Sabtu, 19 November 2016

Fiksi-Anne

FIKSI 1

Entah (1)

   " Katakan: tinggallah!" bisik hatiku menatap sorot matanya yang hampa. Cukup sedetik bagiku untuk memutuskan. Beringin kami depan danau itu mematung, menjadi saksi.
     Apa yang bisa kuharapkan dari masa itu? Bersama di masa kecil, bersekolah, mengaji bersama, bermain, menyemai benih- benih kehidupan. Aku sudah hafal dengan semua liku hidupnya. Sebatang kara dan bertumbuh di pesantren kecil kakekku. Apa yang menjadi tuju hidupnya? Selain sebuah rumah nyaman yang ingin ditinggali bersama istri dan anak-anaknya, kelak? Itu mimpinya. Yang lalu kutahu,  dia berusaha keras, mendapat beasiswa di tiap tingkat bahkan setelah bekerja di perusahaan besar.
    Itu hari terakhir kami bertemu. Aku memutuskan untuk bertanya, di manakah letak aku di masa depannya. Dia membisu ketika aku menyebutkan untuk pergi meninggalkan semua kenangan kecil sepanjang hidup dengannya.
   Keluargaku tlah memilihkan masa depanku. Aku akan menanyakannya, barangkali dia akan menghalangiku.
Tapi tidak! Sebuah alasan yang tak bisa kumengerti harus kuterima. Apa yang bisa memutuskan sebuah rasa bahkan sekedar kasta?

                                **************

    Aku terlena dengan dunia yang kusetujui. Terjebak oleh rutinitas sepanjang hari. Tak ada yang kusesali. Semua begitu indah. Aku terpenjara di dalamnya. Berpuluh purnama melewati malamku. Sampai akhirnya, aku tahu: aku tak bahagia.

                                *************

     Siang itu, dengan kepongahan yang tak lagi kumiliki, aku mengayun langkah ke bangku di bawah beringin yang masih rimbun. Tak ada yang berubah. Juga bangku kayu yang biasa ku duduki. Sosok itu terkejut melihatku. Menatap ku tajam.    
     Sekali inilah. Seumur hidupku, aku lihat kilatan di matanya.
" De...!" serunya.
Entah lembut, entah keras.
Entah harap, entah patah.
Entah bahagia, entah duka.
Aku tak tahu lagi.
    Yang ku yakin, tangisku meruah sepanjang petang itu
 ( 030216).






























Tidak ada komentar:

Posting Komentar