasil pembelajaran mereka.Dari masyarakat yang senantiasa memberikan dukungan moral agar
berani membuka mata, bahwa pemahaman mereka terhadap proses pendidikan dan urun
rembug mereka terhadap pendidikan masih rendah.
Dari pemangku kebijakan (pemerintah)
dengan melunakkan indikasi keberhasilan pendidikan adalah kelulusan siswa 100
persen lalu menyikapi hasil UN sebagai umpan balik kebijakan pendidikan di
daerahnya.
Upaya sederhana ini akan membantu menyembuhkan
masyarakat pendidikan untuk mengatasi trauma menghadapi UN. Siswa disadarkan
bahwa untuk mencapai nilai UN yang baik
(bagus) dan benar (jujur), diperlukan kerja keras dan mental yang bersih.
Belajarlah dengan sungguh-sungguh, lalu nikmati hidup.Toh kalian sudah berproses.
Pertempuran bukan terjadi hanya pada hari UN dilaksanakan tapi nanti :
pada saat hidup menuntut kalian mengatasi masalah-masalah yang timbul , saat
itu bekal-bekal yang kalian siapkan
sejak TK, SMP, SMA, PT, akan kalian perlukan. Hasil pendidikan kalianpun tidak diukur dalam hidup yang kelak mungkin sukses atau tidak, tapi diukur oleh kemampuan kalian menjadi
insan yang bermanfaat.
Untuk masyarakat umumnya,
berperanlah dalam membentuk bunga bangsa yang tidak hanya handal dalam akademik
tapi juga mentalnya.Jangan bodohi mereka dengan iming-iming nilai tinggi tanpa
kemampuan mencapainya. Orang tua diharapkan jangan berlebihan dalam menanamkan
sikap kepada anak untuk menghadapi UN
sebagai hal yang luar biasa. Giringlah anak untuk memahami bahwa UN adalah
proses yang memang harus dilalui. Biarkan anak menjalani keaktifannya
sehari-hari, jangan terlalu membatasi waktu hanya untuk belajar. Belajar tidak
hanya harus berada di depan meja. Anak-anak belajar dari kehidupannya.
Kita harus memahami anak secara universal.Jika kita telah mengenalkan tanggung jawab kepada
mereka, percayalah dalam lubuk hatinya, hal itu telah terbentuk.Berilah mereka
tanggungjawab dan kewenangan mencapainya.Allah menciptakan manusia sebagai
mahluk yang sangat sempurna. Walaupun tidak ada keterbatasan kemampuan otak
dalam menyerap dan menyimpan data yang
tidak terhitung jumlahnya, kemampuan
stamina pun perlu dipertimbangkan dan anak sendirilah yang mampu memanagenya dengan tepat.
Pemangku kebijakan adalah penyedia landasan utama
dalam semua proses itu. Kebijakan yang memihak dan berpijak pada kebutuhan
siswa dan masyarakat dipastikan akan menunjang keberhasilan proses pendidikan.
Dengan dukungan semua fihak, anak akan enjoy menghadapi UN sebagai proses
penentuan nilai hasil belajar, memungkinkan terjadinya proses pelaksanaan UN
yang bersih . Dan cita-cita kita membentuk pribadi siswa yang berkarakter pun akan terwujud. Insya Allah.
(Garut Express. 13 Feb 2012- 18 Feb
2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar