Entah (2)
Petang menghilang saat dia mengantarku ke depan teras rumah bundaku. Sepanjang
jalan, hampir tak ada kata, tak ada genggam, apalagi pelukan. Saling menduga.
" Kau akan tinggal?" tanyanya lirih.
Aku kehilangan kata, menatap mata yang tak pernah bisa kulupa. Kilat matanya yang kini menghujam, memaksa dan menyimpan asa.
" Tinggallah...,” pintanya.
" Tinggallah ... untukku!" suaranya bergetar.
Sekali ini, untuk yang ketiga kalinya, "tinggal" memiliki banyak makna.
Ah... andai dulu.
"Tidak!" kataku.
"Aku tak memiliki harapan untuk mencintaimu, ya ?" dia mendesakku.
Ah... andai dulu.
Aku menatap matanya yang menghampa.
Tak bergeming bahkan untuk mengulurkan tangan.
Setia tergenggam di dalamnya.
" Kau akan tinggal?" tanyanya lirih.
Aku kehilangan kata, menatap mata yang tak pernah bisa kulupa. Kilat matanya yang kini menghujam, memaksa dan menyimpan asa.
" Tinggallah...,” pintanya.
" Tinggallah ... untukku!" suaranya bergetar.
Sekali ini, untuk yang ketiga kalinya, "tinggal" memiliki banyak makna.
Ah... andai dulu.
"Tidak!" kataku.
"Aku tak memiliki harapan untuk mencintaimu, ya ?" dia mendesakku.
Ah... andai dulu.
Aku menatap matanya yang menghampa.
Tak bergeming bahkan untuk mengulurkan tangan.
Setia tergenggam di dalamnya.
Cukup! Sekali saja seumur hidupku. Aku menatapnya dengan kepedihan nyata.
" Kau boleh mencintaiku dengan pengertian dan persepsi yang berbeda!" ucapku pelan.
Bumi terdiam dalam denting sunyi ketika aku berbalik menyembunyikan mataku.
Sungguh, aku tak mau menatap ribuan gemintang meluruh di matanya (050216).
" Kau boleh mencintaiku dengan pengertian dan persepsi yang berbeda!" ucapku pelan.
Bumi terdiam dalam denting sunyi ketika aku berbalik menyembunyikan mataku.
Sungguh, aku tak mau menatap ribuan gemintang meluruh di matanya (050216).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar